Radikalisme Agama, Abad Kegelapan dan Kemunduran Ekonomi
Siapa bilang salah satu benua terkaya di dunia ini tidak pernah mengalami masa kelam. Eropa pun tak luput dari pengalaman buruk dengan kemiskinan, wabah penyakit, tingkat kriminal, pembunuhan massal dan bahkan radikalisme agama yang sangat intoleran.
Abad Kegelapan atau Pertengahan dimulai pada tahun 476 M hingga 1453 M. ini dimulai setelah kejatuhan Kekaisaran Romawi Barat serta bangkitnya Kekaisaran Romawi Timur yang beribu kota di Konstantinopel. Masa ini berakhir ketika Kekaisaran Utsmaniyah yang dipimpin Sultan Mehmet II menaklukkan kota Konstantinopel pada tanggal 29 Mei 1453 lalu merubahnya menjadi kota Istanbul hingga hari ini. Sesudah penaklukkan Konstantinopel, terjadilah Penjelajahan Samudera dan dimulainya Era Renaissans yang ditandai dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan kembalinya humanisme.
Selama masa abad kegelapan, Eropa mengalami stagnasi dan kemunduran. Kebodohan dan kemiskinan pun menyelimuti. Pada masa ini, Organisasi Gereja sangatlah berkuasa dan mengatur segala sendi kehidupan masyarakat. Segala hal yang tidak berkaitan dengan gereja atau agama dianggap melanggar hukum dan sesat. Bahkan, gereja sangat berkuasa melebihi raja. Gereja sangatlah intoleran, orang Muslim dan Yahudi banyak mengalami diskriminasi dan persekusi karena dianggap sesat oleh gereja. Pada tahun 1290, Raja Inggris Edward I pernah mengusir seluruh orang Yahudi dari Inggris.
Tak terkecuali perkembangan ilmu pengetahuan empiris, yang juga dikekang karena dianggap tidak sesuai dengan nilai-nilai gereja, sehingga dianggap sesat dan melanggar hukum. Orang-orang tidak berani untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengkritisi masalah sosial karena tekanan dari pihak gereja. Mereka semua hanya hidup sesuai dogma-dogma gereja. Akal budi, nalar, dan sifat kritis manusia dikekang sebisa mungkin. Padahal ketiga itulah sifat alami manusia untuk mengembangkan dirinya. Alhasil, banyak orang-orang yang merasa tidak berguna untuk mempelajari ilmu baru selain ilmu dan teori dari gereja. Ini membuat mereka tidak mempunyai visi yang jelas untuk membangun peradaban. Gereja menganggap hidup manusia sudah ditentukan oleh sang Maha Kuasa, sehingga tidak perlu untuk mengembangkan dirinya dan mempertanyakannya lagi. Kebodohan pun meningkat. Saat terjadinya wabah pes Black Death pada 1347-1351 banyak yang menganggap bahwa ini adalah hukuman Tuhan. Sehingga yang mereka lakukan hanyalah berdoa dan berlindung di dalam gereja sepanjang hari tanpa melakukan usaha yang berarti. Padahal hal ini dapat memperparah penyebaran penyakit akibat kekurangan sinar matahari dan udara segar.
Sistem perekonomian pada masa ini juga sangat tidak adil karena hanya memperkaya raja, keluarga bangsawan, dan gereja. Hanya masyarakat petani yang wajib membayar pajak berupa hasil panen ke tuan tanah pelindungnya. Sistem yang diskriminatif ini menetapkan bahwa hanya raja, bangsawan, dan gereja yang boleh memiliki tanah pertanian. Petani atau rakyat biasa hampir tidak ada hak apapun selain kewajiban untuk bekerja dan bekerja. Sementara bangsawan feodal dan para petinggi gereja makan malam penuh makanan lezat dan kemewahan, rakyat biasa banyak yang kelaparan.
Sudah dapat ditebak jika kekuasaan bersifat tidak adil serta diskriminatif, sementara ilmu pengetahuan dikekang, maka akan lahirnya kebodohan dan kemiskinan akut. Hal ini pun berdampak pada mandeknya perekonomian. Selama masa abad kegelapan, hampir tidak ada perkembangan ilmu pengetahuan dan inovasi produk baru. Padahal, dua hal inilah yang sangat penting dan krusial bagi perkembangan Ekonomi dan kesejahteraan.
Memasuki masa renaissans (kelahiran kembali) pada abad ke 16, Eropa mengalami perkembangan yang cukup pesat. Kekuasaan gereja pada kehidupan masyarakat mulai dikritisi atau dipertanyakan serta dilemahkan secara bertahap karena masyarakat tidak yakin bahwa gereja memiliki segala jawaban. sistem feodal yang memperkaya bangsawan feodal dan petinggi gereja, mulai ditinggalkan. Ilmu pengetahuan mulai berkembang pesat dengan munculnya cendekiawan cendekiawan baru. Karena pada masa ini akal budi, nalar, dan sifat kritis manusia mulai dihidupkan kembali, sehingga masa ini disebut sebagai masa fajar budi. Setelah masa renaissans, banyak negara-negara Eropa yang memisahkan agama dan perpolitikan negara, karena mereka tidak ingin lagi tenggelam ke dalam abad kegelapan.
Belajar dari kasus abad kegelapan Eropa, kondisi diatas sedang menyergap Indonesia. Radikalisme, intoleransi, dan pemikiran dangkal sedang menghantui bangsa ini. Pemilihan Gubernur dan Wakil pada 2017 pun sarat dengan ini. Isu perbedaan agama digoreng demi merebut kekuasaan. Alhasil, pemimpin yang lebih kompeten tersingkir hanya karena berbeda agama. Sistem sosial masyarakat juga masih jauh dari keadilan. Perpolitikan bangsa masih bersifat KKN serta penegakan hukum masih lemah, alhasil angka kemiskinan masih tinggi karena hampir tidak ada kesetaraan antar warga negara. Kesejahteraan seperti hanya dimiliki oleh kaum kaya, pejabat tinggi, dan orang-orang yang mempunyai koneksi pada pejabat. Tentu kita tidak ingin bangsa ini tenggelam ke dalam abad kegelapan seperti Eropa. Sebagai manusia biasa tidak banyak yang dapat kita lakukan, namun kita sebagai manusia mempunyai akal budi, nalar, dan sifat kritis, serta hak untuk hidup yang lebih baik. Semua itu harus kita kembangkan agar kita tidak lantas menelan mentah-mentah atau patuh buta pada suatu hal. Wajib bagi kita untuk mengkritisi apapun dan siapapun jika ada kejanggalan. Kita tidak akan lagi mempunyai pemikiran yang dangkal, sehingga kita bisa mempunyai daya analisis yang tajam. Dengan ini kita menjadi lebih bijaksana dan menerima perbedaan.
No comments:
Post a Comment