Thursday, 3 December 2020

Negara Manakah yang Menjadi Negara Impian Sebenarnya untuk Kesejahteraan Ekonomi?






Kesetaraan distribusi pendapatan dihitung dengan menggunakan koefisien indeks gini. Semakin rendah nilai indeks rasio gini nya,  maka semakin setara distribusi pendapatannya, yang berarti kesetaraan ekonomi lebih merata dan mobilitas sosial lebih mudah. 




Negeri makmur yang terletak di Skandinavia ini mempunyai citra yang sangat baik di dunia.  Lihat saja, angka Indeks Pembangunan Manusia nya berada di peringkat satu pada tahun 2018 dengan nilai 0.954. Negara ini juga menempati peringkat ketiga negara terbahagia di dunia menurut laporan the 2019 Hapiness Index yang dirilis oleh PBB. Negara ini juga memiliki angka Rasio Indeks Gini yang masuk dalam angka terendah yaitu 26.8 (Peringkat 10 terendah). Rasio gini Amerika Serikat saja 41,5. Negara manakah yang dimaksud? 

Negara ini adalah negara Norwegia. Negara dengan populasi sekitar 5,3 juta ini memiliki pendapatan perkapita sebesar US$ 75.420 per tahun 2019 (Peringkat keenam di dunia). Negara ini dikenal sebagai negara impian untuk meraih kemakmuran ekonomi karena memiliki kesetaraan ekonomi yang lebih merata dibandingkan Amerika Serikat dan Inggris. Benarkah demikian? 

Ada dua fakta unik yang menjelaskan betapa Norwegia pantas dikatakan sebagai negara impian yang sebenarnya untuk kesejahteraan ekonomi. Jadi, anda sangat berpeluang besar dari zero to hero jika berada di Norwegia.

Fakta pertama, Norwegia adalah salah satu negara dengan mobilitas sosial termudah. Misalnya, ada 5 kelas ayah-ayah yang masing-masing memiliki pendapatan yang berbeda. Ada ayah yang berpendapatan tertinggi (Ayah terkaya) dan terendah (Ayah termiskin). Asumsikan setiap kelas ayah memiliki anak lagi, setelah itu kita akan melihat apakah anak dari ayah termiskin akan menjadi ayah terkaya di masa depan?  Dan apakah anak dari ayah terkaya justru akan menjadi anak termiskin di masa depan?


Sumber: evonomics.com


Jika terjadi mobilitas yang sempurna disaat pendidikan berkualitas gratis serta biaya kesehatan yang terjangkau, maka seluruh anak dari ayah termiskin yang berjumlah 20% dari seluruh kelas yang ada, maka akan berakhir menjadi ayah yang lebih kaya dari berbagai kelas yang ada. Di Denmark, mobilitas sosial hampir mendekati sempurna sebanyak 14%, ini berarti 14% dari 20% anak ayah termiskin akan menjadi ayah yang lebih kaya lagi di masa depan. Sedangkan, Norwegia 12%, Swedia 11%, dan AS 8%. Mobilitas sosial yang hampir sempurna pada anak dari ayah termiskin terjadi karena pendidikan di negara Skandinavia sangat berkualitas dan terjangkau bahkan gratis di Norwegia. 


Sumber: evonomics.com


Sekarang kasus sebaliknya, dimana anak-anak dari seluruh kelas tersebut yang tidak berakhir menjadi ayah terkaya, tetapi justru menjadi ayah termiskin atau tetap miskin. Angka 20% adalah mobilitas sosial sempurna, di Denmark sebanyak 25% anak akan berakhir menjadi ayah yang  berpendapatan terendah atau termiskin di masa depan. Sedangkan Norwegia 28% anak akan menjadi ayah di kelas terbawah. Dan tidak mengejutkan lagi 42% anak ayah miskin di Amerika Serikat akan berakhir menjadi ayah dengan pendapatan terendah di masa depan atau tetap menjadi ayah miskin. Hal ini terjadi karena pendidikan berkualitas di Amerika Serikat sangatlah mahal, sehingga mobilitas sosial anak ayah termiskin akan terasa sulit. 

Sumber: evonomics.com


Fakta kedua, fakta yang cukup unik menyatakan bahwa distribusi kekayaan ekonomi di negara Skandinavia terutama Norwegia lebih merata dibandingkan dengan negara maju lainnya apalagi Amerika Serikat dan Inggris. 

Menurut The Wealth Report, seseorang dikatakan sebagai ultra kaya atau jutawan jika mempunyai kekayaan bersih minimal US$ 30 Juta. Selama 2018, ada lebih dari 170.000 jutawan ultra kaya di seluruh dunia. Ada lima besar negara dengan populasi jutawan ultra kaya ini, yaitu: Amerika Serikat, Tiongkok, Jepang, Jerman, dan Kanada. 

Sumber: statista.com
AS sebagai negara dengan populasi jutawan ultra kaya tertinggi, disusul Tiongkok, Jepang, dst. 


Lalu, dimanakah fakta menariknya? Kita tidak akan berfokus kepada jumlah jutawan ultra kaya secara kuantitas di suatu negara. Tetapi, kita akan fokus pada jumlah jutawan ultra kaya per satu juta penduduk di suatu negara. Kita akan membagi populasi jutawan ultra kaya dengan jumlah penduduk di suatu negara. Ternyata, Norwegia lah yang memiliki jutawan ultra kaya per satu juta penduduk tertinggi yaitu ada 484 jutawan ultra kaya per satu juta penduduknya. Disusul oleh Swedia dengan jumlah 329, sedangkan Amerika Serikat berada di peringkat ke-13, yaitu 126 jutawan ultra kaya per satu juta penduduknya.

Sumber: evonomics.com


Sekarang kita hitung lagi jumlah populasi biliuner per satu juta penduduknya. Lagi-lagi peringkat tiga besar negara teratas ditempati oleh negara-negara Skandinavia. Norwegia berada di peringkat ketiga, dengan jumlah biliuner sebanyak dua orang per satu juta penduduknya. 


Sumber: evonomics.com


Nah, dengan jumlah miliuner dan biliuner per satu juta penduduk yang lebih besar dari negara maju lainnya, mengindikasikan bahwa  negara-negara Skandinavia memiliki kesenjangan ekonomi yang lebih rendah dengan distribusi kekayaan ekonomi yang lebih merata. 

Bagaimana hal ini terjadi? 

Ada dua sebab yang melatarbelakangi mengapa negara-negara Skandinavia terutama Norwegia memiliki mobilitas sosial yang lebih mudah serta distribusi kekayaan ekonominya yang lebih merata. yaitu:

Pendidikan berkualitas gratis:
Norwegia adalah satu-satunya negara Eropa bahkan dunia yang menggratiskan seluruh biaya pendidikan dari TK hingga S3 untuk seluruh penduduknya bahkan orang asing sekalipun. Dengan pendidikan berkualitas yang gratis, maka akan lebih banyak orang yang dapat memaksimalkan potensi dan bakatnya untuk berkontribusi pada kegiatan ekonomi. Banyaknya tenaga ahli berpendidikan yang terlibat dalam kegiatan ekonomi justru akan meningkatkan produktivitas dan mempercepat pembangunan ekonomi. 

Perawatan kesehatan yang terjangkau:
Norwegia juga memiliki salah satu sistem perawatan kesehatan terbaik di dunia. Seluruh biaya perawatan kesehatan untuk anak dibawah 16 tahun seluruhnya di tanggung negara. Sedangkan untuk warga yang berusia diatas 16 tahun maksimal hanya membayar perawatan kesehatan sebesar 2000 Krona atau Rp 3 jutaan pertahun. Diatas itu, hampir seluruh biaya perawatan kesehatan ditanggung oleh negara. Beberapa pengecualian yaitu perawatan gigi, optik atau kacamata, dan kulit. 

Lalu, dari mana Norwegia dapat membiayai program-program sosialnya yang tentu memakan biaya yang tidak sedikit?
Ada satu fakta mutlak yang tidak dapat diganggu gugat bagaimana Norwegia dapat menjadi negara kaya, yaitu minyak bumi. 


Dengan kekayaan minyaknya, Norwegia tidak kalah dengan pangeran-pangeran Arab.


Norwegia masuk jajaran negara paling kaya di dunia karena melimpahnya sumber daya alam minyak bumi. Kebanyakan negara terkaya biasanya juga sesama negara minyak, atau juga negara dengan sektor finansial kuat seperti Singapura dan Swiss.

Dalam hal produksi sendiri, Norwegia mampu memproduksi 2 Juta Barel minyak per hari, bandingkan dengan Indonesia yang hanya mampu memproduksi sekitar 1 Juta Barel per harinya. 

