Friday, 2 October 2020

Depresi Besar 1930-an yang Menenggelamkan Ekonomi Amerika Serikat dan Dunia

 

Korban PHK masa Depresi Besar yang gigih mencari pekerjaan.
Sumber: theday.co.uk


Amerika Serikat pernah tenggelam dalam krisis ekonomi terparah sepanjang masa, krisis ini lebih dikenal dengan sebutan Depresi Besar 1930-an. Depresi Besar disebut sebagai krisis ekonomi terparah, terburuk, dan terlama sepanjang sejarah, dimana pada masa itu ekonomi dunia benar-benar jatuh.

Bagaimana krisis besar ini terjadi hingga menghancurkan ekonomi Amerika dan dunia selama satu dekade?

Sebelum krisis terjadi, kenapa Amerika justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler hingga dijuluki The Roaring Twenties?

Apakah Teori Seleksi Alam Charles Darwin bisa menjelaskan kejadian ini?

Apakah Perang Dunia II justru membawa dunia keluar dari krisis ini?


Masa Roaring Twenties

Depresi Besar 1930-an justru terjadi setelah masa pertumbuhan ekonomi yang fantastis pada dekade 1920-an. Selama masa itu, Amerika sangat berkembang pesat dan dikenal sebagai tahun 1920-an yang menggebu, sehingga dijuluki sebagai The Roaring Twenties. 

Pertumbuhan ekonomi yang pesat memicu spekulasi pada pasar keuangan. Hal ini memicu harga saham naik gila-gilaan, gelembung pasar saham pun tak terelakkan. Harga saham terus menanjak tanpa nilai fundamental yang kuat, gelembung saham ini tentunya dapat meledak kapan saja. 

Teori Seleksi Alam Charles Darwin yang menjelaskan bahwa pertumbuhan suatu makhluk hidup yang terlalu pesat, lama-lama pertumbuhan mereka akan menurun dan bisa punah. Melonjaknya ekonomi pada masa roaring twenties justru membuat kemunduran ekonomi di periode selanjutnya menjadi tak terelakkan.


Penyebab Awal Terjadinya Depresi Besar

Menggeliatnya perekonomian Amerika bermula saat meletusnya Perang Dunia I pada tahun 1914 - 1918, Saat daratan Eropa dilanda perang besar dan mengakibatkan produksi gandum terganggu, permintaan gandum justru meledak untuk memenuhi kebutuhan pangan tentara dan penduduk Eropa yang dilanda perang. 

Harga gandum meningkat drastis dari harga $ 0.78 per bushel pada 1913, menjadi $ 2,12 per bushel pada 1917. Meningkatnya harga gandum membuat petani gandum di Kansas, Amerika mendapat berkah. 

Longgarnya persyaratan kredit karena suplai uang yang memadai serta rendahnya tingkat bunga, membuat petani mulai mengambil pinjaman secara agresif untuk mengembangkan kebun gandumnya. 

Melonjaknya permintaan lahan untuk kebun gandum membuat harga tanah melonjak. Hal ini memicu spekulan tanah ikut membeli tanah untuk spekulasi, harga properti lain pun juga ikut meroket. 

Harga saham perusaham gandum dan properti pun ikut meroket, sehingga memancing aksi spekulasi besar-besaran di pasar saham. 

Harga-harga saham di sektor lain pun juga ikut melonjak merespon menggeliatnya perekonomian karena naiknya permintaan agregat dan konsumsi.

Pada masa itu pabrik-pabrik juga lebih produktif dengan teknologi baru, sehingga kegiatan produksi juga menggeliat dan menimbulkan oversupply barang-barang industri seperti gandum, besi dan baja.

Tak heran jika selama dekade 1920-an, Ekonomi Amerika menggeliat dan dijuluki The Roaring Twenties. Melonjaknya harga saham mencetak orang-orang kaya baru. Ada julukan bahwa setiap orang dapat menjadi orang kaya. Mereka membeli saham bukan berdasarkan fundamental perusahannya, tetapi karena spekulasi.

Memasuki akhir dekade 1920-an, Keadaan Eropa membaik dan kegiatan ekonomi mereka mulai berjalan lagi. Hal ini menyebabkan permintaan gandum Amerika turun drastis dan membuat harga gandum juga ikut turun. Alhasil, banyak petani gandum yang mengalami overproduksi dan kelebihan persediaan mengalami kerugian yang besar dan tidak dapat melunasi pinjaman bank. 

Angka kredit macet pun melonjak. Banyak perusahaan perkebunan gandum dan perbankan yang merugi hingga sahamnya ikut jatuh. Hal ini merembet ke saham-saham lainnya, kejatuhan pasar saham pun dimulai.


Jatuhnya Pasar Saham Mengawali Terjadinya Krisis Parah Selama Satu Dekade

Setelah harga saham naik gila-gilaan selama dekade 1920-an, Indeks Dow Jones mulai mencapai puncaknya pada 4 September 1929 di posisi 381,17. Memasuki 24 Oktober 1929, drama pun dimulai. Indeks Dow Jones jatuh sedalam 11% dan terjadi aksi panic selling. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Black Thursday atau Kamis Kelam. 

