Kita ambil contoh di Inggris yang mempunyai data yang lebih lengkap dan dapat diandalkan. Berdasarkan fakta yang penulis baca dari laman berita diatas, dijelaskan bahwa selama tahun 2008-2013 rata-rata penghasilan tahunan di Inggris telah meningkat setara 6,25%, sedangkan biaya hidup bulanan telah meningkat rata-rata sebanyak 25%.
Ini berarti dalam kurun waktu 5 tahunan biaya hidup bulanan disana telah meningkat sebanyak 4 kali lipat daripada kenaikan penghasilan tahunan disana.
Oleh karena itu, kita mungkin saja sedang menuju kemunduran ekonomi. Kebutuhan pokok kita mungkin masih kita dapat beli tetapi sisa uang yang dapat kita tabung dan membangun aset akan semakin menyusut, belum lagi inflasi yang siap menggerogoti daya beli uang kita.
Akhir Dari Era Kemamuran?
Kita telah membahas bahwa Rasio EROEI semakin menurun dari waktu ke waktu. Pertumbuhan riil ekonomi mungkin saja telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Ketika energi semakin mahal untuk diperoleh, maka potensi kemakmuran kita akan semakin berkurang, inilah poin dimana pertumbuhan ekonomi telah berakhir.
Hal ini tercermin dari naiknya biaya hidup kita. Semua sektor ekonomi tentu akan terkena dampak dari penurunan rasio surplus energi. Jika rasio ini terus menurun maka untuk liburan mewah ke Paris, membeli rumah mewah, mengendarai mobil mewah, makan-makan di restorah mewah ataupun menghabiskan waktu minggu sore di klub golf, jika surplus energi semakin menurun maka itu semua hanya akan menjadi impian dan berakhir.
Apa Dampak Penurunan Surplus Energi Kepada Kesejahteraan Masyarakat?
Penulis sendiri yang sangat tertarik pada topik kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, tentu sangatlah khawatir tentang masalah ini.
Saat biaya hidup yang semakin meningkat maka akan semakin sedikit sisa penghasilan kita yang dapat ditabung untuk investasi masa depan kita agar kita bisa mengakumulasi kapital untuk membangun aset.
Untuk lari dari kemiskinan kita harus memiliki aset. Akumulasi kapital untuk membangun aset dapat terjadi jika kita memperbanyak tabungan dan investasi untuk masa depan.
Merosotnya surplus energi tentu menjadi tantangan untuk orang-orang yang hanya memiliki sedikit aset untuk membangun kekayaan. Kondisi ini tentu akan menyebabkan mereka selalu bergantung kepada gaji bulanan.
Gaji bulanan mereka tentu hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal. Oleh karena itu, mereka yang tidak memiliki aset maka kemungkinan besar akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Disinilah penulis selalu berharap agar setiap negara dapat menerapkan konsep negara kesejahteraan untuk pemerataan kemakmuran, agar kita semua dapat meminimalisir dampak negatif dari penurunan surplus energi.

No comments:
Post a Comment