Norwegia juga memiliki keuntungan lain dari banyak negara lain di bumi ini yang memiliki kekayaan SDA yang melimpah terutama Indonesia dan negara-negara kaya berlian di Afrika. Yaitu, Populasi Norwegia terbilang sedikit dan institusi pemerintahannya juga bersih dari KKN. Sehingga kekayaan dari hasil penjualan minyak bumi sangatlah dikelola dengan baik untuk membangun ekonomi negaranya dan juga kesejahteraan rakyatnya.

Bagaimanapun juga, SDA minyak bumi akan menipis dan habis. Pemerintah Norwegia pun sudah mengantisipasi hal ini jauh-jauh hari. Untungnya, mereka tidak menghamburkan kekayaan dari penjualan minyak secara sembarangan. Uang dari hasil penjualan minyak bumi tetap dikelola dengan baik dengan menginvestasikannya kembali ke sektor-sektor lainnya. Lalu, bagaimana mereka mengelola uang dari hasil penjualan minyaknya? 

Jawabannya yaitu pembentukan Sovereign Wealth Fund atau dana abadi negara. Sovereign Wealth Fund adalah sebuah portofolio investasi yang dikelola oleh suatu negara untuk menghasilkan keuntungan, baik berupa dividen ataupun capital gain yang dapat digunakan untuk membiayai APBN negara maupun pembiayaan program-program pemerintah lainnya. 

Sumber: statista.com


Dana abadi pemerintah Norwegia bernama GPFG (Government Pension Fund - Global),  dana abadi ini memiliki nilai aset terbesar di dunia senilai lebih US$1 Triliun atau lebih tepatnya sebesar US$ 1.122.110.000.000 selama tahun 2019 (Waduh, berapa tuh nol nya!?). Dana abadi ini kurang lebih sama besarnya dengan PDB Indonesia. 

Norwegia telah membangun dana abadi negaranya pada tahun 1967, sehingga dibutuhkan kurang lebih 50 tahunan untuk mencapai angka US$1 Triliun tersebut. Di dunia hanya ada 4 dana abadi negara lainnya yang lebih tua, yaitu milik Afrika Selatan, Kuwait, Arab Saudi, dan Kiribati. Sementara itu, kebanyakan dana abadi negara mulai dibentuk pada tahun 1990-an dan 2000-an. Sehingga, Norwegia sudah punya 3 dekade pengalaman dalam membentuk dan mengelola dana abadi negaranya.




Dapat dilihat pada ringkasan realisasi APBN Norwegia dari tahun 2017–2019 diatas, dana abadi negaranya atau GPFG secara konsisten menghasilkan dividen dan bunga sebesar 2% dari seluruh nilai aset dana abadinya atau lebih dari 200 Milyar Krone, atau sekitar US$25 Milyar (Rp 350 Triliun). Ingat, ini baru hasil dari bunga dan dividen, belum termasuk capital gainnya. Dengan nilai aset sebesar US$ 1 Triliun, dividen dan hasil dari bunganya yang sebesar 2% saja sudah cukup signifikan untuk membantu pembiayaan program pemerintahan.

Oleh karena itu, setiap tahun penduduk Norwegia (total ada 5.3 juta) akan mendapatkan manfaat tidak langsung sekitar US$4700 atau Rp 66 juta (Asumsi kurs Rp 14.000 per dolar) dari bunga dan dividen tahunan dari dana abadinya yang dapat dirasakan lewat program-program pemerintahnya.

Walaupun hanya imbal hasilnya hanya 2%, US$ 25 Milyar tersebut ternyata cukup membiayai APBN Norwegia sebanyak sekitar 16% pada tahun 2019, dan mampu membuat APBN Norwegia menjadi surplus tanpa perlu menambah hutang lagi. 

Itulah yang membuat Norwegia mampu membiayai berbagai macam program-progran sosialnya, yang terdiri dari biaya perawatan kesehatan yang sangat terjangkau, dan pendidikan gratis sampai tingkat universitas untuk siapapun. Tidak heran, rakyat Norwegia memiliki kesempatan dan kesetaraan ekonomi yang lebih baik, sehingga mobilitas sosial mereka lebih mudah dan juga distribusi kekayaan ekonominya lebih merata.

Jadi, rahasia sukses ekonomi Norwegia, kalau kita bisa simpulkan, yaitu: Keuntungan dari penjualan minyak bumi yang dikelola dengan baik (tidak dikorupsi) dan diinvestasikan kembali, institusi pemerintahannya yang bersifat inklusif bersih dari KKN, dan jumlah populasinya sedikit dengan SDM nya yang lebih berkualitas. 

Norwegia memang negara utopia yang nyata benar adanya.

Thursday, 29 October 2020

Ajaran Etika Protestan Untuk Kemajuan Ekonomi

 

Sumber : slideshare.net



Hingga hari ini mayoritas negara Eropa yang menganut Protestan seperti Jerman, Belanda, Skandinavia, dan Inggris memiliki ekonomi yang lebih maju dibandingkan negara Eropa lain yang mayoritas penduduknya memeluk agama Katolik dan Orthodox seperti Spanyol, Italia, Yunani, dan Rusia. 

Apa yang membuat negara Eropa penganut Protestan cenderung memiliki ekonomi yang lebih kaya dibanding negara Eropa lain yang bukan Protestan?

Apakah faktor agama saja dapat mempengaruhi kemajuan ekonomi suatu negara?


Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme

Pada tahun 1904, seorang Sosiolog dari Jerman yang bernama Max Weber mengeluarkan sebuah tesis yang berjudul "Die Protestantische Ethik und Der Geist Des Kapitalismus" atau dalam bahasa Indonesia berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme. Tesis ini membahas tentang semangat kerja duniawi kaum Protestan demi meraih kesuksesan duniawi yang juga dipandang sebagai sebuah kewajiban ibadah kepada Tuhan dan bertujuan untuk kemuliannya. 

Melalui penelitiannya, Weber menyelidiki mengapa orang-orang Protestan bekerja lebih keras, lebih lama dan lebih berhasil dalam menjalani usahanya dibandingkan orang-orang Katolik, serta mengapa ajaran agama Kristen Protestan lebih menekankan terhadap etos kerja duniawi.

Kaum Protestan memanfaatkan sistem ekonomi baru yang sebelumnya hanya menguntungkan raja dan keluarga bangsawan. Berkembangnya sistem kapitalisme dipandang sangat cocok dengan semangat keagamaan mereka yang lebih menekankan kerja duniawi untuk meraih kekayaan atau kesuksesan.

Sistem ekonomi Kapitalisme berkembang tidak lama setelah Reformasi Protestan terjadi bermula dari tahun 1517, saat Martin Luther memasang 95 keluhan di pintu kapel kastil Wittenberg. Hasil dari reformasi ini yaitu terpisahnya gereja Katolik dan Protestan. 

Cara hidup umat Katolik berpandangan bahwa hidup sederhana tanpa mengakumulasi kekayaan atau menjadi biarawan, dipandang sebagai hidup yang mulia untuk melayani Tuhan karena dianggap sesuai ajaran moral Katolik.

Sedangkan ajaran Protestan justru menganggap sebaliknya. Bahwa kerja keras yang bersifat keduniawian juga dianggap sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan dan dipandang sebagai suatu kehormatan untuknya. Tidaklah berdosa ataupun tidak bermoral jika kita mengakumulasi kekayaan. Pada hakikatnya, Kerja keras keduniawian pun juga harus dilakukan sebagai kerja untuk Tuhan dan bukan untuk diri sendiri, seperti yang tertulis dalam Bibel pada Roma 13:36. Tak heran jika umat Protestan dapat mencurahkan lebih banyak waktunya untuk bekerja tanpa merasa takut meninggalkan Tuhan. Hal ini cukup membantu mereka agar semakin produktif dari pada hanya melakukan ritual agama secara berlebihan. Agama Protestan pun juga mempunyai ritual yang lebih simpel dibandingkan Katolik.

Dengan kecenderungan keimanan pada kerja yang bersifat keduniawian, seorang Protestan  wajib untuk mengejar kesuksesan di dunia demi pengabdiannya kepada Tuhan. Mereka pun menggunakan agama bukan sekedar penghiburan untuk lari dari masalah dunia. Maka berkembanglah pandangan hidup khas Protestan yang wajib diterapkan oleh pengikutnya serta diiringi oleh semangat kapitalisme yang menurut Weber terdiri dari: bekerja keras, hidup hemat, mengakumulasi kapital atau kekayaan, serta menginvestasikan kembali keuntungannya. 

Umat Protestan pun tetap dituntut untuk  hidup sederhana dan tidak menghabiskan seluruh uangnya, dan wajib menginvestasikan uangnya kembali agar tetap produktif. Menginvestasikan uang kembali harus dilakukan agar akumulasi kapital terus meningkat. 

