Monday, 6 January 2020

Radikalisme Agama, Abad Kegelapan dan Kemunduran Ekonomi 


Siapa bilang salah satu benua terkaya di dunia ini tidak pernah mengalami masa kelam. Eropa pun tak luput dari pengalaman buruk dengan kemiskinan, wabah penyakit, tingkat kriminal, pembunuhan massal dan bahkan radikalisme agama yang sangat intoleran.

Abad Kegelapan atau Pertengahan dimulai pada tahun 476 M hingga 1453 M. ini dimulai setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat serta bangkitnya Kekaisaran Romawi Timur yang beribu kota di Konstantinopel. Masa ini berakhir ketika Kekaisaran Utsmaniyah yang dipimpin Sultan Mehmet II menaklukkan kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 lalu merubahnya menjadi kota Istanbul hingga hari ini. Sesudah penaklukkan Konstantinopel, terjadilah Penjelajahan Samudera dan dimulainya Era Renaissans yang ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kembalinya humanisme. 

Selama masa abad kegelapan, Eropa mengalami stagnasi dan kemunduran. Kebodohan dan kemiskinan pun menyelimuti. Pada masa ini, Organisasi Gereja sangatlah berkuasa dan mengatur segala sendi kehidupan masyarakat. Segala hal yang tidak berkaitan dengan gereja atau agama dianggap melanggar hukum dan sesat. Bahkan, gereja sangat berkuasa melebihi raja. Gereja sangatlah intoleran, orang Muslim dan Yahudi banyak mengalami diskriminasi dan persekusi karena dianggap sesat oleh gereja. Pada tahun 1290, Raja Inggris Edward I pernah mengusir seluruh orang Yahudi dari Inggris.

Tak terkecuali perkembangan ilmu pengetahuan empiris, yang juga dikekang karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai gereja, sehingga dianggap sesat dan melanggar hukum. Orang-orang tidak berani untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengkritisi masalah sosial karena tekanan dari pihak gereja. Mereka semua hanya hidup sesuai dogma-dogma gereja. Akal budi, nalar, dan sifat kritis manusia dikekang sebisa mungkin. Padahal ketiga itulah sifat alami manusia untuk mengembangkan dirinya. Alhasil, banyak orang-orang yang merasa tidak berguna untuk mempelajari ilmu baru selain ilmu dan teori dari gereja. Ini membuat mereka tidak mempunyai visi yang jelas untuk membangun peradaban. Gereja menganggap hidup manusia sudah ditentukan oleh sang Maha Kuasa, sehingga tidak perlu untuk mengembangkan dirinya dan mempertanyakannya lagi. Kebodohan pun meningkat. Saat terjadinya wabah pes Black Death pada 1347-1351 banyak yang menganggap bahwa ini adalah hukuman Tuhan. Sehingga yang mereka lakukan hanyalah berdoa dan berlindung di dalam gereja sepanjang hari tanpa melakukan usaha yang berarti. Padahal hal ini dapat memperparah penyebaran penyakit akibat kekurangan sinar matahari dan udara segar.

Sistem perekonomian pada masa ini juga sangat tidak adil karena hanya memperkaya raja, keluarga bangsawan, dan gereja. Hanya masyarakat petani yang wajib membayar pajak berupa hasil panen ke tuan tanah pelindungnya. Sistem yang diskriminatif ini menetapkan bahwa hanya raja, bangsawan, dan gereja yang boleh memiliki tanah pertanian. Petani atau rakyat biasa hampir tidak ada hak apapun selain kewajiban untuk bekerja dan bekerja. Sementara bangsawan feodal dan para petinggi gereja makan malam penuh makanan lezat dan kemewahan, rakyat biasa banyak yang kelaparan.

Sudah dapat ditebak jika kekuasaan bersifat tidak adil serta diskriminatif, sementara ilmu pengetahuan dikekang, maka akan lahirnya kebodohan dan kemiskinan akut. Hal ini pun berdampak pada mandeknya perekonomian. Selama masa abad kegelapan, hampir tidak ada perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi produk baru. Padahal, dua hal inilah yang sangat penting dan krusial bagi perkembangan Ekonomi dan kesejahteraan.

Memasuki masa renaissans (kelahiran kembali) pada abad ke 16, Eropa mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kekuasaan gereja pada kehidupan masyarakat mulai dikritisi atau dipertanyakan serta dilemahkan secara bertahap karena masyarakat tidak yakin bahwa gereja memiliki segala jawaban. sistem feodal yang memperkaya bangsawan feodal dan petinggi gereja, mulai ditinggalkan. Ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat dengan munculnya cendekiawan cendekiawan baru. Karena pada masa ini akal budi, nalar, dan sifat kritis manusia mulai dihidupkan kembali, sehingga masa ini disebut sebagai masa fajar budi. Setelah masa renaissans, banyak negara-negara Eropa yang memisahkan agama dan perpolitikan negara, karena mereka tidak ingin lagi tenggelam  ke dalam abad kegelapan. 

