Sumber: jasonhickel.org
Kesetaraan distribusi pendapatan dihitung dengan menggunakan koefisien indeks gini. Semakin rendah nilai indeks rasio gini nya, maka semakin setara distribusi pendapatannya, yang berarti kesetaraan ekonomi lebih merata dan mobilitas sosial lebih mudah.
Negeri makmur yang terletak di Skandinavia ini mempunyai citra yang sangat baik di dunia. Lihat saja, angka Indeks Pembangunan Manusia nya berada di peringkat satu pada tahun 2018 dengan nilai 0.954. Negara ini juga menempati peringkat ketiga negara terbahagia di dunia menurut laporan the 2019 Hapiness Index yang dirilis oleh PBB. Negara ini juga memiliki angka Rasio Indeks Gini yang masuk dalam angka terendah yaitu 26.8 (Peringkat 10 terendah). Rasio gini Amerika Serikat saja 41,5. Negara manakah yang dimaksud?
Negara ini adalah negara Norwegia. Negara dengan populasi sekitar 5,3 juta ini memiliki pendapatan perkapita sebesar US$ 75.420 per tahun 2019 (Peringkat keenam di dunia). Negara ini dikenal sebagai negara impian untuk meraih kemakmuran ekonomi karena memiliki kesetaraan ekonomi yang lebih merata dibandingkan Amerika Serikat dan Inggris. Benarkah demikian?
Ada dua fakta unik yang menjelaskan betapa Norwegia pantas dikatakan sebagai negara impian yang sebenarnya untuk kesejahteraan ekonomi. Jadi, anda sangat berpeluang besar dari zero to hero jika berada di Norwegia.
Fakta pertama, Norwegia adalah salah satu negara dengan mobilitas sosial termudah. Misalnya, ada 5 kelas ayah-ayah yang masing-masing memiliki pendapatan yang berbeda. Ada ayah yang berpendapatan tertinggi (Ayah terkaya) dan terendah (Ayah termiskin). Asumsikan setiap kelas ayah memiliki anak lagi, setelah itu kita akan melihat apakah anak dari ayah termiskin akan menjadi ayah terkaya di masa depan? Dan apakah anak dari ayah terkaya justru akan menjadi anak termiskin di masa depan?
Sumber: evonomics.com
Jika terjadi mobilitas yang sempurna disaat pendidikan berkualitas gratis serta biaya kesehatan yang terjangkau, maka seluruh anak dari ayah termiskin yang berjumlah 20% dari seluruh kelas yang ada, maka akan berakhir menjadi ayah yang lebih kaya dari berbagai kelas yang ada. Di Denmark, mobilitas sosial hampir mendekati sempurna sebanyak 14%, ini berarti 14% dari 20% anak ayah termiskin akan menjadi ayah yang lebih kaya lagi di masa depan. Sedangkan, Norwegia 12%, Swedia 11%, dan AS 8%. Mobilitas sosial yang hampir sempurna pada anak dari ayah termiskin terjadi karena pendidikan di negara Skandinavia sangat berkualitas dan terjangkau bahkan gratis di Norwegia.
Sumber: evonomics.com
Sekarang kasus sebaliknya, dimana anak-anak dari seluruh kelas tersebut yang tidak berakhir menjadi ayah terkaya, tetapi justru menjadi ayah termiskin atau tetap miskin. Angka 20% adalah mobilitas sosial sempurna, di Denmark sebanyak 25% anak akan berakhir menjadi ayah yang berpendapatan terendah atau termiskin di masa depan. Sedangkan Norwegia 28% anak akan menjadi ayah di kelas terbawah. Dan tidak mengejutkan lagi 42% anak ayah miskin di Amerika Serikat akan berakhir menjadi ayah dengan pendapatan terendah di masa depan atau tetap menjadi ayah miskin. Hal ini terjadi karena pendidikan berkualitas di Amerika Serikat sangatlah mahal, sehingga mobilitas sosial anak ayah termiskin akan terasa sulit.
Fakta kedua, fakta yang cukup unik menyatakan bahwa distribusi kekayaan ekonomi di negara Skandinavia terutama Norwegia lebih merata dibandingkan dengan negara maju lainnya apalagi Amerika Serikat dan Inggris.
Menurut The Wealth Report, seseorang dikatakan sebagai ultra kaya atau jutawan jika mempunyai kekayaan bersih minimal US$ 30 Juta. Selama 2018, ada lebih dari 170.000 jutawan ultra kaya di seluruh dunia. Ada lima besar negara dengan populasi jutawan ultra kaya ini, yaitu: Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, dan Kanada.