Hasil dari prinsip Etika Protestan ini sungguh positif, tak heran banyak negara yang mayoritas penduduknya menganut Protestan lebih kaya ekonominya, seperti Jerman, Skandinavia, Belanda, Inggris, hingga Amerika Serikat. Bandingkan dengan negara Kristen lainnya yang ekonominya cenderung biasa saja seperti Italia, Spanyol, dan Rusia (Hanya Prancis dalam pengecualian).

Bagaimanapun juga, kita tidak bisa menjustifikasi secara mutlak bahwa kemajuan negara-negara Protestan terjadi karena mereka menganut agama Protestan. Ajaran Etika Protestan pada hakikatnya banyak juga diterapkan di agama dan negara lainnya. Tentu ada banyak faktor-faktor lain yang membuat negara Eropa Barat memiliki ekonomi yang lebih kaya. 

Friday, 2 October 2020

Depresi Besar 1930-an yang Menenggelamkan Ekonomi Amerika Serikat dan Dunia

 

Korban PHK masa Depresi Besar yang gigih mencari pekerjaan.
Sumber: theday.co.uk


Amerika Serikat pernah tenggelam dalam krisis ekonomi terparah sepanjang masa, krisis ini lebih dikenal dengan sebutan Depresi Besar 1930-an. Depresi Besar disebut sebagai krisis ekonomi terparah, terburuk, dan terlama sepanjang sejarah, dimana pada masa itu ekonomi dunia benar-benar jatuh.

Bagaimana krisis besar ini terjadi hingga menghancurkan ekonomi Amerika dan dunia selama satu dekade?

Sebelum krisis terjadi, kenapa Amerika justru mengalami pertumbuhan ekonomi yang spektakuler hingga dijuluki The Roaring Twenties?

Apakah Teori Seleksi Alam Charles Darwin bisa menjelaskan kejadian ini?

Apakah Perang Dunia II justru membawa dunia keluar dari krisis ini?


Masa Roaring Twenties

Depresi Besar 1930-an justru terjadi setelah masa pertumbuhan ekonomi yang fantastis pada dekade 1920-an. Selama masa itu, Amerika sangat berkembang pesat dan dikenal sebagai tahun 1920-an yang menggebu, sehingga dijuluki sebagai The Roaring Twenties. 

Pertumbuhan ekonomi yang pesat memicu spekulasi pada pasar keuangan. Hal ini memicu harga saham naik gila-gilaan, gelembung pasar saham pun tak terelakkan. Harga saham terus menanjak tanpa nilai fundamental yang kuat, gelembung saham ini tentunya dapat meledak kapan saja. 

Teori Seleksi Alam Charles Darwin yang menjelaskan bahwa pertumbuhan suatu makhluk hidup yang terlalu pesat, lama-lama pertumbuhan mereka akan menurun dan bisa punah. Melonjaknya ekonomi pada masa roaring twenties justru membuat kemunduran ekonomi di periode selanjutnya menjadi tak terelakkan.


Penyebab Awal Terjadinya Depresi Besar

Menggeliatnya perekonomian Amerika bermula saat meletusnya Perang Dunia I pada tahun 1914 - 1918, Saat daratan Eropa dilanda perang besar dan mengakibatkan produksi gandum terganggu, permintaan gandum justru meledak untuk memenuhi kebutuhan pangan tentara dan penduduk Eropa yang dilanda perang. 

Harga gandum meningkat drastis dari harga $ 0.78 per bushel pada 1913, menjadi $ 2,12 per bushel pada 1917. Meningkatnya harga gandum membuat petani gandum di Kansas, Amerika mendapat berkah. 

Longgarnya persyaratan kredit karena suplai uang yang memadai serta rendahnya tingkat bunga, membuat petani mulai mengambil pinjaman secara agresif untuk mengembangkan kebun gandumnya. 

Melonjaknya permintaan lahan untuk kebun gandum membuat harga tanah melonjak. Hal ini memicu spekulan tanah ikut membeli tanah untuk spekulasi, harga properti lain pun juga ikut meroket. 

Harga saham perusaham gandum dan properti pun ikut meroket, sehingga memancing aksi spekulasi besar-besaran di pasar saham. 

Harga-harga saham di sektor lain pun juga ikut melonjak merespon menggeliatnya perekonomian karena naiknya permintaan agregat dan konsumsi.

Pada masa itu pabrik-pabrik juga lebih produktif dengan teknologi baru, sehingga kegiatan produksi juga menggeliat dan menimbulkan oversupply barang-barang industri seperti gandum, besi dan baja.

Tak heran jika selama dekade 1920-an, Ekonomi Amerika menggeliat dan dijuluki The Roaring Twenties. Melonjaknya harga saham mencetak orang-orang kaya baru. Ada julukan bahwa setiap orang dapat menjadi orang kaya. Mereka membeli saham bukan berdasarkan fundamental perusahannya, tetapi karena spekulasi.

Memasuki akhir dekade 1920-an, Keadaan Eropa membaik dan kegiatan ekonomi mereka mulai berjalan lagi. Hal ini menyebabkan permintaan gandum Amerika turun drastis dan membuat harga gandum juga ikut turun. Alhasil, banyak petani gandum yang mengalami overproduksi dan kelebihan persediaan mengalami kerugian yang besar dan tidak dapat melunasi pinjaman bank. 

Angka kredit macet pun melonjak. Banyak perusahaan perkebunan gandum dan perbankan yang merugi hingga sahamnya ikut jatuh. Hal ini merembet ke saham-saham lainnya, kejatuhan pasar saham pun dimulai.


Jatuhnya Pasar Saham Mengawali Terjadinya Krisis Parah Selama Satu Dekade

Setelah harga saham naik gila-gilaan selama dekade 1920-an, Indeks Dow Jones mulai mencapai puncaknya pada 4 September 1929 di posisi 381,17. Memasuki 24 Oktober 1929, drama pun dimulai. Indeks Dow Jones jatuh sedalam 11% dan terjadi aksi panic selling. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan Black Thursday atau Kamis Kelam. 

Indeks Dow Jones terus jatuh hingga mencapai titik terendah pada 8 Juli 1932 di level 41,22 atau jatuh hingga minus 89,2%. Indeks ini baru pulih dan kembali mencapai harga pada level puncak sebelumnya di 381,17 setelah 25 tahun tepatnya pada 23 November 1954.


Terjadinya Bank Panic

Saat harga-harga saham anjlok akibat banyak bisnis yang gagal hingga kolaps, lonjakan kredit macet pun terjadi. Bank-bank mengalami kerugian hingga miliaran dolar dan menggerus nilai aset mereka sebanyak kurang lebih 35%. Banyak nasabah bank yang panik mulai menyerbu bank untuk menarik sisa uangnya di bank, bank panic pun terjadi.

Suplai uang pun semakin menurun karena orang-orang mulai kehilangan kepercayaan kepada bank dan lebih memilih menyimpan uangnya di bawah kasur. Bank-bank mulai memperketat pinjaman dan cenderung menaikkan rasio cadangan minimumnya. 

Akibatnya, Suplai uang semakin menurun hingga 28%. Menurunnya suplai uang dan penurunan kredit atau pinjaman justru memperparah penurunan ekonomi karena investasi dan konsumsi menjadi terhambat, sehingga menekan permintaan agregat. Deflasi pun tak terelakkan, harga-harga barang turun sedalam 33%.

Banyak orang yang akhirnya lebih memilih tidak membelanjakan uangnya karena nilai uang justru semakin meningkat karena deflasi. Hal-hal ini justru memperparah krisis yang menjadi berkepanjangan.
 
The Fed seharusnya menyelamatkan bank-bank yang hampir kolaps dengan menyuntik sejumlah dana agar suplai uang meningkat kembali. Menambah suplai uang diperlukan untuk memicu investasi dan permintaan agregat, hal ini dapat menyelamatkan ekonomi agar kembali berjalan normal.

The Fed tidak dapat menambah suplai uang karena saat itu Amerika masih memakai standar emas. Setiap jumlah uang yang beredar harus didukung dengan cadangan emas sebanyak 40%. Hal ini menyebabkan The Fed tidak bisa menambah suplai uang saat peningkatan suplai uang justru dibutuhkan. 

Negara-negara yang telah meninggalkan standar emas seperti Inggris justru mampu pulih lebih cepat dari krisis.


Dampak Depresi Besar

Baik negara kaya maupun negara miskin terkena dampaknya. Banyak pekerja yang menyaksikan hilangnya tabungan mereka karena banyak bank yang gagal, serta investasi mereka di pasar saham pun juga ikut hancur. Hasil kerja keras mereka selama bekerja telah dilumat habis oleh merosotnya nilai-nilai aset.

