Sunday, 31 May 2020

Negara Kaya yang Jadi Miskin, Kok Bisa???

Sumber: content.time.com


Kita sering menduga bahwa negara kaya tidak akan mungkin jatuh miskin karena telah memiliki kekayaan atau modal yang melimpah. Namun, jangan salah bahwa ada beberapa negara kaya yang kembali jatuh miskin, Kira-kira kenapa ya?

Berikut ini kita akan membahas beberapa contoh negara yang dulunya termasuk negara kaya tetapi menjadi miskin serta tertinggal hingga mengakibatkan standar kehidupan rakyatnya menurun.

Spanyol 
Selama abad 16, Spanyol telah mengalami Gold Boom Influx      (Harta Rampasan Berupa Emas) dari tanah jajahannya di Amerika Latin. Negara ini telah memasuki era kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sayangnya, selama masa ini mereka tidak mendiversifikasikan ekonomi negaranya karena merasa tidak ada insentif untuk mengembangkan industri baru di sektor lain, toh keruk aja emas dari tanah jajahan, beres kan. Akibatnya, sektor perekonomian lain mengalami penurunan dan mulai ditinggalkan karena dinilai kurang menguntungkan. Hal ini berakibat kepada sektor ekspor mereka yang menjadi tidak kompetitif. Akibatnya, ekspor mereka anjlok dan impor mengalir deras masuk ke negara itu. Saat cadangan emas di tanah koloni mulai menipis serta banyak negara jajahan mulai meraih kemerdekaannya, Ekonomi Spanyol mulai nyungsep karena pemasukan negara menurun drastis akibat terlalu mengandalkan pertambangan emas dari tanah jajahannya. Kondisi inilah yang menyebabkan tertinggalnya ekonomi Spanyol serta menurunnya standar hidup rakyat mereka dibandingkan dengan negara tetangga Eropa lainnya pada beberapa abad kemudian.

Nauru
Negara yang terletak di Oceania ini memiliki cadangan fosfat yang sangat melimpah. Saat meraih kemerdekaannya pada tahun 1968, Pertambangan fosfat mulai dilaksanakan dan hasil pertambangan dijual ke perusahaan asing. Negara ini menjadi sangat kaya dalam waktu yang singkat. Sialnya, warga Nauru malah menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya. Mereka membeli barang-barang mewah dan liburan ke luar negeri. Seharusnya, mereka mulai mendiversifikasikan perekonomiannya dengan membangun bisnis baru agar tidak terlalu mengandalkan pemasukan dari pertambangan fosfat. Saat cadangan fosfat merosot, warga Nauru mulai kelabakan. Mereka mulai kehabisan uangnya akibat berfoya-foya. Ketika cadangan fosfat benar-benar habis, Warga Nauru jatuh miskin dan hanya mengandalkan hutang dan bantuan dari Australia untuk membiayai perekonomiannya. Mereka menjadi sangat ketergantungan dengan hutang. Jika Australia berhenti memberi hutang, negara ini bisa mati. Jika Warga Nauru tidak dapat lagi memproduksi barang atau jasa  dan hanya mengandalkan hutang untuk menjalankan perekonomiannya, mereka akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam lagi. Dengan apa dan bagaimana mereka akan melunasi hutangnya di kemudian hari? Sedangkan mereka tidak mampu lagi untuk memproduksi barang dan jasa, Standar hidup mereka sudah pasti akan terus menurun.

Venezuela
Venezuela dianugerahi dengan cadangan minyak yang melimpah, pendapatan ekspor minyak berkontribusi sebesar 95% dari keseluruhan pemasukan negara. Saat Presiden Hugo Chavez mulai berkuasa dari tahun 1999 hingga 2013, harga minyak dunia sedang tinggi-tingginya. Beliau mengeluarkan berbagai kebijakan sosial yang bersifat konsumtif seperti subsidi kebutuhan pokok dan pembangunan rumah untuk warga miskin secara masif. Pemerintah Venezuela terlalu berfokus menjalani kebijakan sosial konsumtif yang memakan biaya yang cukup besar tanpa benefit masa depan yang jelas. Pemerintah Venezuela seharusnya mulai mendiversifikasikan ekonominya, atau berinvestasi ke sektor pendidikan untuk rakyatnya. Harga minyak dunia mulai anjlok pada 2014, saat itulah perekonomian Venezuela mulai kacau. Lantaran terlalu mengandalkan sektor perminyakan, pemasukan pemerintah juga anjlok drastis. Saat itu, pemerintah justru mencetak uang secara masif dan ceroboh agar kebijakan sosial tersebut tetap berjalan. Hiperinflasi pun tak terhindarkan, hingga 2018 inflasi diperkiran mencapai 1.000.000%. Kondisi ini telah menghancurkan ekonomi Venezuela. Jumlah rakyat miskin di negara itu melonjak dan kerusuhan pun terjadi. Banyak warga Venezuela yang melakukan eksodus ke negara tetangga demi kehidupan yang lebih baik.