Belajar dari kasus abad kegelapan Eropa, kondisi diatas sedang menyergap Indonesia. Radikalisme, intoleransi, dan pemikiran dangkal sedang menghantui bangsa ini. Pemilihan Gubernur dan Wakil pada 2017 pun sarat dengan ini. Isu perbedaan agama digoreng demi merebut kekuasaan. Alhasil, pemimpin yang lebih kompeten tersingkir hanya karena berbeda agama. Sistem sosial masyarakat juga masih jauh dari keadilan. Perpolitikan bangsa masih bersifat KKN serta penegakan hukum masih lemah, alhasil angka kemiskinan masih tinggi karena hampir tidak ada kesetaraan antar warga negara. Kesejahteraan seperti hanya dimiliki oleh kaum kaya, pejabat tinggi, dan orang-orang yang mempunyai koneksi pada pejabat. Tentu kita tidak ingin bangsa ini tenggelam ke dalam abad kegelapan seperti Eropa. Sebagai manusia biasa tidak banyak yang dapat kita lakukan, namun kita sebagai manusia mempunyai akal budi, nalar, dan sifat kritis, serta hak untuk hidup yang lebih baik. Semua itu harus kita kembangkan agar kita tidak lantas menelan mentah-mentah atau patuh buta pada suatu hal. Wajib bagi kita untuk mengkritisi apapun dan siapapun jika ada kejanggalan. Kita tidak akan lagi mempunyai pemikiran yang dangkal, sehingga kita bisa mempunyai daya analisis yang tajam. Dengan ini kita menjadi lebih bijaksana dan menerima perbedaan.

Sunday, 5 January 2020

Manajemen Perubahan dan Hukum Gerak Newton





Sepanjang kehidupan kita banyak sekali perubahan, baik yang pasti maupun yang tidak pasti seperti keuangan, bisnis, karir, bahkan jodoh. Ada yang bilang bahwa perubahan tidak pernah berhenti dan kita sedang berada dalam proses perubahan itu sendiri. 
Kita harus selalu optimis karena pada dasarnya perubahan akan membawa kita kepada pembaharuan ke arah yang lebih baik lagi walaupun menurut kita itu agak buruk tetapi itu hanyalah penilaian kita karena semuanya akan berubah secara otomatis menyesuaikan keadaan. 

Pada artikel ini saya akan membahas tentang Manajemen Perubahan yang menjelaskan mengapa organisasi dan individu sulit melakukan perubahan. Ilmu Manajemen Perubahan termasuk ilmu sosial namun banyak sekali peristiwa alam yang mengalami perubahan-perubahan agar terjadi keseimbangan fundamental serta dapat dihubungkan ke ilmu Manajemen Perubahan. misalnya peredaran benda-benda langit di Alam semesta, atau keseimbangan tingkat populasi pada rantai makanan. 

Sudah banyak kasus organisasi yang harus ditutup atau gulung tikar karena tidak dapat melakukan perubahan. Mengapa banyak organisasi yang sulit untuk melakukan perubahan padahal secara pengalaman dan sumber daya, mereka cukup baik. Hukum gerak Newton yang adalah bagian ilmu Fisika mampu menjelaskannya. Masih ingatkah anda hukum gerak yang dikemukakan oleh Sir Isaac Newton (1643-1727) yang berbunyi:
  1. Setiap benda akan mempertahankan keadaan geraknya ataupun diamnya (kelembaman) kecuali jika diberikan energi eksternal. 
  2. Percepatan berbanding lurus dengan gaya dan berbanding terbalik dengan massa benda.
  3. Setiap gaya yang kita kerjakan (aksi) terdapat gaya timbal balik yang sama besarnya tetapi arahnya berlawanan (reaksi) ini disebut juga hukum aksi-reaksi. 

Hukum pertama menjelaskan bahwa sulitnya organisasi berubah karena terjadinya kelembaman,  mereka sudah mempertahankan keadaannya dan untuk merubah diperlukan energi atau usaha yang tidak sedikit sehingga organisasi tersebut sulit untuk melangkah menuju perubahan atau istilah anak muda sekarang yaitu mager. Namun jika organisasi tersebut terus tidak bergerak maka ia akan terus mempertahankan keadaannya sehingga tidak akan ada perubahan selamanya. Oleh karena itu diperlukan langkah awal yang berarti untuk memulai pergerakan menuju perubahan. Karena seribu langkah dimulai dari satu. Contoh kasus seperti ini yaitu tentang inovasi disruptif yang dialami perusahaan Astra Honda Motor. Perusahaan ini memiliki pangsa pasar produk motor bebek nomor satu. Perusahaan saingannya yaitu Yamaha merancang sebuah produk baru yaitu skutik (motor matik) bernama Mio dengan target utama wanita. Mereka turut menjalani perubahan tren yang akan datang yaitu tren motor matik terutama untuk kaum hawa. Honda bisa saja memasarkan produk skutik lebih dulu tetapi honda mengalami kelembaman karena sudah nyaman dengan motor bebeknya sehingga Honda tidak mau bergerak karena produk barunya bisa saja mematikan produk bebek andalannya. Saat Yamaha mulai sukses dengan Mio-nya, akhirnya Honda mulai bergerak dengan meluncurkan skutiknya yaitu Honda Vario untuk menyaingi Yamaha. Honda telah melakukan perubahan sehingga pangsa pasarnya tetap terjaga bahkan produk Vario-nya mampu menyaingi Mio-nya Yamaha dan keadaan Honda menjadi lebih baik lagi karena mengambil langkah perubahan.

