Kejatuhan Pasar Saham 2020 karena Pandemik Virus Corona, Portofolio Investasi Merosot Lebih dari 50% 😵, Apa Pelajaran yang Bisa Didapatkan?
Sepanjang semester pertama 2019 saya cukup antusias melihat pergerakan harga saham. Walaupun IHSG mengalami sideways sepanjang momen tersebut, namun saham perbankan tetap menguat signifikan. Saham yang saya incar yaitu BBRI telah menguat 44% dari pertengahan 2018 (2.900 an) hingga pertengahan 2019 (4.200 an). Sebagai investor baru saya sangat tergiur. Apalagi saham ini mempunyai kinerja yang bagus seperti ROE yang tinggi diatas 20%, peningkatan ekuitas yang lumayan tinggi dari tahun ke tahun, serta dengan PER yang tidak terlalu tinggi dibandingkan BBCA. Saya juga tertarik membeli saham BBNI untuk trading karena telah mengalami penurunan sebanyak -25% dari harga tertinggi nya 9.900 pada 29 Desember 2017.
Agustus 2019 Saya mulai terjun ke pasar dengan modal dari tabung an saya sebanyak Rp 9.500.000 an. Saya cukup grasa grusu untuk masuk pasar, sebagian besar modal yang saya punya saya pergunakan untuk membeli saham. Saya membeli BBRI dan BBNI karena setelah melakukan analisa fundamental dengan metode PER dan PBV. Rata-rata Harga wajar BBNI yaitu Rp 13.214 (Harga pasar saat itu Rp 7.900 an), sedangkan BBRI Rp 3876 (Harga pasar saat itu Rp 4200).
Dengan menggunakan analisis teknikal saya juga yakin bahwa saham-saham ini akan menguat karena berdasarkan indikator RSI, harga telah bergerak menyentuh garis oversold (RSI 30).
Setelah beberapa bulan tepatnya Januari harga saham BBRI sempat menguat dan potensi profit mencapai 11.2%, sementara itu BBNI masih bergerak sideways di sekitar harga beli. Saya mempertimbangkan untuk mengambil profit dari BBRI, namun dari awal saya telah menetapkan bahwa saya berinvestasi saham untuk jangka panjang.
Namun setelah itu, saya sangat tidak menyadari bahwa ada ancaman besar yang akan datang saat itu dan akan mengguncang dunia, yaitu Pandemik Virus Corona. Awal Desember wabah ini sudah mengguncang Tiongkok dan sebagian kecil negara, saya berpikir bahwa wabah ini akan segera berakhir dan tidak akan merembet kemana-mana termasuk pasar saham dan perekonomian.
Memasuki akhir Januari investor mulai panik karena khawatir perekonomian dunia akan mengalami guncangan karena potensi penyebaran virus corona yang semakin masif termasuk di Indonesia, sehingga mereka mulai menarik portofolio investasinya di seluruh dunia, alhasil indeks saham dunia rontok satu persatu termasuk IHSG yang mengalami penurunan secara signifikan dari harga 6.244 pada 23 Januari 2020 ke 3.990 pada 22 Maret 2020 hanya dalam kurun waktu 2 bulan (Pelemahan -36%). Tak terkecuali saham yang saya koleksi juga terkena imbasnya.
Portfolio saham BBRI dan BBNI saya masing-masing mengalamai pelemahan -41,6% dan -57,8% duh!
Nilai portofolio saya yang tadinya Rp 9.477.000 menjadi hanya Rp 4.896.000 dalam waktu dua bulanan.
Kejatuhan pasar saham 2020 karena kejadian luar biasa pandemi virus corona telah memberi saya setidaknya tiga pelajaran sebelum berinvestasi saham.
