Thursday, 29 October 2020

Ajaran Etika Protestan Untuk Kemajuan Ekonomi

 

Sumber : slideshare.net



Hingga hari ini mayoritas negara Eropa yang menganut Protestan seperti Jerman, Belanda, Skandinavia, dan Inggris memiliki ekonomi yang lebih maju dibandingkan negara Eropa lain yang mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik dan Orthodox seperti Spanyol, Italia, Yunani, dan Rusia. 

Apa yang membuat negara Eropa penganut Protestan cenderung memiliki ekonomi yang lebih kaya dibanding negara Eropa lain yang bukan Protestan?

Apakah faktor agama saja dapat mempengaruhi kemajuan ekonomi suatu negara?


Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme

Pada tahun 1904, seorang Sosiolog dari Jerman yang bernama Max Weber mengeluarkan sebuah tesis yang berjudul "Die Protestantische Ethik und Der Geist Des Kapitalismus" atau dalam bahasa Indonesia berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Tesis ini membahas tentang semangat kerja duniawi kaum Protestan demi meraih kesuksesan duniawi yang juga dipandang sebagai sebuah kewajiban ibadah kepada Tuhan dan bertujuan untuk kemuliannya. 

Melalui penelitiannya, Weber menyelidiki mengapa orang-orang Protestan bekerja lebih keras, lebih lama dan lebih berhasil dalam menjalani usahanya dibandingkan orang-orang Katolik, serta mengapa ajaran agama Kristen Protestan lebih menekankan terhadap etos kerja duniawi.

Kaum Protestan memanfaatkan sistem ekonomi baru yang sebelumnya hanya menguntungkan raja dan keluarga bangsawan. Berkembangnya sistem kapitalisme dipandang sangat cocok dengan semangat keagamaan mereka yang lebih menekankan kerja duniawi untuk meraih kekayaan atau kesuksesan.

Sistem ekonomi Kapitalisme berkembang tidak lama setelah Reformasi Protestan terjadi bermula dari tahun 1517, saat Martin Luther memasang 95 keluhan di pintu kapel kastil Wittenberg. Hasil dari reformasi ini yaitu terpisahnya gereja Katolik dan Protestan. 

Cara hidup umat Katolik berpandangan bahwa hidup sederhana tanpa mengakumulasi kekayaan atau menjadi biarawan, dipandang sebagai hidup yang mulia untuk melayani Tuhan karena dianggap sesuai ajaran moral Katolik.

Sedangkan ajaran Protestan justru menganggap sebaliknya. Bahwa kerja keras yang bersifat keduniawian juga dianggap sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan dan dipandang sebagai suatu kehormatan untuknya. Tidaklah berdosa ataupun tidak bermoral jika kita mengakumulasi kekayaan. Pada hakikatnya, Kerja keras keduniawian pun juga harus dilakukan sebagai kerja untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri, seperti yang tertulis dalam Bibel pada Roma 13:36. Tak heran jika umat Protestan dapat mencurahkan lebih banyak waktunya untuk bekerja tanpa merasa takut meninggalkan Tuhan. Hal ini cukup membantu mereka agar semakin produktif dari pada hanya melakukan ritual agama secara berlebihan. Agama Protestan pun juga mempunyai ritual yang lebih simpel dibandingkan Katolik.

Dengan kecenderungan keimanan pada kerja yang bersifat keduniawian, seorang Protestan  wajib untuk mengejar kesuksesan di dunia demi pengabdiannya kepada Tuhan. Mereka pun menggunakan agama bukan sekedar penghiburan untuk lari dari masalah dunia. Maka berkembanglah pandangan hidup khas Protestan yang wajib diterapkan oleh pengikutnya serta diiringi oleh semangat kapitalisme yang menurut Weber terdiri dari: bekerja keras, hidup hemat, mengakumulasi kapital atau kekayaan, serta menginvestasikan kembali keuntungannya. 

Umat Protestan pun tetap dituntut untuk  hidup sederhana dan tidak menghabiskan seluruh uangnya, dan wajib menginvestasikan uangnya kembali agar tetap produktif. Menginvestasikan uang kembali harus dilakukan agar akumulasi kapital terus meningkat. 