Sumber: statista.com
AS sebagai negara dengan populasi jutawan ultra kaya tertinggi, disusul Tiongkok, Jepang, dst.
Lalu, dimanakah fakta menariknya? Kita tidak akan berfokus kepada jumlah jutawan ultra kaya secara kuantitas di suatu negara. Tetapi, kita akan fokus pada jumlah jutawan ultra kaya per satu juta penduduk di suatu negara. Kita akan membagi populasi jutawan ultra kaya dengan jumlah penduduk di suatu negara. Ternyata, Norwegia lah yang memiliki jutawan ultra kaya per satu juta penduduk tertinggi yaitu ada 484 jutawan ultra kaya per satu juta penduduknya. Disusul oleh Swedia dengan jumlah 329, sedangkan Amerika Serikat berada di peringkat ke-13, yaitu 126 jutawan ultra kaya per satu juta penduduknya.
Sumber: evonomics.com
Sekarang kita hitung lagi jumlah populasi biliuner per satu juta penduduknya. Lagi-lagi peringkat tiga besar negara teratas ditempati oleh negara-negara Skandinavia. Norwegia berada di peringkat ketiga, dengan jumlah biliuner sebanyak dua orang per satu juta penduduknya.
Sumber: evonomics.com
Nah, dengan jumlah miliuner dan biliuner per satu juta penduduk yang lebih besar dari negara maju lainnya, mengindikasikan bahwa negara-negara Skandinavia memiliki kesenjangan ekonomi yang lebih rendah dengan distribusi kekayaan ekonomi yang lebih merata.
Bagaimana hal ini terjadi?
Ada dua sebab yang melatarbelakangi mengapa negara-negara Skandinavia terutama Norwegia memiliki mobilitas sosial yang lebih mudah serta distribusi kekayaan ekonominya yang lebih merata. yaitu:
Pendidikan berkualitas gratis:
Norwegia adalah satu-satunya negara Eropa bahkan dunia yang menggratiskan seluruh biaya pendidikan dari TK hingga S3 untuk seluruh penduduknya bahkan orang asing sekalipun. Dengan pendidikan berkualitas yang gratis, maka akan lebih banyak orang yang dapat memaksimalkan potensi dan bakatnya untuk berkontribusi pada kegiatan ekonomi. Banyaknya tenaga ahli berpendidikan yang terlibat dalam kegiatan ekonomi justru akan meningkatkan produktivitas dan mempercepat pembangunan ekonomi.
Perawatan kesehatan yang terjangkau:
Norwegia juga memiliki salah satu sistem perawatan kesehatan terbaik di dunia. Seluruh biaya perawatan kesehatan untuk anak dibawah 16 tahun seluruhnya di tanggung negara. Sedangkan untuk warga yang berusia diatas 16 tahun maksimal hanya membayar perawatan kesehatan sebesar 2000 Krona atau Rp 3 jutaan pertahun. Diatas itu, hampir seluruh biaya perawatan kesehatan ditanggung oleh negara. Beberapa pengecualian yaitu perawatan gigi, optik atau kacamata, dan kulit.
Lalu, dari mana Norwegia dapat membiayai program-program sosialnya yang tentu memakan biaya yang tidak sedikit?
Ada satu fakta mutlak yang tidak dapat diganggu gugat bagaimana Norwegia dapat menjadi negara kaya, yaitu minyak bumi.
Dengan kekayaan minyaknya, Norwegia tidak kalah dengan pangeran-pangeran Arab.
Norwegia masuk jajaran negara paling kaya di dunia karena melimpahnya sumber daya alam minyak bumi. Kebanyakan negara terkaya biasanya juga sesama negara minyak, atau juga negara dengan sektor finansial kuat seperti Singapura dan Swiss.
Dalam hal produksi sendiri, Norwegia mampu memproduksi 2 Juta Barel minyak per hari, bandingkan dengan Indonesia yang hanya mampu memproduksi sekitar 1 Juta Barel per harinya.
Norwegia juga memiliki keuntungan lain dari banyak negara lain di bumi ini yang memiliki kekayaan SDA yang melimpah terutama Indonesia dan negara-negara kaya berlian di Afrika. Yaitu, Populasi Norwegia terbilang sedikit dan institusi pemerintahannya juga bersih dari KKN. Sehingga kekayaan dari hasil penjualan minyak bumi sangatlah dikelola dengan baik untuk membangun ekonomi negaranya dan juga kesejahteraan rakyatnya.