Pertama, Saat berinvestasi saham kita juga harus melihat keadaan perekonomian dunia. Meskipun secara teknikal dan fundamental kedua saham ini cukup bagus dan prospektif, namun saya mengabaikan analisis ini. Sebagus apapun saham yang kita koleksi jika perekonomian dunia sedang buruk baik karena perlambatan, resesi, atau depresi, nilai saham kita akan tetap jatuh. Saat keadaan ekonomi tidak pasti lebih baik kita meninggalkan aset berisiko. Akan lebih bijak jika kita berinvestasi ke instrumen yang aman seperti reksadana pasar uang, deposito bank, atau membeli logam mulia. Ketiga analisis ini harus digabung agar portofolio investasi kita lebih baik.
Kedua, Cash Management sangat penting. Sebelum berinvestasi, akan lebih baik jika kita jangan tergesa-gesa membeli instrumen aset secara langsung hingga persediaan kas kita menipis. Kita bisa membeli aset investasi secara tahap demi tahap atau mencicil. Jika pasar menurun kita mengurangi pembelian. Jika pasar akan menanjak kita bisa membeli aset lebih banyak lagi. Setiap pasar di kegiatan ekonomi mempunyai tahap naik dan turun, jika kita dapat menyimpan uang cash disaat yang tepat, maka kita dapat menangguk keuntungan.
Ketiga, Gunakan uang dingin untuk berinvestasi aset berisiko tinggi. Sebelum berinvestasi pada aset yang berisiko tinggi yang harganya bisa anjlok kapan saja, akan lebih baik jika kita menggunakan uang dingin yang tidak akan kita gunakan dalam waktu setidaknya enam bulan. Inilah kesalahan yang saya lakukan, yaitu menggunakan sebagian besar tabungan saya. Saat portofolio saham saya jatuh saya ingin menarik sebagian investasi saya untuk biaya hidup sehari-hari, namun saya tidak bisa melakukan ini karena sama saja saya menangguk merealisasikan potensi kerugian dalam saya.
Keempat, Kita harus jeli mengikuti perkembangan peristiwa dunia baik domestik maupun internasional. Sangatlah krusial untuk mengantisipasi kejadian yang berpotensi menganggu jalannya perekonomian dan keamanan dunia seperti pertikaian antar negara, konflik politik, kerusuhan, wabah penyakit, perang dagang, maupun perang sungguhan yang dapat mempengaruhi portofolio investasi kita. Saat kita mengikuti perkembangan peristiwa dunia kita dapat mengantisipasi kejadian apapun yang dapat mempengaruhi investasi kita, sehingga kita dapat mengambil tindakan preventif untuk menyelamatkan portofolio kita sebelum terlambat. Saat merebaknya wabah virus corona di Wuhan, China pada Desember 2019 banyak pihak yang tidak menyadari bahwa ada ancaman besar yang sedang menanti dunia. Krisis kesehatan ini pun merembet menjadi krisis ekonomi atau resesi ekonomi. Sektor penerbangan dan pariwisata terdampak hebat sehingga mulai merembet ke sektor lainnya. Banyak negara mulai memberlakukan lockdown dan social distancing. Logistik mulai terhambat dan banyak bisnis ditutup sehingga mengurangi pemasukan bagi bisnis, tak ayal lagi banyak karyawan dirumahkan dan menjadi pengangguran. Saat banyak bisnis tutup dan pengangguran merebak kegiatan perekonomian pun mati dan permintaan berkurang, kondisi inilah yang memicu terjadinya pelemahan ekonomi yang mengakibatkan menurunnya output atau GDP dunia, yang berujung pada resesi ekonomi.. Pasar keuangan dunia ikut bergejolak sehingga banyak aset-aset investasi yang mengalami kejatuhan harga dikarenakan kepanikan investor.
Itulah pelajaran-pelajaran yang bosa dipetik dari kejatuhan harga saham tahun 2020 karena Pandemik Virus Corona. Dengan kejatuhan pasar saham yang sudah lumayan dalam, apakah ini saatnya untuk masuk kembali ke pasar? Kita tidak akan tahu kapan bencana pandemic virus corona ini akan berakhir, akan lebih baik jika kita untuk wait and see sampai pandemic ini berakhir sehingga saham-saham undervalue itu siap terbang. Semoga pelajaran ini dapat menjadi pertimbangan pembaca sebelum berinvestasi.