Hasil dari prinsip Etika Protestan ini sungguh positif, tak heran banyak negara yang mayoritas penduduknya menganut Protestan lebih kaya ekonominya, seperti Jerman, Skandinavia, Belanda, Inggris, hingga Amerika Serikat. Bandingkan dengan negara Kristen lainnya yang ekonominya cenderung biasa saja seperti Italia, Spanyol, dan Rusia (Hanya Prancis dalam pengecualian).

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menjustifikasi secara mutlak bahwa kemajuan negara-negara Protestan terjadi karena mereka menganut agama Protestan. Ajaran Etika Protestan pada hakikatnya banyak juga diterapkan di agama dan negara lainnya. Tentu ada banyak faktor-faktor lain yang membuat negara Eropa Barat memiliki ekonomi yang lebih kaya. 

Friday, 2 October 2020

Depresi Besar 1930-an yang Menenggelamkan Ekonomi Amerika Serikat dan Dunia

 

Korban PHK masa Depresi Besar yang gigih mencari pekerjaan.
Sumber: theday.co.uk


Amerika Serikat pernah tenggelam dalam krisis ekonomi terparah sepanjang masa, krisis ini lebih dikenal dengan sebutan Depresi Besar 1930-an. Depresi Besar disebut sebagai krisis ekonomi terparah, terburuk, dan terlama sepanjang sejarah, dimana pada masa itu ekonomi dunia benar-benar jatuh.

Bagaimana krisis besar ini terjadi hingga menghancurkan ekonomi Amerika dan dunia selama satu dekade?

Sebelum krisis terjadi, kenapa Amerika justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler hingga dijuluki The Roaring Twenties?

Apakah Teori Seleksi Alam Charles Darwin bisa menjelaskan kejadian ini?

Apakah Perang Dunia II justru membawa dunia keluar dari krisis ini?


Masa Roaring Twenties

Depresi Besar 1930-an justru terjadi setelah masa pertumbuhan ekonomi yang fantastis pada dekade 1920-an. Selama masa itu, Amerika sangat berkembang pesat dan dikenal sebagai tahun 1920-an yang menggebu, sehingga dijuluki sebagai The Roaring Twenties. 

Pertumbuhan ekonomi yang pesat memicu spekulasi pada pasar keuangan. Hal ini memicu harga saham naik gila-gilaan, gelembung pasar saham pun tak terelakkan. Harga saham terus menanjak tanpa nilai fundamental yang kuat, gelembung saham ini tentunya dapat meledak kapan saja. 

Teori Seleksi Alam Charles Darwin yang menjelaskan bahwa pertumbuhan suatu makhluk hidup yang terlalu pesat, lama-lama pertumbuhan mereka akan menurun dan bisa punah. Melonjaknya ekonomi pada masa roaring twenties justru membuat kemunduran ekonomi di periode selanjutnya menjadi tak terelakkan.


Penyebab Awal Terjadinya Depresi Besar

Menggeliatnya perekonomian Amerika bermula saat meletusnya Perang Dunia I pada tahun 1914 - 1918, Saat daratan Eropa dilanda perang besar dan mengakibatkan produksi gandum terganggu, permintaan gandum justru meledak untuk memenuhi kebutuhan pangan tentara dan penduduk Eropa yang dilanda perang. 

Harga gandum meningkat drastis dari harga $ 0.78 per bushel pada 1913, menjadi $ 2,12 per bushel pada 1917. Meningkatnya harga gandum membuat petani gandum di Kansas, Amerika mendapat berkah. 

Longgarnya persyaratan kredit karena suplai uang yang memadai serta rendahnya tingkat bunga, membuat petani mulai mengambil pinjaman secara agresif untuk mengembangkan kebun gandumnya. 

Melonjaknya permintaan lahan untuk kebun gandum membuat harga tanah melonjak. Hal ini memicu spekulan tanah ikut membeli tanah untuk spekulasi, harga properti lain pun juga ikut meroket. 

Harga saham perusaham gandum dan properti pun ikut meroket, sehingga memancing aksi spekulasi besar-besaran di pasar saham. 

Harga-harga saham di sektor lain pun juga ikut melonjak merespon menggeliatnya perekonomian karena naiknya permintaan agregat dan konsumsi.

Pada masa itu pabrik-pabrik juga lebih produktif dengan teknologi baru, sehingga kegiatan produksi juga menggeliat dan menimbulkan oversupply barang-barang industri seperti gandum, besi dan baja.