Sedangkan Hukum ketiga yang menjelaskan Hukum Aksi-Reaksi menyatakan bahwa setiap perubahan yang akan datang maupun yang sedang dikerjakan pasti akan ada orang atau kelompok tertentu yang menolak perubahan tersebut dengan alasan tertentu. Kondisi ini ternyata memang wajar terjadi di masyarakat dan memang telah dijelaskan oleh Hukum gerak Newton ketiga. Contohnya saat ini sedang digencarkan penggunaan BPJS Kesehatan, namun ada kalangan tertentu yang menolak yaitu kalangan industri asuransi dan klinik swasta yang merasa dirugikan serta masyarakat yang mengeluhkan pelayanan BPJS yang tidak memuaskan. Akibatnya banyak sekali kabar-kabar penolakan BPJS yang dibuat oleh masyarakat yang kontra pada BPJS, dengan menyebarkan berita-berita kekurangan BPJS supaya orang lain tidak mau menggunakannya.

Lalu bagaimanakah supaya berpikir jernih terhadap perubahan agar kita bisa menerima dan melakukannya?

Pertama, hilangkan dogma:
Jika kita terus-terusan meyakini dogma maka akan sulit melakukan perubahan. Siapa yang menyangka bahwa Personal Computer (PC) dulu hanya dianggap mainan yang tidak berguna dan akan segera mati? Namun sekarang PC adalah produk yang sangat penting terutama untuk perkantoran. Siapa yang menyangka bahwa penciptaan roket dulu dikatakan mustahil karena dibutuhkan tangki yang besar untuk memuat bahan bakar? Jika semua orang percaya ini maka manusia tidak akan pernah menjejakkan kaki di bulan, tidak akan ada komunikasi lintas benua, tidak akan ada GPS atau bahkan internet. Itulah dogma, jika kita terus mempercayainya maka ini akan membuat kita mengingkari perubahan sehingga menjauhkan kita dari kemajuan. Oleh karena itu ada saatnya kita menghilangkan dogma yang telah lama bercokol di pikiran kita.

Kedua, Prinsip pendulum berputar spiral: Kita mungkin menganggap bahwa suatu keadaan masa lalu akan terjadi lagi di masa depan seperti bandul pada jam yang bergerak bolak-balik. Hal seperti itu tidak benar, keadaan pada masa lalu tidak akan terjadi lagi di masa depan. Tetapi keadaan di masa depan biasanya terjadi berdasarkan keadaan masa lalu serta ada kemiripan. Ini seperti pergerakan pendulum yang bergerak spiral. Contohnya saat ada tren-tren bisnis benda seni seperti ikan louhan, tanaman anthurium, dan batu akik. Semua benda tersebut sempat mengalami kenaikan yang terlampau tinggi melewati nilai fundamentalnya, saat tren melemah harganya jatuh bahkan hampir tidak ada harganya lagi. Jadi, ketiga tren di atas tidak akan terulang lagi di masa depan, namun ketiga benda tersebut mempunyai karakter yang sama yaitu sama-sama benda seni. Kira-kira apa lagi ya, benda seni yang akan jadi tren di masa depan? Oleh karena itu saat kita memasuki era baru kita harus berpikir dengan cara baru seperti pola pendulum spiral. 

Ketiga, hilangkan kelembaman dan mulailah bergerak: 
ini sangat penting untuk mulai melangkah walaupun hanya sebuah langkah kecil yang berarti, supaya kita bisa bergerak dan melakukan perubahan. Karena kalau kita terus diam saja maka akan terus diam saja selamanya dan tidak akan ada perubahan. Oleh karena itu mulailah bergerak melakukan suatu tindakan atau perubahan sekecil apapun. Ingat, bahwa seribu langkah dimulai dari satu. 

Keempat, berdasarkan hukum Aksi-Reaksi: Kita tidak dapat melakukan perubahan dalam waktu sekejap karena ini bisa menimbulkan penolakan yang sama besarnya. Proses perubahan harus dilakukan perlahan atau selangkah demi selangkah seperti sosialisasi yang mendidik, mendukung, persuasif, dan kekeluargaan, agar masyarakat bisa bersiap-siap untuk menyesuaikan diri terhadap perubahan. 

Demikian artikel yang saya sajikan. Semoga artikel ini membuat para pembaca berpikir jernih dan dapat menerima atau melakukan perubahan yang ada.