Dari 1929 hingga 1933, PDB dunia menyusut sedalam minus 27%. Tingkat harga juga jatuh hingga minus 22%. Perdagangan internasional juga menurun hingga lebih dari 50%. Pada November 1933, angka pengangguran di Amerika Serikat telah mencapai rekor tertinggi yaitu 25%, diperkirakan sekitar 15 juta orang telah kehilangan pekerjaan.

Bahkan, di beberapa negara, angka pengangguran melonjak hingga lebih dari 30%. Harga pangan juga jatuh sekitar 60%. Sekitar 5000-an bank di Amerika kolaps dan harus ditutup.



Kebijakan Perbaikan Oleh Presiden F.D. Roosevelt dan Akhir Dari Depresi

Saat Franklin Delano Roosevelt terpilih sebagai presiden Amerika Serikat pada tahun 1932, beliau merancang perbaikan ekonomi dengan program New Deal nya. Program ini  berisi 47 program yang dijalankan dalam 3 tahap dari 1933-1939, program ini bertujuan untuk menstabilkan pasar keuangan, penciptaan lapangan kerja, pembentukan serikat pekerja, dan tunjangan pengangguran.

Setahun setelah penerapan New Deal, pada 1933 hingga 1936 pertumbuhan ekonomi Amerika mulai membaik kembali saat PDB nya mulai menanjak dan angka pengangguran mulai menurun.  

Selain disahkannya kebijakan New Deal, Perang Dunia II juga dianggap menolong Amerika dan dunia keluar dari krisis ini. Perang ini menyedot banyak tenaga kerja untuk bidang militer. 

Pengeluaran pemerintah untuk perang meningkat hingga lima kali lipat dari 1939 hingga 1944. Hal ini memicu naiknya permintaan agregat dan mendorong kegiatan ekonomi hingga dua kali lipat. Alhasil, tingkat pengangguran menurun dari 17% pada 1939, menjadi hanya sekitar 1% pada 1944 (Angka terendah dalam sejarah Amerika Serikat).

Beberapa pihak berargumen, walaupun meletusnya Perang Dunia II telah menekan jumlah pengangguran, pembiayaan perang justru memakan biaya yang cukup besar dan berpotensi menumpuk hutang. Hal ini dikhawatirkan akan menambah beban pemerintah Amerika di masa yang akan datang untuk melunasi hutangnya.

Haruskah kita memulai perang besar lagi supaya ekonomi keluar dari krisis?













Thursday, 1 October 2020

Thomas Piketty Theory on Tackling Prolonged Economic Inequality


Source: fortune.com



Introduction 

Economic inequality occurs when r > g, or the return on capital investment, always exceeds  economic growth. This condition makes rich  who have abundant wealth become richer, while poor, stay poor. In his book "Capital in the Twenty-First Century" he will explain us profoundly how dangerous economic inequality will have been.

Would economic inequality have persisted?

What solution does he have to reduce inequality?


Prominent Young Economist

A young economist who earned his PhD at the age of 22 have caused a series of debate among economists. He argues that economic inequality will get worse if more countries lift turbo capitalism to grow wildly without any significant political intervention from the government.

The economist is neither Adam Smith nor Joseph Stiglitz nor Paul Krugman. The economist is just a young man from France named Thomas Piketty.

In 2013, the book he published "Capital in the Twenty-First Century" has provoked controversy among economist. He has been dubbed by right-wing commentators as Neo-Marxist or the new Marxism.

This 685-page book explains how economic inequality has occurred throughout the history of the beginning of capitalism, especially during the industrial revolution in England in 1760. This book shows a lot of historical data up to the 1800s from both developed and developing countries.

In his book, Piketty also introduces a new formula in understanding deeply the fundamental laws of capitalism. The first fundamental law of capitalism is to calculate the percentage of total annual income from return. The formula is α = (r x β) x 100, where α is the percentage of income from the return on capital in total annual income. Whilst, r is the total percentage of return on capital, and β is the capital to annual national income ratio. 

Meanwhile, the second law of capitalism II is to figure the total capital to total annual income ratio. The formula is β = s / a where s is the total savings or total capital stock, whilst a is the total growth in national annual income, or it can also be referred to as GDP or economic growth.

Now we have a case that is very common in many countries, with relatively low economic growth of only around 1% and a higher return on investment of around 5%. For instance: there is a country with a total capital stock of € 1,500,000 with an annual income of € 100,000. Whilst, the rate of return on investment on capital or r: 5% and annual economic growth or g: 1.67%. Find the values ​​of α and β?

First, we find the value of β, where β = 1,500,000 / 100,000 = 15, it means that the total capital stock is equal to 15 years of the total annual income, or it takes 15 years to accumulate the annual income to offset the total current capital stock. 

Second, we then find α, where α = (0.05 x 15) x 100% = 75%, it means that 75% (€ 75.000) of the annual income comes from the return on capital or r. The remaining 25% (€ 25,000) of the annual income comes from the output growth or economic growth, or g.

However, we haven't identified any problem yet from here. Now we find why the value of g is at 1.67%. First, we need to validate the value of r, is it true that it is 5%?

The answer is, we divide the income from the return on capital which is 75,000 to the total capital, 75,000 / 1,500,000 = 0.05 or 5%, it holds true that the rate of return on capital is  at 5%. Now, we find the g, is it true 1.67%? The answer, 25,000 / 1,500,000 = 0.167 or 1.67%. Eventually, we made a conclusion that r = 5% and g = 1.67%. Then, what is the problem?

This is what Piketty really concerned about, where the return on capital always exceeds the economic or output growth (r > g). The percentage of r that exceeds the g only makes the capital owners with abundant wealth become richer. Meanwhile, the workers who does not have abundant wealth stay poor.

Unfortunately, in most countries the r > g condition keeps persisting, the growth almost never exceeds the return. Therefore, if this condition continues without any significant intervention from our governments, consequently the inequality would get worse in the long span of time. People who already have abundant wealth will get richer, while those who do not will likely stay poor.

In Indonesia, where the wage of employees increases by 8% per year, a = 8%, while the increase in stock prices in Indonesia or other investment assets could be up to more than 25%. Which one would be getting richer? A businessman with investment assets worth billions or those who only rely on an increase in the minimum wage of 8% per year? Keep in mind that the living costs could also increase by more than 8%.

As a French people, Piketty has warned that rising economic inequality could lead to various sorts of social, economic, and political catastrophes. This condition triggered the French revolution in 1789, where many of the French noble families including King Louis XVI and his wife Queen Marie Antoinette, were beheaded by their own people after experiencing starvation.

In addition, Piketty also criticizes Patrimonial Capitalism, where many children of the rich are still getting richer from the inheritance of their rich parents. They can be even richer without making any significant contribution to society or the economy. Their inherited wealth would certainly grow faster than the economic growth. Meanwhile, children from a middle class family will have to work a tiring job as restaurant waiter and still get paid with insufficient amount of money. It is absolutely difficult for a worker to earn one million rupiah and it is easier for rich people to earn billions of rupiah without having to do a tiring job.

Piketty also criticizes Simon Kuznets theory with his Kuznets Curve. Kuznets argued that in the early stages of economic development,  inequality tend to increase, then in the next stage of economic development, inequality will eventually subside as they achieve maturity. Nevertheless, according to their research with some evidence they have exhibited us, Piketty and his teams argued that inequality is still rising again during the 21st century due to the prolonged r > g condition.

This is where Piketty has made some solutions, he proposes progressive taxes to have been imposed upon the rich. These  progressive tax includes wealth tax, inheritance tax and income tax. The tax imposed upon wealth is at least 15% percent, while an 80% tax imposed upon the highest income earners. However, Piketty states that the priority is of course the tax on wealth and inheritance.

Income tax only makes middle class less well-off. Thus, progressive tax on wealth and inheritance are the main keys. Progressive tax on wealth and inheritance are supposed to make the distribution of wealth can be more evenly distributed and can reduce economic inequality in which are used to happen in turbo capitalist countries.

Ultimately, if Piketty is right then the consequences of turbo capitalism will make majority of people less well-off. Social mobility would be really difficult to occur. If we want to escape from poverty, there will be no way anymore, other than inheriting vast amounts of wealth.

Piketty also insists on his readers to profoundly understand what economics really is. According to him, economics is merely a social science consisting of sociology, history, anthropology, and political science. Piketty argues that economics is not a natural science in which processing quantitative data. Economics is always dynamic, not static like mathematics that freezes reality. Economy reality is always moving and never being static. Henceforth, mathematics and economics are the different things.

Ultimately, economics should have been understood philosophically and comprehensively by our reason and logic in a more systematic and practical way. As a result, when we understand better how our economy works, it can help us all to deliver an unprecedented prosperity level for all without any exception.