Tak heran jika selama dekade 1920-an, Ekonomi Amerika menggeliat dan dijuluki The Roaring Twenties. Melonjaknya harga saham mencetak orang-orang kaya baru. Ada julukan bahwa setiap orang dapat menjadi orang kaya. Mereka membeli saham bukan berdasarkan fundamental perusahannya, tetapi karena spekulasi.

Memasuki akhir dekade 1920-an, Keadaan Eropa membaik dan kegiatan ekonomi mereka mulai berjalan lagi. Hal ini menyebabkan permintaan gandum Amerika turun drastis dan membuat harga gandum juga ikut turun. Alhasil, banyak petani gandum yang mengalami overproduksi dan kelebihan persediaan mengalami kerugian yang besar dan tidak dapat melunasi pinjaman bank. 

Angka kredit macet pun melonjak. Banyak perusahaan perkebunan gandum dan perbankan yang merugi hingga sahamnya ikut jatuh. Hal ini merembet ke saham-saham lainnya, kejatuhan pasar saham pun dimulai.


Jatuhnya Pasar Saham Mengawali Terjadinya Krisis Parah Selama Satu Dekade

Setelah harga saham naik gila-gilaan selama dekade 1920-an, Indeks Dow Jones mulai mencapai puncaknya pada 4 September 1929 di posisi 381,17. Memasuki 24 Oktober 1929, drama pun dimulai. Indeks Dow Jones jatuh sedalam 11% dan terjadi aksi panic selling. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Black Thursday atau Kamis Kelam. 

Indeks Dow Jones terus jatuh hingga mencapai titik terendah pada 8 Juli 1932 di level 41,22 atau jatuh hingga minus 89,2%. Indeks ini baru pulih dan kembali mencapai harga pada level puncak sebelumnya di 381,17 setelah 25 tahun tepatnya pada 23 November 1954.


Terjadinya Bank Panic

Saat harga-harga saham anjlok akibat banyak bisnis yang gagal hingga kolaps, lonjakan kredit macet pun terjadi. Bank-bank mengalami kerugian hingga miliaran dolar dan menggerus nilai aset mereka sebanyak kurang lebih 35%. Banyak nasabah bank yang panik mulai menyerbu bank untuk menarik sisa uangnya di bank, bank panic pun terjadi.

Suplai uang pun semakin menurun karena orang-orang mulai kehilangan kepercayaan kepada bank dan lebih memilih menyimpan uangnya di bawah kasur. Bank-bank mulai memperketat pinjaman dan cenderung menaikkan rasio cadangan minimumnya. 

Akibatnya, Suplai uang semakin menurun hingga 28%. Menurunnya suplai uang dan penurunan kredit atau pinjaman justru memperparah penurunan ekonomi karena investasi dan konsumsi menjadi terhambat, sehingga menekan permintaan agregat. Deflasi pun tak terelakkan, harga-harga barang turun sedalam 33%.

Banyak orang yang akhirnya lebih memilih tidak membelanjakan uangnya karena nilai uang justru semakin meningkat karena deflasi. Hal-hal ini justru memperparah krisis yang menjadi berkepanjangan.
 
The Fed seharusnya menyelamatkan bank-bank yang hampir kolaps dengan menyuntik sejumlah dana agar suplai uang meningkat kembali. Menambah suplai uang diperlukan untuk memicu investasi dan permintaan agregat, hal ini dapat menyelamatkan ekonomi agar kembali berjalan normal.

The Fed tidak dapat menambah suplai uang karena saat itu Amerika masih memakai standar emas. Setiap jumlah uang yang beredar harus didukung dengan cadangan emas sebanyak 40%. Hal ini menyebabkan The Fed tidak bisa menambah suplai uang saat peningkatan suplai uang justru dibutuhkan. 

Negara-negara yang telah meninggalkan standar emas seperti Inggris justru mampu pulih lebih cepat dari krisis.


Dampak Depresi Besar

Baik negara kaya maupun negara miskin terkena dampaknya. Banyak pekerja yang menyaksikan hilangnya tabungan mereka karena banyak bank yang gagal, serta investasi mereka di pasar saham pun juga ikut hancur. Hasil kerja keras mereka selama bekerja telah dilumat habis oleh merosotnya nilai-nilai aset.