Dari kasus-kasus yang terjadi pada ketiga negara diatas, negara-negara tersebut mengalami penyakit yang serupa yaitu Dutch Disease.

Dutch Disease adalah semacam jebakan maut dari sumber daya alam. Negara yang dianugerahi sumber daya alam yang melimpah cenderung mengandalkan sebagian besar pemasukannya dari penjualan hasil sumber daya alam. Mereka menjadi kurang tertarik untuk mendiversifikasikan perekonomiannya, hal ini terjadi karena kecilnya insentif untuk mengambil risiko untuk membangun sektor bisnis baru atau industri baru yang sangat penting untuk menopang perekonomian di masa depan. Akibat terlalu berfokus kepada sektor sumber daya alam, sektor lain mulai ditinggalkan karena dianggap tidak menguntungkan. Kondisi inilah yang mengakibatkan menurunnya produktivitas atau kualitas pada sektor lainnya. Saat cadangan sumber daya alam mulai menipis atau harga komoditas alam andalan mereka mengalami penurunan, pemasukan negara tentu akan menyusut drastis. Perekonomian mereka akhirnya mengalami pukulan yang hebat. 

Oleh karena itu, sangat penting bagi suatu negara agar tidak mengandalkan sebagian besar pemasukannya hanya dari satu sektor saja. Setiap negara harus mendiversifikasikan perekonomiannya. Ketika suatu sektor mengalami penurunan, sektor yang lain masih dapat menopang perekonomiannya.

Saat mengalami income boomdari suatu sektor, setiap negara harus menyisihkan sebagian pemasukannya untuk membangun industri baru yang bertujuan untuk memproduksi barang dan jasa demi memenuhi konsumsi di masa depan agar perekonomian mereka tetap terjaga. Jika guyuran kekayaan itu hanya dipakai untuk berfoya-foya atau dihabiskan untuk sektor konsumtif yang tidak menghasilkan benefit di masa depan, maka bersiaplah bagi negara tersebut untuk mengalami kemiskinan yang panjang dan suram ketika cadangan sumber daya alam mereka habis. 

Akibatnya, Mereka harus membangun kembali perekonomian negara mulai dari nol. Akan sangat sulit untuk membangun kembali perekonomian saat pemasukan negara anjlok drastis, sedangkan hutang atau pengeluaran tetap membengkak dan harus tetap dibayar. Mau tidak mau tentunya harus menambah hutang lagi. Jika tidak dikelola dengan baik, menambah jumlah hutang justru dapat memperburuk keadaan. Selain itu, untuk membangun kembali perekonomian tentu akan memakan waktu yang tidak sedikit dan potensi kegagalan juga akan terus mengintai. Oleh sebab itu, standar kehidupan mereka sudah pasti akan terus menurun.


Saturday, 30 May 2020

Pertarungan Sengit: Angkutan Online vs Angkutan Konvesional. Akhirnya, Siapa yang akan Menang?

Sumber: grid.id
Keterangan: Ganteng Ya Abang Ojolnya 😉 


Dewasa ini, perkembangan teknologi terutama teknologi informasi sangatlah pesat sehingga tidak dapat dibendung lagi oleh kekuatan manapun.

Salah satu implikasi dari kemajuan teknologi yaitu berubahnya pola operasional perusahaan demi meningkatkan efisiensi dan efektivitas. Salah satunya yaitu, kemunculan ojek online dan taksi online.