Bagaimanapun juga, SDA minyak bumi akan menipis dan habis. Pemerintah Norwegia pun sudah mengantisipasi hal ini jauh-jauh hari. Untungnya, mereka tidak menghamburkan kekayaan dari penjualan minyak secara sembarangan. Uang dari hasil penjualan minyak bumi tetap dikelola dengan baik dengan menginvestasikannya kembali ke sektor-sektor lainnya. Lalu, bagaimana mereka mengelola uang dari hasil penjualan minyaknya?
Jawabannya yaitu pembentukan Sovereign Wealth Fund atau dana abadi negara. Sovereign Wealth Fund adalah sebuah portofolio investasi yang dikelola oleh suatu negara untuk menghasilkan keuntungan, baik berupa dividen ataupun capital gain yang dapat digunakan untuk membiayai APBN negara maupun pembiayaan program-program pemerintah lainnya.
Sumber: statista.com
Dana abadi pemerintah Norwegia bernama GPFG (Government Pension Fund - Global), dana abadi ini memiliki nilai aset terbesar di dunia senilai lebih US$1 Triliun atau lebih tepatnya sebesar US$ 1.122.110.000.000 selama tahun 2019 (Waduh, berapa tuh nol nya!?). Dana abadi ini kurang lebih sama besarnya dengan PDB Indonesia.
Norwegia telah membangun dana abadi negaranya pada tahun 1967, sehingga dibutuhkan kurang lebih 50 tahunan untuk mencapai angka US$1 Triliun tersebut. Di dunia hanya ada 4 dana abadi negara lainnya yang lebih tua, yaitu milik Afrika Selatan, Kuwait, Arab Saudi, dan Kiribati. Sementara itu, kebanyakan dana abadi negara mulai dibentuk pada tahun 1990-an dan 2000-an. Sehingga, Norwegia sudah punya 3 dekade pengalaman dalam membentuk dan mengelola dana abadi negaranya.
Dapat dilihat pada ringkasan realisasi APBN Norwegia dari tahun 2017–2019 diatas, dana abadi negaranya atau GPFG secara konsisten menghasilkan dividen dan bunga sebesar 2% dari seluruh nilai aset dana abadinya atau lebih dari 200 Milyar Krone, atau sekitar US$25 Milyar (Rp 350 Triliun). Ingat, ini baru hasil dari bunga dan dividen, belum termasuk capital gainnya. Dengan nilai aset sebesar US$ 1 Triliun, dividen dan hasil dari bunganya yang sebesar 2% saja sudah cukup signifikan untuk membantu pembiayaan program pemerintahan.
Oleh karena itu, setiap tahun penduduk Norwegia (total ada 5.3 juta) akan mendapatkan manfaat tidak langsung sekitar US$4700 atau Rp 66 juta (Asumsi kurs Rp 14.000 per dolar) dari bunga dan dividen tahunan dari dana abadinya yang dapat dirasakan lewat program-program pemerintahnya.
Walaupun hanya imbal hasilnya hanya 2%, US$ 25 Milyar tersebut ternyata cukup membiayai APBN Norwegia sebanyak sekitar 16% pada tahun 2019, dan mampu membuat APBN Norwegia menjadi surplus tanpa perlu menambah hutang lagi.
Itulah yang membuat Norwegia mampu membiayai berbagai macam program-progran sosialnya, yang terdiri dari biaya perawatan kesehatan yang sangat terjangkau, dan pendidikan gratis sampai tingkat universitas untuk siapapun. Tidak heran, rakyat Norwegia memiliki kesempatan dan kesetaraan ekonomi yang lebih baik, sehingga mobilitas sosial mereka lebih mudah dan juga distribusi kekayaan ekonominya lebih merata.
Jadi, rahasia sukses ekonomi Norwegia, kalau kita bisa simpulkan, yaitu: Keuntungan dari penjualan minyak bumi yang dikelola dengan baik (tidak dikorupsi) dan diinvestasikan kembali, institusi pemerintahannya yang bersifat inklusif bersih dari KKN, dan jumlah populasinya sedikit dengan SDM nya yang lebih berkualitas.
Norwegia memang negara utopia yang nyata benar adanya.