Wednesday, 23 September 2020

Teori Thomas Piketty: Kesenjangan Ekonomi

 

Sumber: fortune.com



Latar Belakang
Kesenjangan ekonomi terjadi karena r>g, atau return investasi kapital selalu lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Kondisi inilah yang membuat orang kaya pemilik modal terus bertambah kaya, sementara masyarakat biasa, hidupnya akan semakin sulit. Melalui bukunya "Capital in the Twenty-First Century" sang ekonom ingin menjelaskan betapa berbahayanya kesenjangan ekonomi. 

Apakah kesenjangan akan terus ada?

Solusi apakah yang ditawarkan ekonom tersebut untuk mengatasi kesenjangan ekonomi?


Ekonom Muda yang Cemerlang
Seorang ekonom muda yang meraih gelar PhD pada usia 22 tahun sempat membuat heboh kalangan ekonom. Beliau membahas tentang kesenjangan ekonomi yang akan semakin parah jika negara-negara di dunia terus membiarkan kapitalisme turbo tumbuh secara liar tanpa ada intervensi politik pemerintahan.

Ekonom tersebut bukanlah Adam Smith ataupun Joseph Stiglitz ataupun Paul Krugman. Ekonom tersebut hanyalah seorang anak muda berasal dari Prancis yang bernama Thomas Piketty.

Pada tahun 2013, buku yang ia terbitkan berjudul "Capital in the Twenty-First Century" cukup menghebohkan kalangan ekonom dan cukup kontroversial. Beliau sempat dijuluki oleh komentator sayap kanan sebagai Neo-Marxist atau Marxisme gaya baru.

Buku setebal 685 halaman ini menjelaskan bagaimana kesenjangan ekonomi terjadi sepanjang sejarah dimulainya kapitalisme terutama pada saat revolusi industri di Inggris pada tahun 1760. Buku ini banyak memuat data-data historis hingga tahun 1800-an baik dari negara maju maupun negara berkembang. 

Dalam bukunya, Piketty juga mengenalkan formula baru dalam memahami hukum fundamental kapitalisme. Hukum fundamental kapitalisme I berfungsi untuk menghitung jumlah persentase pemasukan dari pengembalian  kapital atau capital return pada pendapatan nasional atau the percentage of income in national income from return. Rumusnya α = (r x β) x 100, dimana α adalah persentase total pengembalian dari kapital pada total pendapatan nasional, r adalah jumlah persentase pengembalian kapital atau return on capital, dan β adalah rasio modal per pendapatan tahunan nasional. 

Sedangkan Hukum kapitalisme kedua II menghitung rasio total kapital terhadap jumlah pendapatan nasional tahunan. Rumusnya yaitu β = s / a dimana s adalah adalah total tabungan atau total stok kapital, a adalah pertumbuhan pendapatan tahunan nasional atau annual income, atau bisa juga disebut sebagai pertumbuhan PDB atau ekonomi.

Sekarang kita hitung sebuah kasus yang umum terjadi di banyak negara, dengan pertumbuhan ekonomi rendah hanya sekitar 1% dan return investasi yang lebih tinggi berada di angka 5%. Contoh: jika ada suatu negara dengan total stok kapital berjumlah €1.500.000 dengan jumlah pendapatan tahunan €100.000 (tingkat pengembalian investasi kapital atau r: 5% dan pertumbuhan ekonomi tahunan atau g: 1,67%)
Berapakah nilai α dan β?

Pertama-tama kita cari dulu nilai β nya, berarti β = 1.500.000 / 100.000 = 15, ini berarti total stok kapital setara dengan total pendapatan tahunan nasional, atau dibutuhkan waktu selama 15 tahun untuk mengakumulasi jumlah kapital yang ada saat ini.

Kedua, baru kita cari α nya, α = (0,05 x 15) x 100% = 75%, ini berarti 75% dari total pendapatan tahunan negara tersebut (€75.000) berasal dari pengembalian kapital atau r. Sisanya 25% atau sebanyak €25.000  dari pendapatan tahunan negara tersebut berasal dari pertumbuhan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi, disingkat g. 

Dari sini masalah belum terdeteksi, sekarang kita hitung darimana nilai g yang berjumlah 1,67%. Pertama-tama kita cari dulu validitas nilai r apakah benar sebanyak 5%? 

Jawabannya, yaitu kita bagi pendapatan dari pengembalian kapital yang sebanyak 75.000 pada total kapital, 75.000 / 1.500.000 = 0.05 atau 5%, berarti tingkat persentase pengembalian kapital atau return adalah benar sebanyak 5%. Sekarang kita cari tingkat persentase g nya apakah benar 1,67%? Jawabannya, 25.000 / 1.500.000 = 0.167 atau 1,67%. Ini berarti r = 5% dan g = 1.67%. Kemudian, dimanakah letak masalahnya?

Inilah yang menjadi kekhawatiran oleh Pak Piketty, yaitu pengembalian kapital yang lebih besar dari pertumbuhan pendapatan nasional (r>g). Tingkat r yang melebihi g tentu hanya membuat pemilik kapital bertambah kaya. Sedangkan sang pekerja yang tidak memiliki kekayaan atau kapit akan semakin sulit atau miskin. 

Sayangnya, di sebagian besar negara kondisi  r > g ini terus terjadi dan hampir tidak pernah g melampaui tingkat r. Oleh karena itu jika kondisi ini terus terjadi tanpa intervensi yang signifikan dari pemerintah-pemerintah, maka dalam jangka panjang kesenjangan ekonomi akan semakin parah. Orang yang memiliki kekayaan akan semakin kaya, sedangkan yang tidak, akan semakin sulit.

Ibaratkan kondisi di indonesia yang kenaikan upah karyawannya sebanyak 8% per tahun, a = 8%, sedangkan kenaikan harga-harga saham di Indonesia atau aset investasi lainya bisa saja hingga lebih dari 25%. Yang manakah yang semakin kaya? pemilik aset investasi bernilai miliaran atau yang hanya mengandalkan kenaikan UMR sebanya 8% per tahun? Patut diingat bahwa, biaya hidup lainnya tentu juga bisa mengalami kenaikan hingga lebih dari 8%. 

Sebagai orang Prancis, Piketty memperingatkan bahwa meningkatnya kesenjangan ekonomi dapat menimbulkan rasa kecemburuan, permusuhan diantara masyarakat dan bahkan kemiskinan yang berkepanjangan. Kondisi inilah yang memicu terjadinya revolusi Prancis pada 1789, dimana banyak kaum bangsawan Prancis termasuk raja Louis XVI dan istrinya Ratu Marie Antoinette yang dipenggal oleh rakyatnya sendiri akibat kelaparan.

Selain itu, Piketty juga mengkritisi kembalinya Patrimonial Capitalism, dimana banyak anak-anak orang kaya yang tetap menjadi lebih kaya lagi dari warisan orang tua kaya nya. Mereka bisa lebih kaya lagi tanpa memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat ataupun perekonomian. Warisan kekayaan mereka tentu akan tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan ekonomi. Bandingkan dengan anak dari kalangan keluarga biasa yang harus kerja jadi pelayan restoran hingga lelah dengan hasil yang pas-pasan. Sulit bagi pekerja untuk memperoleh satu juta rupiah dan mudah bagi orang kaya untuk mendapatkan miliaran tanpa perlu kerja lelah.

Piketty juga mengkritisi teori Simon Kuznets dengan Kurva Kuznets nya. Kuznets menyatakan bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi, kesenjangan ekonomi akan meningkat, lalu pada tahap pembangunan ekonomi berikutnya kesenjangan akan mereda. Piketty dan tim penelitinya berargumen bahwa kesenjangan pada awalnya meningkat lalu mereda dan justru meningkat lagi selama abad 21 ini.

Disinilah Piketty menawarkan solusi, beliau mengajukan agar pajak progresif diterapkan pada orang-orang kaya. Pajak progresif ini meliputi pajak aset kekayaan, pajak harta warisan dan pajak pendapatan. Pajak yang dikenakan pada aset kekayaan sebesar 15% persen, sedangkan pajak pendapatan dikenakan pada pendapatan tertinggi sebesar 80%. Piketty tentunya berargumen bahwa yang jadi prioritas tentunya adalah pajak aset kekayaan dan pajak harta warisan. 

Pajak pendapatan atau income justru hanya memperberat kaum menengah untuk hidup lebih sejahtera. Pajak progresif pada aset kekayaan lah yang utama. Dengan diterapkannya ini diharapkan komposisi kekayaan dapat terdistribusi secara merata dan dapat mengurangi kesenjangan ekonomi yang parah seperti di negara-negara kapitalis turbo.

Bagaimanapun juga, jika Pak Piketty benar maka dampak buruk dari kapitalisme sangatlah mengancam kita semua. Mobilitas sosial akan sangat sulit terjadi. Jika kita mau nasibnya berubah, maka tidak ada jalan lain selain mewarisi harta kekayaan yang besar.