Dari 1929 hingga 1933, PDB dunia menyusut sedalam minus 27%. Tingkat harga juga jatuh hingga minus 22%. Perdagangan internasional juga menurun hingga lebih dari 50%. Pada November 1933, angka pengangguran di Amerika Serikat telah mencapai rekor tertinggi yaitu 25%, diperkirakan sekitar 15 juta orang telah kehilangan pekerjaan.

Bahkan, di beberapa negara, angka pengangguran melonjak hingga lebih dari 30%. Harga pangan juga jatuh sekitar 60%. Sekitar 5000-an bank di Amerika kolaps dan harus ditutup.



Kebijakan Perbaikan Oleh Presiden F.D. Roosevelt dan Akhir Dari Depresi

Saat Franklin Delano Roosevelt terpilih sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 1932, beliau merancang perbaikan ekonomi dengan program New Deal nya. Program ini  berisi 47 program yang dijalankan dalam 3 tahap dari 1933-1939, program ini bertujuan untuk menstabilkan pasar keuangan, penciptaan lapangan kerja, pembentukan serikat pekerja, dan tunjangan pengangguran.

Setahun setelah penerapan New Deal, pada 1933 hingga 1936 pertumbuhan ekonomi Amerika mulai membaik kembali saat PDB nya mulai menanjak dan angka pengangguran mulai menurun.  

Selain disahkannya kebijakan New Deal, Perang Dunia II juga dianggap menolong Amerika dan dunia keluar dari krisis ini. Perang ini menyedot banyak tenaga kerja untuk bidang militer. 

Pengeluaran pemerintah untuk perang meningkat hingga lima kali lipat dari 1939 hingga 1944. Hal ini memicu naiknya permintaan agregat dan mendorong kegiatan ekonomi hingga dua kali lipat. Alhasil, tingkat pengangguran menurun dari 17% pada 1939, menjadi hanya sekitar 1% pada 1944 (Angka terendah dalam sejarah Amerika Serikat).

Beberapa pihak berargumen, walaupun meletusnya Perang Dunia II telah menekan jumlah pengangguran, pembiayaan perang justru memakan biaya yang cukup besar dan berpotensi menumpuk hutang. Hal ini dikhawatirkan akan menambah beban pemerintah Amerika di masa yang akan datang untuk melunasi hutangnya.

Haruskah kita memulai perang besar lagi supaya ekonomi keluar dari krisis?













Thursday, 1 October 2020

Thomas Piketty Theory on Tackling Prolonged Economic Inequality


Source: fortune.com



Introduction 

Economic inequality occurs when r > g, or the return on capital investment, always exceeds  economic growth. This condition makes rich  who have abundant wealth become richer, while poor, stay poor. In his book "Capital in the Twenty-First Century" he will explain us profoundly how dangerous economic inequality will have been.

Would economic inequality have persisted?

What solution does he have to reduce inequality?


Prominent Young Economist

A young economist who earned his PhD at the age of 22 have caused a series of debate among economists. He argues that economic inequality will get worse if more countries lift turbo capitalism to grow wildly without any significant political intervention from the government.

The economist is neither Adam Smith nor Joseph Stiglitz nor Paul Krugman. The economist is just a young man from France named Thomas Piketty.

In 2013, the book he published "Capital in the Twenty-First Century" has provoked controversy among economist. He has been dubbed by right-wing commentators as Neo-Marxist or the new Marxism.

This 685-page book explains how economic inequality has occurred throughout the history of the beginning of capitalism, especially during the industrial revolution in England in 1760. This book shows a lot of historical data up to the 1800s from both developed and developing countries.

In his book, Piketty also introduces a new formula in understanding deeply the fundamental laws of capitalism. The first fundamental law of capitalism is to calculate the percentage of total annual income from return. The formula is α = (r x β) x 100, where α is the percentage of income from the return on capital in total annual income. Whilst, r is the total percentage of return on capital, and β is the capital to annual national income ratio. 

Meanwhile, the second law of capitalism II is to figure the total capital to total annual income ratio. The formula is β = s / a where s is the total savings or total capital stock, whilst a is the total growth in national annual income, or it can also be referred to as GDP or economic growth.

Now we have a case that is very common in many countries, with relatively low economic growth of only around 1% and a higher return on investment of around 5%. For instance: there is a country with a total capital stock of € 1,500,000 with an annual income of € 100,000. Whilst, the rate of return on investment on capital or r: 5% and annual economic growth or g: 1.67%. Find the values ​​of α and β?

