Sumber: fortune.com
Latar Belakang
Kesenjangan ekonomi terjadi karena r>g, atau return investasi kapital selalu lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Kondisi inilah yang membuat orang kaya pemilik modal terus bertambah kaya, sementara masyarakat biasa, hidupnya akan semakin sulit. Melalui bukunya "Capital in the Twenty-First Century" sang ekonom ingin menjelaskan betapa berbahayanya kesenjangan ekonomi.
Apakah kesenjangan akan terus ada?
Solusi apakah yang ditawarkan ekonom tersebut untuk mengatasi kesenjangan ekonomi?
Ekonom Muda yang Cemerlang
Seorang ekonom muda yang meraih gelar PhD pada usia 22 tahun sempat membuat heboh kalangan ekonom. Beliau membahas tentang kesenjangan ekonomi yang akan semakin parah jika negara-negara di dunia terus membiarkan kapitalisme turbo tumbuh secara liar tanpa ada intervensi politik pemerintahan.
Ekonom tersebut bukanlah Adam Smith ataupun Joseph Stiglitz ataupun Paul Krugman. Ekonom tersebut hanyalah seorang anak muda berasal dari Prancis yang bernama Thomas Piketty.
Pada tahun 2013, buku yang ia terbitkan berjudul "Capital in the Twenty-First Century" cukup menghebohkan kalangan ekonom dan cukup kontroversial. Beliau sempat dijuluki oleh komentator sayap kanan sebagai Neo-Marxist atau Marxisme gaya baru.
Buku setebal 685 halaman ini menjelaskan bagaimana kesenjangan ekonomi terjadi sepanjang sejarah dimulainya kapitalisme terutama pada saat revolusi industri di Inggris pada tahun 1760. Buku ini banyak memuat data-data historis hingga tahun 1800-an baik dari negara maju maupun negara berkembang.
Dalam bukunya, Piketty juga mengenalkan formula baru dalam memahami hukum fundamental kapitalisme. Hukum fundamental kapitalisme I berfungsi untuk menghitung jumlah persentase pemasukan dari pengembalian kapital atau capital return pada pendapatan nasional atau the percentage of income in national income from return. Rumusnya α = (r x β) x 100, dimana α adalah persentase total pengembalian dari kapital pada total pendapatan nasional, r adalah jumlah persentase pengembalian kapital atau return on capital, dan β adalah rasio modal per pendapatan tahunan nasional.
Sedangkan Hukum kapitalisme kedua II menghitung rasio total kapital terhadap jumlah pendapatan nasional tahunan. Rumusnya yaitu β = s / a dimana s adalah adalah total tabungan atau total stok kapital, a adalah pertumbuhan pendapatan tahunan nasional atau annual income, atau bisa juga disebut sebagai pertumbuhan PDB atau ekonomi.
Sekarang kita hitung sebuah kasus yang umum terjadi di banyak negara, dengan pertumbuhan ekonomi rendah hanya sekitar 1% dan return investasi yang lebih tinggi berada di angka 5%. Contoh: jika ada suatu negara dengan total stok kapital berjumlah €1.500.000 dengan jumlah pendapatan tahunan €100.000 (tingkat pengembalian investasi kapital atau r: 5% dan pertumbuhan ekonomi tahunan atau g: 1,67%)
Berapakah nilai α dan β?
Pertama-tama kita cari dulu nilai β nya, berarti β = 1.500.000 / 100.000 = 15, ini berarti total stok kapital setara dengan total pendapatan tahunan nasional, atau dibutuhkan waktu selama 15 tahun untuk mengakumulasi jumlah kapital yang ada saat ini.
Kedua, baru kita cari α nya, α = (0,05 x 15) x 100% = 75%, ini berarti 75% dari total pendapatan tahunan negara tersebut (€75.000) berasal dari pengembalian kapital atau r. Sisanya 25% atau sebanyak €25.000 dari pendapatan tahunan negara tersebut berasal dari pertumbuhan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi, disingkat g.
Dari sini masalah belum terdeteksi, sekarang kita hitung darimana nilai g yang berjumlah 1,67%. Pertama-tama kita cari dulu validitas nilai r apakah benar sebanyak 5%?
Jawabannya, yaitu kita bagi pendapatan dari pengembalian kapital yang sebanyak 75.000 pada total kapital, 75.000 / 1.500.000 = 0.05 atau 5%, berarti tingkat persentase pengembalian kapital atau return adalah benar sebanyak 5%. Sekarang kita cari tingkat persentase g nya apakah benar 1,67%? Jawabannya, 25.000 / 1.500.000 = 0.167 atau 1,67%. Ini berarti r = 5% dan g = 1.67%. Kemudian, dimanakah letak masalahnya?
Inilah yang menjadi kekhawatiran oleh Pak Piketty, yaitu pengembalian kapital yang lebih besar dari pertumbuhan pendapatan nasional (r>g). Tingkat r yang melebihi g tentu hanya membuat pemilik kapital bertambah kaya. Sedangkan sang pekerja yang tidak memiliki kekayaan atau kapit akan semakin sulit atau miskin.
Sayangnya, di sebagian besar negara kondisi r > g ini terus terjadi dan hampir tidak pernah g melampaui tingkat r. Oleh karena itu jika kondisi ini terus terjadi tanpa intervensi yang signifikan dari pemerintah-pemerintah, maka dalam jangka panjang kesenjangan ekonomi akan semakin parah. Orang yang memiliki kekayaan akan semakin kaya, sedangkan yang tidak, akan semakin sulit.