Tarif angkutan online ini sangat bersahabat dengan kantong masyarakat, apalagi mahasiswa. Belum cukup sampai disitu, angkutan online telah memecahkan masalah warga perkotaan yang krusial akan ketersediaan transportasi yang dapat diandalakan. Kapanpun dan dimanapun anda berada tinggal buka aja smartphone anda dan abang ojek online datang menjemput anda dan siap mengantarkan anda ke tujuan anda di manapun dan kapanpun. Hal ini tentu sangat membantu warga perkotaan yang mempunyai mobilitas yang tinggi. Apalagi kaum jomblo yang mau ketemuan sama gebetan atau calon pacar jadi lebih gampang deh 😁

Namun dibalik itu semua, membawa dampak negatif kepada pengusaha angkutan konvensional seperti supir angkot, dan tukang ojek pangkalan. Mereka mengeluh karena sebagian besar penumpangnya beralih ke angkutan online, sehingga pendapatan mereka menurun sangat drastis.

Masyarakat lebih memilih angkutan online karena selain sangat murah, aman serta handal, angkutan online juga menyediakan berbagai berbagai produk inovatif seperti gofood, gosend, gobox, goclean, dll. Wah, inovatif sekali ya model
bisnis mereka selain tarifnya murah, mereka juga menyediakan berbagai produk yang sangat membantu kehidupan warga perkotaan yang sangat sibuk. Gak heran deh perusahaan angkutan online jauh lebih kompetitif dan diminati oleh masyarakat perkotaan dibanding angkutan konvensional. 

Sudah menjadi hal umum, banyak pengemudi angkutan konvensional yang sangat menentang keberadaan angkutan online, demo penuntutan agar pemerintah menutup usaha angkutan online terjadi di seantero negeri. Alhasil, pemerintah terpaksa akan membatasi gerakan angkutan online berupa peraturan yang membatasi dan penetapan harga minimal.

Lalu, apa hikmah dari semua ini? Peraturan pemerintah yang membatasi perusahaan angkutan online justru sangat konyol dan tidak bijak. Karena disaat hampir semua harga barang kebutuhan naik lalu ada perusahaan yang mampu menyediakan produk sangat murah, justru pemerintah harus mendukungnya dan memprioritaskannya. Apalagi ojek online telah banyak membantu kaum jomblo 😂

Jika tidak, maka pemerintah akan melawan prinsip ekonomi yang sangat krusial namun sayangnya tidak dipahami oleh kebanyakan orang. Yaitu "Sangat tidak bijak jika kita memproduksi barang dan jasa yang bisa diproduksi secara lebih efisien oleh pihak lain, karena itu sama saja membuang sumber daya secara mubazir dan sia-sia!". Oleh karena itu, produksi lebih baik kita serahkan kepada pihak yang mempunyai keunggulan kompetitif (Gojek, Grab, Uber), jika tidak, sekuat apapun pemerintah tetaplah tidak bisa melawan prinsip ekonomi diatas. Melanggengkan  penggunaan sumber daya yang tidak efisien sama saja mencegah kemajuan ekonomi. Perekonomian tidaklah semata bertujuan hanya untuk memproduksi barang maupun menciptakan lapangan pekerjaan, melainkan juga bertujuan untuk menciptakan lapangan pekerjaan yang memaksimalkan produktivitas tenaga kerja dan penggunaan modal. 

Jika tidak membangun daya saingnya atau memanfaatkan kemajuan teknologi maka secara gradual angkutan konvensional akan semakin terpinggirkan. Angkutan konvensional boleh tetap bisa bertahan namun hanya sekedar untuk bertahan hidup. Mereka tidak bisa berharap mendapat penghasilan yang layak jika masih beroperasi dengan cara lama. Bandingkan dengan angkutan online yang menggunakan teknologi yang meningkatkan efektivitas sehingga mereka mendapat penghasilan setara karyawan perkantoran, bahkan bisa lebih. Jika tetap tidak mau memanfaatkan kemajuan teknologi, maka akan lebih bijak jika para sopir angkot dan tukang ojek pangkalan untuk beralih profesi yang lebih prospektif atau bergabung dengan perusahaan angkutan online. Pada akhirnya angkutan online lah yang akan menang.













Saturday, 16 May 2020

Kenapa yang Kaya Makin Kaya ???

Keterangan: Sejak 1990-an harga properti di Australia meningkat 167%, sedangkan upah hanya 19%, yang manakah yang makin kaya? Yang punya rumah atau yang tidak?


Kita mungkin menganggap bahwa Tuhan tidaklah adil, karena siapapun yang kaya akan semakin kaya tidak peduli orang itu baik ataupun jahat. 

Kita heran mengapa hal yang tidak adil ini terus terjadi. Kita akan mencari-cari jawaban dengan melakukan riset, baik riset kecil-kecilan ataupun riset intensif. Kita tidak perlu melakukan itu semua, karena jawabannya sangat simpel.