Lalu, apakah teori Piketty sama dengan teorinya Karl Marx? Tentunya berbeda. Yang menjadi kekhawatiran Marx bukanlah kesenjangan ekonomi, tetapi tidak adilnya jumlah keuntungan perusahaan yang lebih banyak jatuh ke pemilik kapital. Pemilik kapital dapat bertambah kaya jika membayar lebih kecil dari pada nilai surplus sebenarnya yang telah diciptakan oleh tenaga kerja. Marx melihat hubungan sosial yang terdiri dari tenaga kerja, petinggi perusahaan, pemilik kapital dan kaum bangsawan.

 Dalam bukunya Das Kapital, Marx menjelaskan apa itu kapital secara komprehensif dan lebih filosofis. Menurut Marx, kapital adalah sejumlah uang yang dibelikan komoditas tertentu untuk fijual kembali agar menghasilan uang, sehingga bersiklus Money-Commodity-Money. Piketty lebih menjelsakan bagaimana dan mengapa kesenjangan ekonomi terus terjadi disertai historis data-data kuantitatifnya, dan mensimplifikasi penjelasannya yang hanya terdiri dari income atau pemasukan dan kekayaan atau kapital.

Setelah itu semua, Piketty mengajak pembacanya untuk memahami apa sebenarnya ilmu ekonomi itu. Menurutnya ilmu ekonomi adalah ilmu sosial yang terdiri dari sosiologi, sejarah, antropologi, dan ilmu politik. Piketty berpendapat bahwa ekonomi bukanlah ilmu sains atau eksak yang meggunakan angka. Ilmu ekonomi selalu bergerak dinamis, tidak statis seperti matematika yang membekukan realitas. Realitas ekonomi terus bergerak tidak pernah diam. Sehingga matematika dan ekonomi seharusnya berbeda.

Sehingga, ilmu ekonomi harus dipahami secara filosofis dan komprehensif dengan menggunakan akal dan logika secara sistematis dan tetap praktis. Dengan itu, saat kita memahami cara kerja ilmu ekonomi, hal ini dapat membantu kita semua untuk mencapai kesejahteraan bersama untuk semuanya tanpa terkecuali.




Saturday, 19 September 2020

Part VI (End): Is There Any Miracle After The Decline in the EROEI Ratio? Would Possibly Our Economy Survive Afterwards?


Source: stuartmcmillen.com


The fall in the EROEI Ratio is also related to the depletion of natural resources such as oil, minerals, or natural gas.

Scientists have continued to debate, would these natural resources be completely depleted one day? and would our economic growth cease thereafter?

However, we need not worry too much about the decline in the surplus energy ratio. In fact, the development of technology have made  economy more productive and going on optimally.

Technological advancement has enabled us to use less energy and materials to produce goods and services. As a result, our economy is still being able to flourish and automatically adjusted to the continuing decline in the EROEI Ratio.

For instance, during our parents era, they had used vast amounts of energy and materials to produce telephones, cameras, televisions, calculators, walkmen, tapes, radios, and computers. However, today in our time, all the functions of those devices can be combined into one single device, it is a smartphone. 

All the functions of those devices are in our one hand. Imagine if there was no smartphone. How much energy and raw materials would have been needed to continue producing all those devices until this day with the decline in energy surplus?

In addition, cars which has been produced in the 2010s are certainly much more efficient in using fuel compared to the cars produced in the 1970s. The Boeing 737 Max series is also 20% more fuel efficient than the first 737 series produced in 1967.

Technological progress has made once crucial natural resources become less necessary. For instance, the use of copper to produce telephone cables. Is it possible that oil would become less needed in the future?

Therefore, the impact of the deterioration of energy surplus wouldn't be as severe as we had imagined and our economic civilization will still continue to work on and automatically adjusted to the changing conditions. Our productivity will also be continuing to increase and become adaptable to the decrease in the energy surplus.

However, scientists are still concerned about the upcoming-depletion of world oil reserves and other mineral resources. The pollution which caused by our economic activities also makes them worry about the environment condition.

Many scientists and institutions have been carrying out numerous scientific research to find another alternative energy who can still prosper our economy. A bunch of people and communities have also advocated the use of wind turbine and the solar panel which are claimed as being more environmentally friendly.

Nevertheless, as individuals we can still contribute properly. We should tighten our belts and don't be consumptive. We should consume goods and services more wisely based on the function or usability so as not to be redundant.

In response to the deteriorating energy surplus ratio, minimalist lifestyle trend is also growing on these modern days because it is claimed as being more affordable and environmentally friendly. Could the minimalist lifestyle trend become more popular in the future?

Part V: Impact of Decrease in Energy Surplus on Our Welfare: Real Income Under Pressure

Our monthly soaring bills exceed our monthly income? 
Source: dailymail.co.uk


Increase in the prices of various goods due to the decline in energy surplus has made our income less to save. Our income in Indonesia may increase by 8% per year. However, the fact is that some commodity prices may have risen even faster than our income growth.

We take an example in the UK which has more complete and reliable data. Based on the facts that I read from the news page above, it is explained that during 2008 to 2013 the average annual income in the UK has increased by an equivalent of 6.25%, meanwhile the monthly cost of living has increased by an average of 25%.

It means that within 5 years our monthly costs of living has relatively increased 4 times than the increase in our annual income.

Therefore, we might be heading to an economic downturn. We might still be able to afford our basic needs, but our disposable income would be diminished and our ability to save and build assets would be likely to cease, not to mention that inflation is ready to wane the purchasing power of our money.


The End of Prosperity Era?

So far, we have discussed that the EROEI Ratio has decreased gradually from time to time. Real economic growth may have ceased a few years ago. When energy has become increasingly expensive to obtain, then our potential for prosperity has diminished, to the point where our economic growth has ceased. 

This is reflected in our soaring cost of living. Of course, all economic sectors have been affected by the decrease in the energy surplus ratio. If this ratio continued to decline, craving for a luxury vacation in Paris, buying a luxury house, driving a luxury car, eating in a luxury restaurants or spending Sunday afternoon at a golf club, if the energy surplus decreases then it will all just be a dream and end.


The Impact of Decreasing Energy Surplus on Community Welfare

I myself who is really concerned about economic inequality and poverty, of course, is really worried about this problem.
When the cost of living is relentlessly increasing, we have less income that can be saved for our future or the accumulation of capital to build assets.

To escape poverty we must have assets. An accumulation of capital for the creation of wealth can come true if we increase our savings and investment for the future.

The decline in the energy surplus is certainly a big challenge for people who have had smaller amount of assets to the creation of wealth. This despair condition would cause them to always depend on monthly salary.

Therefore, their monthly salary is only sufficiently enough to afford their soaring living costs. Ultimately, those who do not have assets or wealth would be more likely to keep working whole life.

Henceforth, I always hopes that every country could someday apply the concept of a welfare state for a more equal distribution of wealth, so that we all can benefit from the economic growth and development and ultimately we also can tackle the negative impact of the decline in energy surplus.


 

Part IV: Causes of Decrease in Energy Surplus Ratio

Source: stuartmcmillen.com


After understanding the concept of surplus energy, we will now understand why this ratio has decreased. If you have read my article entitled "Why the Cost of Living Increases" then you will surely understand it. The decline in the energy surplus can be explained by the concept of cherry picking that we previously discussed in the article.

The decreasing energy surplus can be explained by the low-hanging fruit principle in economics. This principle explains that we tend to pick lower-hanging fruits because it is required less effort to reach the fruit.

However, if we keep picking the fruits that are  hanging lower, eventually the number of those lower hanging fruits will decrease in quantity, so that we have to exert more energy to pick the fruit that is hanging higher.

At this point, we have drilled oil from a source that is closest to our civilization (we have picked the lower hanging cherries in the tree closest to our house).

Compare between the Drake well in Pennsylvania, United States with a depth of 21 meters with oil reserves with a depth of 5.500 meters in the Gulf of Mexico, which source would require higher costs to obtain the oil?

Based on the concept of cherry garden, Drake's oil well is also known as the lower hanging cherry in the tree that is closest to our house. Meanwhile, the oil reserves in the Gulf of Mexico are the higher hanging cherries in the trees further away from our homes.

As time goes by, we would inevitably have to exert a greater amount of energy to pick higher hanging fruits in the trees that further away from our home of civilization.

Could it be possible that we would drill for oil to remote Antarctica in there?



Part III: Real Threat of Our Economy: A Decrease in the EROEI Ratio that Decreases the Energy Surplus

 

Today's EROEI Ratio only 3:1 ?
Source: commodityintelligence.com


Unfortunately, the EROEI ratio has inevitably been decreasing over time. The abundance of energy surpluses in the early 20th century seems to be just the past. Today, it will consume more amount of energy to produce the same amount of energy as it was used to be. 