Indeks Dow Jones terus jatuh hingga mencapai titik terendah pada 8 Juli 1932 di level 41,22 atau jatuh hingga minus 89,2%. Indeks ini baru pulih dan kembali mencapai harga pada level puncak sebelumnya di 381,17 setelah 25 tahun tepatnya pada 23 November 1954.


Terjadinya Bank Panic

Saat harga-harga saham anjlok akibat banyak bisnis yang gagal hingga kolaps, lonjakan kredit macet pun terjadi. Bank-bank mengalami kerugian hingga miliaran dolar dan menggerus nilai aset mereka sebanyak kurang lebih 35%. Banyak nasabah bank yang panik mulai menyerbu bank untuk menarik sisa uangnya di bank, bank panic pun terjadi.

Suplai uang pun semakin menurun karena orang-orang mulai kehilangan kepercayaan kepada bank dan lebih memilih menyimpan uangnya di bawah kasur. Bank-bank mulai memperketat pinjaman dan cenderung menaikkan rasio cadangan minimumnya. 

Akibatnya, Suplai uang semakin menurun hingga 28%. Menurunnya suplai uang dan penurunan kredit atau pinjaman justru memperparah penurunan ekonomi karena investasi dan konsumsi menjadi terhambat, sehingga menekan permintaan agregat. Deflasi pun tak terelakkan, harga-harga barang turun sedalam 33%.

Banyak orang yang akhirnya lebih memilih tidak membelanjakan uangnya karena nilai uang justru semakin meningkat karena deflasi. Hal-hal ini justru memperparah krisis yang menjadi berkepanjangan.
 
The Fed seharusnya menyelamatkan bank-bank yang hampir kolaps dengan menyuntik sejumlah dana agar suplai uang meningkat kembali. Menambah suplai uang diperlukan untuk memicu investasi dan permintaan agregat, hal ini dapat menyelamatkan ekonomi agar kembali berjalan normal.

The Fed tidak dapat menambah suplai uang karena saat itu Amerika masih memakai standar emas. Setiap jumlah uang yang beredar harus didukung dengan cadangan emas sebanyak 40%. Hal ini menyebabkan The Fed tidak bisa menambah suplai uang saat peningkatan suplai uang justru dibutuhkan. 

Negara-negara yang telah meninggalkan standar emas seperti Inggris justru mampu pulih lebih cepat dari krisis.


Dampak Depresi Besar

Baik negara kaya maupun negara miskin terkena dampaknya. Banyak pekerja yang menyaksikan hilangnya tabungan mereka karena banyak bank yang gagal, serta investasi mereka di pasar saham pun juga ikut hancur. Hasil kerja keras mereka selama bekerja telah dilumat habis oleh merosotnya nilai-nilai aset.

Dari 1929 hingga 1933, PDB dunia menyusut sedalam minus 27%. Tingkat harga juga jatuh hingga minus 22%. Perdagangan internasional juga menurun hingga lebih dari 50%. Pada November 1933, angka pengangguran di Amerika Serikat telah mencapai rekor tertinggi yaitu 25%, diperkirakan sekitar 15 juta orang telah kehilangan pekerjaan.

Bahkan, di beberapa negara, angka pengangguran melonjak hingga lebih dari 30%. Harga pangan juga jatuh sekitar 60%. Sekitar 5000-an bank di Amerika kolaps dan harus ditutup.



Kebijakan Perbaikan Oleh Presiden F.D. Roosevelt dan Akhir Dari Depresi

Saat Franklin Delano Roosevelt terpilih sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 1932, beliau merancang perbaikan ekonomi dengan program New Deal nya. Program ini  berisi 47 program yang dijalankan dalam 3 tahap dari 1933-1939, program ini bertujuan untuk menstabilkan pasar keuangan, penciptaan lapangan kerja, pembentukan serikat pekerja, dan tunjangan pengangguran.

Setahun setelah penerapan New Deal, pada 1933 hingga 1936 pertumbuhan ekonomi Amerika mulai membaik kembali saat PDB nya mulai menanjak dan angka pengangguran mulai menurun.  

Selain disahkannya kebijakan New Deal, Perang Dunia II juga dianggap menolong Amerika dan dunia keluar dari krisis ini. Perang ini menyedot banyak tenaga kerja untuk bidang militer. 

Pengeluaran pemerintah untuk perang meningkat hingga lima kali lipat dari 1939 hingga 1944. Hal ini memicu naiknya permintaan agregat dan mendorong kegiatan ekonomi hingga dua kali lipat. Alhasil, tingkat pengangguran menurun dari 17% pada 1939, menjadi hanya sekitar 1% pada 1944 (Angka terendah dalam sejarah Amerika Serikat).

Beberapa pihak berargumen, walaupun meletusnya Perang Dunia II telah menekan jumlah pengangguran, pembiayaan perang justru memakan biaya yang cukup besar dan berpotensi menumpuk hutang. Hal ini dikhawatirkan akan menambah beban pemerintah Amerika di masa yang akan datang untuk melunasi hutangnya.

Haruskah kita memulai perang besar lagi supaya ekonomi keluar dari krisis?













No comments:

Post a Comment