Yaitu kepemilikan aset atau modal yang memadai (owning an amount of sufficient asset or capital). Yap betul, orang kaya semakin kaya karena mereka memiliki berbagai macam aset. Bisa berupa, saham, tanah, rumah kontrakan, ataupun obligasi, dll. 

Patut diingat, peningkatan harga aset akan jauh melebihi kenaikan gaji karyawan dalam jangka panjang. Saat harga barang kebutuhan dan properti yang semakin mahal sementara upah tidak naik signifikan, maka bagi yang penghasilannya pas-pasan serta tidak memiliki aset yang memadai, akan sulit bagi mereka untuk hidup dibawah sistem ekonomi pasar bebas. Sehingga yang miskin semakin susah dan yang pemilik modal atau aset justru tambah kaya.

Disini saya akan membuat dua ilustrasi, yaitu keluarga yang hanya mengandalkan gaji bulanan dan keluarga yang memiliki berbagai macam aset. Angka dibawah ini tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya dengan tepat, melainkan hanya asumsi secara rata-rata yang mewakili realitas sebenarnya. Yuk, kita hitung-hitung ya, sediakan kalkulator kalian. Agar simpel, asumsikan inflasi hanya 0 persen, karena perhitungan dibawah hanya untuk rentang satu tahun.

Keluarga A(Hanya memiliki sedikit aset) 
Keluarga Bapak Andri adalah keluarga golongan menengah yang hanya memiliki sedikit aset. Beliau dan istrinya hanya mengandalkan gaji bulanan sebagai biaya hidup, keluarga beliau juga tidak memiliki rumah. 

Aset yang dimiliki:
  1. Tanah seluas 100 m2 senilai Rp 500.000/m2 (Rp 50.000.000)
  2. Dua sepeda motor masing-masing senilai Rp 9.000.000 dan Rp 8.000.000 (Total Rp 17.000.000)
Total Aset Keluarga A di tahun pertama: Rp 67.000.000

Kenaikan atau penurunan nilai aset setelah tahun berikutnya:
  1. Kenaikan harga tanah (Asumsi 15% per tahun): Rp 57.500.000
  2. Penyusutan harga sepeda motor keduanya (Asumsi penyusutan 10% pertahun): Rp 15.300.000
Total Aset A Tahun Kedua: Rp 72.800.000 (Apresiasi Aset 8,6%)

Keluarga B(Memiliki Banyak Aset)
Bapak Roni bekerja sebagai manajer keuangan sedangkan istrinya hanya Ibu rumah tangga. Keluarga ini mempunyai aset yang cukup banyak. 

Aset yang dimiliki: 
  1. Rumah senilai Rp 2.000.000.000
  2. Portofolio saham senilai Rp 600.000.000 (Anggap beliau membeli saham sebuah bank Rp 5000 per lembar sebanyak 120.000 lembar)
  3. Portofolio reksa dana pendapatan tetap Rp 200.000.000
  4. Rumah kontrakan 4 pintu seharga Rp 1.500.000.000 dengan sewa Rp 800.000 per kamar. 
  5. Mobil Honda HR-V senilai Rp 297.000.000
Total Aset Keluarga B di Tahun Pertama: Rp 4.597.000.000

Kenaikan dan penurunan nilai aset di tahun berikutnya:
  1. Kenaikan nilai rumah (Asumsi 15% per tahun) Rp 2.300.000.000
  2. Kenaikan harga saham (Asumsi 20% per tahun, plus dividen Rp 200 per lembar dikali saham yang dimiliki 120.000 lembar, Rp 24.000.000) Rp 720.000.000
  3. Return reksa dana pendapatan tetap (Return reksa dana pendapatan tetap rata-rata 8% per tahun) Rp 216.000.000
  4. Kenaikan harga rumah kontrakannya (Asumsi 15% per tahun) Rp 1.725.000.000 plus pemasukan dari sewanya Rp 38.400.000
  5. Penyusutan mobil Honda HR-V (Asumsi 10%) nilainya menjadi Rp 267.300.000
Total Aset Keluarga B di Tahun Kedua: Rp 5.266.700.000 (Apresiasi aset sebesar 14,5%)