Consequently, the investment costs to produce fuel would be likely to increase while the amount of output remains constant or unchanged.

This consequence would lead to decreasing economic productivity which results in a gradual decline in economic growth and development. It is unsurprisingly that our cost of living is relentlessly rising from year to year as well as the weakening purchasing power of our money.

Some research has showed us that the global EROEI ratio has been continuing to decline from 100:1 in the 1930s, then decreased again to 18:1 in 1990. Even today the ratio is only 3:10?

It explains comprehensively why the costs of gaining energy are getting more expensive from year to year. Furthermore, it means that it would probably lead to the rising costs we have to spend and exert to drive our economy. As a result, our economic productivity would be declining and economic stagnation is inevitable.

Consequently, with rising living costs, more percentage of our money will be only spent on essentials, we are left with less amount of money to save and invest. We wouldn't possibly enjoy higher standard of living anymore if this situation persisted. It seems possible that our modern civilization would return to the hunting age again due to the shrinking energy surplus.

Then, why has our energy surplus been decreasing from time to time?

Part II: Understanding EROEI Ratio as The Determinant of Surplus of Energy

 

Energy Surplus Value of Each Source of Energy (The More Right, The More Inefficient) 
Source: euanmearns.com


After understanding what energy surplus is, now we get to know profoundly about the EROEI Ratio, this ratio determines how high the energy surplus is. In order to have a broader perspective, we assume that the EROEI Ratio equals to Energy Surplus Ratio and also equals to Energy Surplus.

So far, economists have only been busy discussing about economic growth, total GDP, total debt, balance of trade deficit, inflation, stimulus and the remaining oil reserves.

In fact, our big concern problem of the economy is the difference between the amount of energy produced and the energy consumed to produce energy.

This is what is meant by the EROEI (Energy Return on Energy Invested) Ratio. This ratio is  the main key to our economic development and the creation of economic wealth.

Let's see a more comprehensive explanation of how this ratio works. The EROEI ratio is also known as net energy. If the ratio value is 100: 1, it means that if we send one unit of energy as an input, we will get one hundred units of energy as output. One hundred units is called the energy surplus that is used to drive the economy. 

The higher the EROEI Ratio, the higher the energy surplus, and it means the more prosperous the economy will be.
In the early 20th century, the EROEI Ratio was relatively high, so that at that time the world economy was very rapidly flourishing, and also dubbed as Heyday in the first half of the 20th century.

Would probably the value of this ratio remain high into the next generation?

Part I: Surplus of Energy as The Key to The Development of Civilization

Development of Agricultural Method Has Enabled Energy Surplus Which Allowed Human Civilizations to Flourish 
Source : geneticliteracyproject.org



Introduction

In this article and the next five articles, I would like to explain you of what really drives our economy and would they be likely to continue to be able to drive our economy onwards? 
I divide this discussion separately into 6 articles so that it can be explained more comprehensively and sequentially. First, let's  understand what energy surplus is.


Energy Surplus as The Key 

So far, what we have known about the key to economic development and human civilization is capital investment or innovation. However, it turns out that economic development and human civilization began with an energy surplus come into reality.

According to Tim Morgan in his book "Life After Growth", he argues that the economy is an energy system not a monetary one. We tend to assume that energy only makes a smaller contribution to the economy. In fact, it is energy that is the real driving factor of the economy.

Energy surplus is a state in which the energy output is always greater than the input. This energy output is used to run the wheels of the economy which in turn plays a significant role in economic development. If the energy-surplus ratio is high then the economy will prosper and flourish.

During early days of human history, there is no energy surplus. At that time, humans were still hunting and gathering food and living nomadically. The energy they spent on hunting for food was equal to the energy they gained from the food they hunted.

Consequently, there was no surplus of energy because their time and energy were only spent hunting for food. As a result, there was no development of civilization, no time for holidays, no economic development, and no particular social group.

Surplus of energy first occurred when agriculture had been discovered and established. Agriculture makes humans can produce an abundant amount of crops, so that we no longer need to exert harsh physical exercises to expend large amounts of energy to produce food.

Human dependency on hunting decreased drastically, as a result humans have more time to produce other goods to support life.

When our civilization was becoming more advanced and the increased population, another breakthrough occurred. The invention of mechanical power and discovery of another new resources in the form of coal and oil, have brought humanity to an unprecedented level of economic prosperity. However, It is all about productivity. How we can do less with more results. 

Thursday, 17 September 2020

Bagian VI (Akhir): Adakah Keajaiban Setelah Rasio EROEI Jatuh? Apakah Ekonomi Akan Tetap Bertahan Sesudahnya?

Sumber: stuartmcmillen.com


Jatuhnya Rasio EROEI juga berhubungan dengan menipisnya sumber daya alam seperti minyak bumi, mineral-mineral, ataupun gas alam. 

Para ilmuwan terus berdebat apakah sumber daya alam tersebut akan habis seluruhnya suatu hari nanti? dan apakah pertumbuhan ekonomi akan berakhir setelahnya?

Bagaimanapun juga, kita tidak perlu khawatir berlebihan pada jatunya rasio energi surplus ini. Faktanya, kemajuan teknologi telah membuat ekonomi berjalan semakin produktif dan optimal.

Kemajuan teknologi telah memungkinkan kita untuk menggunakan lebih sedikit energi dan bahan material untuk memproduksi barang dan jasa. Alhasil, ekonomi akan tetap terus berjalan menyesuaikan diri dengan penurunan Rasio EROEI secara otomatis. 

Sebagai contoh, pada zaman orang tua kita dulu, mereka banyak mengkonsumsi energi dan bahan-bahan material untuk memproduksi telepon, kamera, televisi, kalkulator, walkman, kaset, radio, dan komputer. Namun, hari ini di zaman kita, semua fungsi benda tersebut dapat digabungkan ke dalam satu alat saja, yaitu smartphone.

Semua fungsi alat-alat tersebut berada dalam satu genggaman. Bayangkan jika smartphone tidak ada. Berapa banyak energi dan bahan baku yang akan dikonsumsi untuk terus memproduksi semua alat elektronik itu hingga hari ini dengan surplus energi yang semakin menyusut?

Selain itu, Mobil produksi tahun 2010-an tentu  jauh lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding mobil produksi tahun 1970-an. Pesawat Boeing seri 737 Max juga 20% lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar dibanding seri 737 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1967.

Kemajuan teknologi juga telah membuat bahan material tertentu yang dulu sangat dibutuhkan, menjadi tidak terlalu dibutuhkan lagi. Contohnya penggunaan tembaga untuk pembuatan kabel telepon. Mungkinkah minyak bumi akan menjadi tidak terlalu dibutuhkan lagi di masa depan?

Oleh karena itu, dampak penyusutan surplus energi tidak akan separah yang dibayangkan dan peradaban ekonomi kita akan tetap berjalan menyesuaikan kondisi yang terus berubah. Produktivitas kita pun juga akan terus meningkat menyesuaikan penurunan surplus energi. 

Bagaimanapun juga para ilmuwan masih khawatir tentang menipisnya cadangan minyak dunia serta sumber daya mineral lainnya. Polusi yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi kita juga membuat mereka khawatir akan kelestarian lingkungan.

Banyak ilmuwan dan institusi yang terus melakukan penelitian ilmiah untuk mencari energi alternatif lain. Ada juga yang menginginkan penggunaan tenaga angin ataupun sinar matahari karena dinilai lebih ramah lingkungan.

Terlepas dari itu semua, sebagai individu kita tetap bisa berperan penting. Kita harus mengencangkan ikat pinggang dan mengurangi pemborosan serta menggunakan barang dan jasa secara lebih bijak sesuai daya guna agar tidak mubazir.

Sebagai respon penurunan rasio surplus energi, tren gaya hidup minimalis juga semakin berkembang karena dinilai lebih murah dan ramah lingkungan. Mungkinkah tren hidup minimalis akan semakin berkembang di masa depan? 

Bagian V: Dampak Penurunan Surplus Energi Pada Kesejahteraan Masyarakat: Penghasilan Riil dibawah Tekanan

Sumber: dailymail.co.uk


Kenaikan berbagai harga barang dikarenakan merosotnya surplus energi membuat penghasilan kita semakin sedikit untuk ditabung. Penghasilan kita di Indonesia boleh saja naik sebanyak 8% per tahunnya. Namun faktanya beberapa harga barang komoditas bisa naik lebih tinggi lagi mendahului kenaikan penghasilan kita. 

Kita ambil contoh di Inggris yang mempunyai data yang lebih lengkap dan dapat diandalkan.  Berdasarkan fakta yang penulis baca dari laman berita diatas, dijelaskan bahwa selama tahun 2008-2013 rata-rata penghasilan tahunan di Inggris telah meningkat setara 6,25%, sedangkan biaya hidup bulanan telah meningkat rata-rata sebanyak 25%.