First, we find the value of β, where β = 1,500,000 / 100,000 = 15, it means that the total capital stock is equal to 15 years of the total annual income, or it takes 15 years to accumulate the annual income to offset the total current capital stock. 

Second, we then find α, where α = (0.05 x 15) x 100% = 75%, it means that 75% (€ 75.000) of the annual income comes from the return on capital or r. The remaining 25% (€ 25,000) of the annual income comes from the output growth or economic growth, or g.

However, we haven't identified any problem yet from here. Now we find why the value of g is at 1.67%. First, we need to validate the value of r, is it true that it is 5%?

The answer is, we divide the income from the return on capital which is 75,000 to the total capital, 75,000 / 1,500,000 = 0.05 or 5%, it holds true that the rate of return on capital is  at 5%. Now, we find the g, is it true 1.67%? The answer, 25,000 / 1,500,000 = 0.167 or 1.67%. Eventually, we made a conclusion that r = 5% and g = 1.67%. Then, what is the problem?

This is what Piketty really concerned about, where the return on capital always exceeds the economic or output growth (r > g). The percentage of r that exceeds the g only makes the capital owners with abundant wealth become richer. Meanwhile, the workers who does not have abundant wealth stay poor.

Unfortunately, in most countries the r > g condition keeps persisting, the growth almost never exceeds the return. Therefore, if this condition continues without any significant intervention from our governments, consequently the inequality would get worse in the long span of time. People who already have abundant wealth will get richer, while those who do not will likely stay poor.

In Indonesia, where the wage of employees increases by 8% per year, a = 8%, while the increase in stock prices in Indonesia or other investment assets could be up to more than 25%. Which one would be getting richer? A businessman with investment assets worth billions or those who only rely on an increase in the minimum wage of 8% per year? Keep in mind that the living costs could also increase by more than 8%.

As a French people, Piketty has warned that rising economic inequality could lead to various sorts of social, economic, and political catastrophes. This condition triggered the French revolution in 1789, where many of the French noble families including King Louis XVI and his wife Queen Marie Antoinette, were beheaded by their own people after experiencing starvation.

In addition, Piketty also criticizes Patrimonial Capitalism, where many children of the rich are still getting richer from the inheritance of their rich parents. They can be even richer without making any significant contribution to society or the economy. Their inherited wealth would certainly grow faster than the economic growth. Meanwhile, children from a middle class family will have to work a tiring job as restaurant waiter and still get paid with insufficient amount of money. It is absolutely difficult for a worker to earn one million rupiah and it is easier for rich people to earn billions of rupiah without having to do a tiring job.

Piketty also criticizes Simon Kuznets theory with his Kuznets Curve. Kuznets argued that in the early stages of economic development,  inequality tend to increase, then in the next stage of economic development, inequality will eventually subside as they achieve maturity. Nevertheless, according to their research with some evidence they have exhibited us, Piketty and his teams argued that inequality is still rising again during the 21st century due to the prolonged r > g condition.

This is where Piketty has made some solutions, he proposes progressive taxes to have been imposed upon the rich. These  progressive tax includes wealth tax, inheritance tax and income tax. The tax imposed upon wealth is at least 15% percent, while an 80% tax imposed upon the highest income earners. However, Piketty states that the priority is of course the tax on wealth and inheritance.

Income tax only makes middle class less well-off. Thus, progressive tax on wealth and inheritance are the main keys. Progressive tax on wealth and inheritance are supposed to make the distribution of wealth can be more evenly distributed and can reduce economic inequality in which are used to happen in turbo capitalist countries.

Ultimately, if Piketty is right then the consequences of turbo capitalism will make majority of people less well-off. Social mobility would be really difficult to occur. If we want to escape from poverty, there will be no way anymore, other than inheriting vast amounts of wealth.

Piketty also insists on his readers to profoundly understand what economics really is. According to him, economics is merely a social science consisting of sociology, history, anthropology, and political science. Piketty argues that economics is not a natural science in which processing quantitative data. Economics is always dynamic, not static like mathematics that freezes reality. Economy reality is always moving and never being static. Henceforth, mathematics and economics are the different things.

Ultimately, economics should have been understood philosophically and comprehensively by our reason and logic in a more systematic and practical way. As a result, when we understand better how our economy works, it can help us all to deliver an unprecedented prosperity level for all without any exception.