Penjelasan:
Kekayaan keluarga A atau Bapak Andri yang memiliki sedikit aset hanya bertambah Rp 5.800.000 per tahun yang didukung kenaikan harga aset tanahnya. Jumlah ini tentunya sangatlah kurang memadai karena lebih kecil dari total biaya hidup tahunannya, Jika tidak membangun kekayaan atau aset, Bapak Andri akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, jika Bapak Andri atau istrinya kehilangan pekerjaan maka akan sangat sulit buat mereka. Jika mereka ingin membangun kekayaan, mereka harus mengurangi hutang serta pengeluarannya atau menambah penghasilannya dan membeli lebih banyak aset dengan cara mencicil seperti menabung saham agar peningkatan kekayaannya semakin bertambah besar tanpa bekerja atau minimal mereka bisa pensiun dengan tenang tanpa harus bekerja lagi karena telah membangun asetnya secara bertahap. Tidak ada jalan lain selain itu.

Kekayaan Keluarga B atau Bapak Roni meningkat setidaknya Rp 669.700.000 atau Rp 55.808.300 per bulan tanpa bekerja. Patut diingat, kekayaan Bapak Roni akan terus bertambah jika hutang dan pengeluarannya jauh dibawah peningkatan kekayaannya yang sebanyak Rp 600 jutaan per tahun. Jika hutang dan pengeluaran mereka juga sebesar itu maka sama saja bohong. Oleh karena itu, financial planning harus dilakukan oleh kedua keluarga diatas, agar hidupnya semakin sejahtera dan melindungi hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun agar pensiun dengan nyaman.

Kesimpulan:
Setelah membandingkan kedua keluarga di atas, keluarga mana yang akan semakin kaya? Keluarga Bapak Roni yang memiliki beragam aset atau keluarga Bapak Andri yang hanya memiliki sedikit aset?

Wednesday, 13 May 2020

Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Berinvestasi Emas (Baca ini sebelum membeli emas)



Emas dikenal sebagai investasi tradisional paling aman karena menjadi pilihan terakhir saat ekonomi menjadi tidak pasti. Instrumen ini lebih dikenal sebagai safe haven asset.

Sebelum membeli emas sebagai simpanan atau investasi kalian harus pahami bahwa emas itu BUKAN INVESTASI. Emas lebih cocok menjadi simpanan atau asuransi (Bukan investasi) dari kejatuhan nilai uang kertas (fiat currency) dalam jangka panjang. Kenapa? Berikut ini saya beberkan alasannya:

Pertama, Emas sebagai tabungan uang yang sebenarnya (as a Store of Wealth Value). Nilai emas akan terus stabil karena kelangkaan relatifnya terhadap uang kertas. Uang kertas bisa dicetak kapan saja, tetapi emas tidak. Dalam jangka panjang nilai daya beli uang kertas akan turun relatif dengan nilai emas. Oleh karena itu akan lebih bijak jika kita menabung dalam jangka panjang dalam bentuk emas. Pada 1971, saat perjanjian Bretton Woods ditinggalkan, nilai Dollar Amerika yang mulanya ditetapkan terhadap emas sekitar US$ 35 per ons emas (28,35 gr) menjadi US$ 43,48 (Menyusut 19,5%) dan terus menyusut hingga hari ini (Per Mei 2020 harga emas menyentuh US$ 1697,44 berarti nilai dolar telah menyusut kurang lebih 98% relatif terhadap emas sejak Perjanjian Bretton Woods ditinggalkan). Oleh karena itu, Emas hanya berperan sebagai simpanan jangka panjang untuk mempertahankan nilai kekayaan kita agar tidak turun tergerus inflasi atau sarana lindung nilai.

Kedua, Emas hanya berperan sebagai wealth preservation atau mempertahankan kekayaan. Emas diibaratkan sebuah mesin waktu yang akan membawa dan mempertahankan nilai kekayaan kita ke masa depan. Jadi seperti yang sudah dijelaskan, Emas bukan instrumen investasi, instrumen investasi akan menghasilkan capital gain ataupun bunga. Emas hanya berperan untuk mempertahankan nilai kekayaan yang telah anda miliki dari kejatuhan nilai mata uang (tidak meningkatkan kekayaan). Jika anda membeli emas, berarti anda sedang membawa kekayaan anda dengan mesin waktu ke masa depan. Jadi, yang menyusut adalah nilai uang kertas yang kita gunakan, sedangkan nilai emas pada hakikatnya tidak berubah dari masa ke masa. Tiga puluh tahunan yang lalu, nilai 10 gram emas dapat membeli setelan jas berkualitas, begitu juga hari ini, 10 gram emas juga tetap bisa membeli setelan jas berkualitas.

