Perencanaan keuangan mungkin terdengar sepele untuk sebagian besar orang. Mereka berpikir bahwa perencanaan keuangan tidak perlu diterapkan, karena mereka selalu berprinsip "nanti rezeki mah ada aja".
Dengan adanya perencanaan keuangan yang matang kita dapat mengantisipasi bencana keuangan yang akan datang kapan saja. Kita juga tidak perlu repot-repot mencari dana ketika kita membutuhkannya, karena kita telah merencanakan sebelumnya dari jauh-jauh hari.
Kita bisa belajar dari kasus artis atau penyanyi Pinkan Mambo yang populer pada tahun 2000-an. Pada masa jayanya, beliau mendapat penghasilan puluhan juta sekali manggung dan dapat mengantongi ratusan juta setiap bulannya.
Mobil Toyota Alphard yang berharga miliaran pun sanggup dibeli, beliau juga cukup royal kepada teman-temannya. Pinkan sampai berkata bahwa belum puas mentraktir temannya serta berbelanja jika uangnya belum habis.
Saat belantika musik Indonesia yang meredup akhir-akhir ini dan terjadinya pandemi, telah membuat artis-artis dan selebriti sepi job, termasuk Pinkan Mambo yang tidak manggung lagi selama bertahun-tahun, padahal, menyanyi adalah pemasukan utamanya.
Pinkan harus memutar otak untuk tetap bertahan dengan berjualan gorengan, beliau juga dikejar-kejar debt collector yang menagih hutangnya lebih dari Rp 100 juta.
Pertanyaannya, kemana larinya uang-uang Pinkan yang telah didapat saat masa jayanya itu?
Padahal jika saja saat masa jayanya Pinkan telah menerapkan perencanaan keuangan, maka sekarang Pinkan akan tetap hidup sejahtera seperti masa jayanya dan tidak perlu banting setir menjadi penjual gorengan yang hanya untung sekitar Rp 10.000 per hari. Terdengar bahwa beliau harus mulai dari nol lagi, yang tentu saja akan sangat berat.
Jika kita berpikir uang untuk dihabisi, berapapun yang kita dapatkan tentu akan habis. Kita harus ingat bahwa sebagian uang kita harus tetap ditabung dan diinvestasikan untuk membangun aset untuk pemasukan di masa depan. Apakah kamu masih mau bekerja saat usia pensiun nanti?
Perlu diingat bahwa yang terpenting adalah bukan seberapa besar penghasilan kita. Yang paling penting justru berapa rasio uang yang dapat kita tabung dari penghasilan kita dan investasikan kembali untuk menghasilkan uang dan membangun aset. Kuantitas memang penting namun bukan yang utama.
Satu lagi, penulis heran kemana ya teman-teman Pinkan yang dulu sering ditraktir?
Kenapa tidak membantu Pinkan saat kesulitan ekonomi?

No comments:
Post a Comment