Ini berarti dalam kurun waktu 5 tahunan biaya hidup bulanan disana telah meningkat sebanyak 4 kali lipat daripada kenaikan penghasilan tahunan disana.

Oleh karena itu, kita mungkin saja sedang menuju kemunduran ekonomi. Kebutuhan pokok kita mungkin masih kita dapat beli tetapi sisa uang yang dapat kita tabung dan membangun aset akan semakin menyusut, belum lagi inflasi yang siap menggerogoti daya beli uang kita.


Akhir Dari Era Kemamuran?

Kita telah membahas bahwa Rasio EROEI semakin menurun dari waktu ke waktu. Pertumbuhan riil ekonomi mungkin saja telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Ketika energi semakin mahal untuk diperoleh, maka potensi kemakmuran kita akan semakin berkurang, inilah poin dimana pertumbuhan ekonomi telah berakhir. 

Hal ini tercermin dari naiknya biaya hidup kita. Semua sektor ekonomi tentu akan terkena dampak dari penurunan rasio surplus energi. Jika rasio ini terus menurun maka untuk liburan mewah ke Paris, membeli rumah mewah, mengendarai mobil mewah, makan-makan di restorah mewah ataupun menghabiskan waktu minggu sore di klub golf, jika surplus energi semakin menurun maka itu semua hanya akan menjadi impian dan berakhir.


Apa Dampak Penurunan Surplus Energi Kepada Kesejahteraan Masyarakat?

Penulis sendiri yang sangat tertarik pada topik kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, tentu sangatlah khawatir tentang masalah ini.

Saat biaya hidup yang semakin meningkat maka akan semakin sedikit sisa penghasilan kita yang dapat ditabung untuk investasi masa depan kita agar kita bisa mengakumulasi kapital untuk membangun aset.

Untuk lari dari kemiskinan kita harus memiliki aset. Akumulasi kapital untuk membangun aset dapat terjadi jika kita memperbanyak tabungan dan investasi untuk masa depan.

Merosotnya surplus energi tentu menjadi tantangan untuk orang-orang yang hanya memiliki sedikit aset untuk membangun kekayaan. Kondisi ini tentu akan menyebabkan mereka selalu bergantung kepada gaji bulanan. 

Gaji bulanan mereka tentu hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal. Oleh karena itu, mereka yang tidak memiliki aset maka kemungkinan besar akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. 

Disinilah penulis selalu berharap agar setiap negara dapat menerapkan konsep negara kesejahteraan untuk pemerataan kemakmuran, agar kita semua dapat meminimalisir dampak negatif dari penurunan surplus energi.


Bagian IV: Penyebab Menurunnya Rasio Energi Surplus

Sumber: stuartmcmillen.com


Setelah kita memahami konsep energi surplus, sekarang kita akan pahami mengapa rasio ini semakin menurun. Jika teman-teman telah membaca artikel saya yang berjudul "Mengapa Biaya Hidup Semakin Naik" maka teman-teman pasti akan memahaminya. Merosotnya surplus energi dapat dijelaskan oleh konsep pemetik kebun cheri yang telah kita bahas di artikel tersebut. 

Menurunya surplus energi dapat dijelaskan oleh prinsip low-hanging fruit dalam ilmu ekonomi. Prinsip ini menjelaskan bahwa kita cenderung memetik buah yang tergantung lebih rendah karena hanya diperlukan usaha yang lebih sedikit untuk meraih buah tersebut. 

Namun, jika kita terus menerus memetik buah-buah yang tergantung lebih rendah, maka lama kelamaan jumlah buah yang tergantung lebih rendah tersebut akan semakin menipis, sehingga kita harus mengerahkan tenaga yang lebih besar lagi untuk memetik buah yang tergantung lebih tinggi lagi. 

Saat ini, kita telah mengebor minyak dari sumber terdekat dari tempat kita (kita telah memetik buah cheri yang tergantung lebih rendah di pohon yang letaknya paling dekat dengan rumah kita).

Bandingkan antara sumur minyak Drake di Pennsylvania, Amerika Serikat dengan kedalam 21 meter dengan cadangan minyak yang berada pada kedalaman 5.500 meter di Teluk Mexico, sumber manakah yang akan memerlukan biaya yang tinggi untuk memperoleh minyaknya?

Berdasarkan konsep kebun cheri, sumur minyak Drake disebut juga sebagai buah cheri yang tergantung lebih rendah di pohon terdekat dari rumah kita. Sedangkan cadangan minyak di teluk Mexico adalah buah cheri yang tergantung lebih tinggi di pohon yang letaknya lebih jauh dari rumah kita.

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan mau tidak mau kita harus berusaha lebih keras lagi untuk memetik buah cheri yang tergantung lebih tinggi di pohon yang terletak lebih jauh dari rumah peradaban kita. 

Mungkinkah kita akan mengebor minyak hingga ke Antartika yang terpencil disana?



Bagian III: Ancaman Ekonomi yang Sebenarnya: Penurunan Rasio EROEI yang Membuat Surplus Energi Menurun

Hari Ini Rasio EROEI Hanya 3:1 ?
Sumber: commodityintelligence.com


Sayangnya, dari waktu ke waktu nilai rasio ini semakin menurun. Melimpahnya surplus energi pada awal abad ke 20-an sepertinya hanya tinggal sejarah. Hari ini, dibutuhkan energi yang lebih besar lagi untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang sama. 

Jadi, seiring berjalannya waktu biaya investasi untuk menghasilkan bahan bakar akan semakin meningkat dengan jumlah output yang tetap atau tidak berubah.

Hal ini tentu memicu terjadinya penurunan produktivitas perekonomian yang mengakibatkan melesunya ekonomi secara bertahap. Tidak heran jika biaya hidup kita semakin meningkat dari tahun ke tahun serta melemahnya daya beli uang kita.

Penelitian menunjukkan bahwa rasio EROEI global terus menurun dari angka 100:1 pada 1930-an, lalu menurun lagi menjadi 18:1 pada 1990. Bahkan hingga hari ini nilai rasionya menjadi hanya 3:10?

Inilah mengapa biaya energi semakin mahal dari tahun ke tahun. Ini berarti akan semakin mahal biaya yang kita harus keluarkan untuk menggerakkan perekonomian, tentunya ini akan berefek pada kenaikan berbagai macam harga kebutuhan pokok dan biaya hidup. 

Akibatnya, produktivitas perekonomian semakin menurun dan stagnasi ekonomi pun tak terhindarkan. Ada kemungkinan peradaban modern akan balik lagi ke zaman berburu lagi karena surplus energi yang semakin menyusut. 

Lalu, mengapa surplus energi kita semakin menurun dari waktu ke waktu?


Bagian II: Memahami Rasio EROEI Sebagai Determinan Surplus Energi

Nilai Surplus Energi Masing-masing Jenis Sumber Energi (Semakin ke Kanan Semakin Tidak Efisien) 

Sumber: euanmearns.com 


Setelah kita memahami apa itu surplus energi, Sekarang kita mengenal lebih dekat lagi tentang Rasio EROEI, rasio inilah yang menentukan seberapa besar surplus energi yang terjadi. Agar kita mempunyai perspektif yang lebih luas kita anggap saja bahwa Rasio EROEI = Rasio Surplus Energi = Surplus Energi.

Selama ini para ekonom hanya sibuk membicarakan pertumbuhan ekonomi, jumlah PDB, jumlah utang negara, defisit neraca perdagangan, inflasi, stimulus maupun sisa cadangan minyak bumi. 

Padahal, yang menjadi akar masalah dari perekonomiam adalah perbedaan antara jumlah energi yang dihasilkan dengan energi yang dikonsumsi untuk menghasilkan energi. 

Hal inilah yang dimaksud sebagai Rasio EROEI (Energy Return on Energy Invested) Rasio inilah yang menjadi kunci dari pembangunan ekonomi dan penciptaan kekayaan ekonomi kita.

Mari kita pahami lebih dalam cara kerja rasio ini. Rasio EROEI disebut juga sebagai net energy. Jika rasio ini bernilai 100:1, Ini berarti jika kita mengirim satu unit energi sebagai input maka kita akan mendapatkan seratus unit energi sebagai output. Seratus unit lah yang disebut sebagai surplus energi yang akan menggerakkan perekonomian. 

Semakin tinggi nilai Rasio EROEI, maka semakin tinggi surplus energinya, maka semakin makmur perekonomian tersebut. 

Pada awal abad 20-an, Rasio EROEI bernilai tinggi, sehingga pada masa itu perekonomian dunia sangatlah berkembang pesat, dan dijuluki sebagai Heyday in the first half of the 20th century. 

Akankah nilai rasio ini tetap tinggi hingga ke generasi berikutnya?