Ketiga, Emas bukanlah aset yang produktif. Aset produktif dapat menghasilkan bunga, dividen, atau sewa, seperti saham, surat utang, maupun properti. Emas tidak menghasilkan apapun, sehingga emas bukanlah investasi. Bandingkan jika anda membeli aset produktif seperti tanah pertanian atau saham perusahaan blue chip, anda akan mendapatkan capital gain serta hasil bumi atau dividen. Emas yang anda beli hari ini sampai kapanpun nilai kuantitasnya tidak berubah (gram atau kilogram).

Keempat, Yang terakhir sekedar informasi tambahan bahwa harga emas juga fluktuatif dan tidak selalu naik. Harga emas juga pernah terjun bebas pada 2011-2015 dari harga tertinggi US$ 1889,77 pada 2011 menjadi US$ 1060 pada akhir 2015 (menyusut 44%). Harga emas mengalami penurunan karena setelah resesi 2008, ekonomi Amerika Serikat membaik serta inflasi rendah. Sehingga investor mulai optimis dengan membeli aset kertas seperti biasa dan mulai meninggalkan emas, sehingga permintaan emas berkurang. Oleh karena itu, sebelum membeli emas kita harus jeli apakah harganya sedang rendah atau tinggi.

Itulah hal-hal yang perlu dipertimbangkan sebelum membeli emas. Jika anda ingin membangun kekayaan, emas bukanlah pilihan yang tepat. Emas tidak akan membuat anda kaya, tetapi hanya menjaga aset yang telah anda miliki dari kejatuhan nilai uang akibat inflasi atau penurunan daya beli, sehingga emas akan menyelamatkan anda dari kejatuhan ekonomi . Jangan anggap lagi emas sebagai investasi ya. 

Namun, bukan berarti kita tidak boleh membeli emas, patut diingat harga emas akan naik jika krisis ekonomi terjadi (resesi dan depresi) seperti yang melanda dunia saat ini (Pandemik Covid-19). Harga emas telah menanjak secara drastis sekitar 13% sejak akhir 2019. Kita dapat membeli emas saat ekonomi dunia sedang bagus-bagusnya, karena saat itulah harga emas cenderung menurun. Banyak perencana keuangan yang merekomendasikan untuk menyimpan 5-10% nilai aset kita dalam bentuk emas dan harus disimpan minimal selama 10 tahun atau bahkan hingga pensiun. Karena emas sama sekali bukan untuk simpanan jangka pendek.


NB: Artikel ini bukan bermaksud untuk berperan sebagai financial advice, namun diharapkan menjadi salah satu pertimbangan matang sebelum membeli atau menabung emas. Keputusan keuangan pada hakikatnya kembali kepada kebijaksanaam masing-masing.


Referensi:
https://www.google.com/amp/s/m.economictimes.com/wealth/invest/how-much-gold-should-you-have-in-your-investment-portfolio/amp_articleshow/63801455.cms

https://www.google.com/amp/s/www.seputarforex.com/amp/artikel/sejarah-emas-64193-32

https://www.thebalance.com/gold-price-history-3305646

https://www.thebalance.com/should-you-buy-gold-3140477

Monday, 11 May 2020

Depresi Besar 2020, Apakah Dunia Berada di Ambang Krisis Ekonomi Terparah Sejak 1930-an?



Dampak Pandemik Virus Corona tidaklah main-main, krisis kesehatan ini telah merembet ke berbagai sektor. Krisis ini pada awalnya hanya memukul sektor penerbangan dan pariwisata, akhirnya juga turut memukul perekonomian dunia.

Memasuki bulan Februari 2020 banyak negara memberlakukan lockdown, social distancing, dan himbauan tinggal di rumah, sehingga menyebabkan terhambatnya logistik dan aktivitas sehari-hari. Sebagian besar aktivitas bisnis banyak yang terpaksa ditutup untuk meredam penyebaran virus. Alhasil, banyak karyawan dirumahkan dan pengangguran merebak.