Ibaratkan kondisi di indonesia yang kenaikan upah karyawannya sebanyak 8% per tahun, a = 8%, sedangkan kenaikan harga-harga saham di Indonesia atau aset investasi lainya bisa saja hingga lebih dari 25%. Yang manakah yang semakin kaya? pemilik aset investasi bernilai miliaran atau yang hanya mengandalkan kenaikan UMR sebanya 8% per tahun? Patut diingat bahwa, biaya hidup lainnya tentu juga bisa mengalami kenaikan hingga lebih dari 8%.
Sebagai orang Prancis, Piketty memperingatkan bahwa meningkatnya kesenjangan ekonomi dapat menimbulkan rasa kecemburuan, permusuhan diantara masyarakat dan bahkan kemiskinan yang berkepanjangan. Kondisi inilah yang memicu terjadinya revolusi Prancis pada 1789, dimana banyak kaum bangsawan Prancis termasuk raja Louis XVI dan istrinya Ratu Marie Antoinette yang dipenggal oleh rakyatnya sendiri akibat kelaparan.
Selain itu, Piketty juga mengkritisi kembalinya Patrimonial Capitalism, dimana banyak anak-anak orang kaya yang tetap menjadi lebih kaya lagi dari warisan orang tua kaya nya. Mereka bisa lebih kaya lagi tanpa memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat ataupun perekonomian. Warisan kekayaan mereka tentu akan tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan ekonomi. Bandingkan dengan anak dari kalangan keluarga biasa yang harus kerja jadi pelayan restoran hingga lelah dengan hasil yang pas-pasan. Sulit bagi pekerja untuk memperoleh satu juta rupiah dan mudah bagi orang kaya untuk mendapatkan miliaran tanpa perlu kerja lelah.
Piketty juga mengkritisi teori Simon Kuznets dengan Kurva Kuznets nya. Kuznets menyatakan bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi, kesenjangan ekonomi akan meningkat, lalu pada tahap pembangunan ekonomi berikutnya kesenjangan akan mereda. Piketty dan tim penelitinya berargumen bahwa kesenjangan pada awalnya meningkat lalu mereda dan justru meningkat lagi selama abad 21 ini.
Disinilah Piketty menawarkan solusi, beliau mengajukan agar pajak progresif diterapkan pada orang-orang kaya. Pajak progresif ini meliputi pajak aset kekayaan, pajak harta warisan dan pajak pendapatan. Pajak yang dikenakan pada aset kekayaan sebesar 15% persen, sedangkan pajak pendapatan dikenakan pada pendapatan tertinggi sebesar 80%. Piketty tentunya berargumen bahwa yang jadi prioritas tentunya adalah pajak aset kekayaan dan pajak harta warisan.
Pajak pendapatan atau income justru hanya memperberat kaum menengah untuk hidup lebih sejahtera. Pajak progresif pada aset kekayaan lah yang utama. Dengan diterapkannya ini diharapkan komposisi kekayaan dapat terdistribusi secara merata dan dapat mengurangi kesenjangan ekonomi yang parah seperti di negara-negara kapitalis turbo.
Bagaimanapun juga, jika Pak Piketty benar maka dampak buruk dari kapitalisme sangatlah mengancam kita semua. Mobilitas sosial akan sangat sulit terjadi. Jika kita mau nasibnya berubah, maka tidak ada jalan lain selain mewarisi harta kekayaan yang besar.
Lalu, apakah teori Piketty sama dengan teorinya Karl Marx? Tentunya berbeda. Yang menjadi kekhawatiran Marx bukanlah kesenjangan ekonomi, tetapi tidak adilnya jumlah keuntungan perusahaan yang lebih banyak jatuh ke pemilik kapital. Pemilik kapital dapat bertambah kaya jika membayar lebih kecil dari pada nilai surplus sebenarnya yang telah diciptakan oleh tenaga kerja. Marx melihat hubungan sosial yang terdiri dari tenaga kerja, petinggi perusahaan, pemilik kapital dan kaum bangsawan.
Dalam bukunya Das Kapital, Marx menjelaskan apa itu kapital secara komprehensif dan lebih filosofis. Menurut Marx, kapital adalah sejumlah uang yang dibelikan komoditas tertentu untuk fijual kembali agar menghasilan uang, sehingga bersiklus Money-Commodity-Money. Piketty lebih menjelsakan bagaimana dan mengapa kesenjangan ekonomi terus terjadi disertai historis data-data kuantitatifnya, dan mensimplifikasi penjelasannya yang hanya terdiri dari income atau pemasukan dan kekayaan atau kapital.
Setelah itu semua, Piketty mengajak pembacanya untuk memahami apa sebenarnya ilmu ekonomi itu. Menurutnya ilmu ekonomi adalah ilmu sosial yang terdiri dari sosiologi, sejarah, antropologi, dan ilmu politik. Piketty berpendapat bahwa ekonomi bukanlah ilmu sains atau eksak yang meggunakan angka. Ilmu ekonomi selalu bergerak dinamis, tidak statis seperti matematika yang membekukan realitas. Realitas ekonomi terus bergerak tidak pernah diam. Sehingga matematika dan ekonomi seharusnya berbeda.
Sehingga, ilmu ekonomi harus dipahami secara filosofis dan komprehensif dengan menggunakan akal dan logika secara sistematis dan tetap praktis. Dengan itu, saat kita memahami cara kerja ilmu ekonomi, hal ini dapat membantu kita semua untuk mencapai kesejahteraan bersama untuk semuanya tanpa terkecuali.

No comments:
Post a Comment