Pandemik Covid-19 dianggap sebagai penyebab utama terjadinya Resesi Besar 2020, namun banyak pihak yang berargumen bahwa Pandemik Covid-19 hanya sebagai faktor pemicu yang mempercepat terjadinya kemunduran ekonomi atau resesi. Banyak pihak yang meramalkan, jika Pandemik Covid-19 ini berlarut-larut, perekonomian dunia akan memasuki masa depresi besar terparah sejak 1930-an yang terjadi pada 1929-1939. IMF memperkirakan bahwa ekonomi dunia akan menyusut sebanyak 3%.

Ada 8 alasan yang menguatkan bahwa Pandemik Covid-19 dapat menghantarkan dunia ke dalam depresi besar terparah sejak 1930-an.

Pertama, Melonjaknya angka pengangguran. Saat banyak bisnis ditutup untuk meredam penyebaran Virus Corona, banyak pekerja dirumahkan sehingga angka pengangguran meningkat drastis. Hingga April 2020, tingkat pengangguran di Amerika Serikat telah mencapai 14,7 %. Sedangkan Resesi 2008-2009 hanya mencapai 10,2 %, dan saat Depresi Besar melonjak hingga 25% pada 1933. 

Kedua, Kejatuhan Total Permintaan (Aggregate Demand) dan Total Produksi atau Output Dunia. Melonjaknya angka pengangguran mengakibatkan mereka menahan belanja, apalagi banyaknya bisnis yang ditutup karena masa lockdown, sehingga permintaan total barang dan jasa akan anjlok drastis. Saat permintaan total anjlok, aktivitas ekonomi atau bisnis menurun, perusahaan akan mengurangi atau bahkan berhenti memproduksi barang dan jasa karena insentif untuk mendapatkan keuntungan semakin kecil. Sehingga, total produksi juga akan ikut anjlok. Otomatis, banyak perusahaan akan merumahkan karyawannya, kondisi ini tentunya dapat memperparah keadaan karena dapat merembet ke berbagai sektor. IMF meramalkan bahwa PDB Global 2020 akan minus 3%, padahal saat Resesi Global 2008-09, PDB dunia hanya jatuh sedalam kurang dari 1%, sedangkan saat Depresi Besar 1930-an jatuh hingga 15%.

Ketiga, Anjloknya bursa saham dunia dalam waktu yang singkat. Efek domino terjadi, pasar mulai khawatir akan penyebaran virus corona yang semakin masif ke hampir semua negara di dunia dan turut mengganggu perekonomian dunia. Tidak ada yang tahu sampai kapan Pandemik ini akan berakhir. Akibatnya, Investor mulai panik dan pasar saham dunia mengalami pukulan yang keras. Indeks Dow Jones mulai jatuh pada tanggal 20 Februari 2020, dari 28.992 menjadi 19.173 pada 19 Maret 2020 (Minus 33,8% hanya dalam sebulan). IHSG pun juga minus 32,8 % dalam periode yang sama. Pasar saham dunia juga mengalami kejatuhan antara 20 hingga 30% dalam periode yang singkat. Harga-harga saham di seluruh dunia mulai anjlok drastis hanya dalam waktu seminggu akibat penurunan ekonomi dan ketidakpastian. Hanya dalam waktu 30 hari Indeks Dow Jones Amerika Serikat anjlok lebih dari 30%, sedangkan saat Depresi Besar, Pasar jatuh sedalam minus 83% dalam waktu 1035 hari (Kejatuhan yang lumayan cepat).

Keempat, Anjloknya harga minyak dunia. Permintaan minyak dunia mulai anjlok saat pemberlakuan larangan terbang dan travel restriction. Saat permintaan minyak menurun drastis, Perang harga minyak antara Rusia dengan negara-negara anggota OPEC yang dipimpin Arab Saudi meletus pada Maret 2020. Crude Oil dan Brent Oil masing-masing jatuh sedalam 26% dan 24%, bahkan WTI diperdagangkan di harga minus $38,63. Sektor minyak dan energi bisa kolaps karena kejatuhan harga yang dramatis ini. Phk massal perusahaan minyak mulai membayangi, investor dan kreditor perusahaan minyak akan kehilangan uangnya. Negara-negara penghasil minyak akan mengalami resesi. Kondisi ini tentunya dapat memicu krisis ekonomi yang lebih parah lagi kedepannya, karena dapat merembet ke berbagai sektor.

Kelima, Melonjaknya hutang perusahaan (Corporate indebtedness). Pada 2009, Rasio hutang perusahaan terhadap PDB dunia berada pada level 84%, Rasio ini melonjak ke level 92% dari PDB dunia pada 2019. Jika Pandemik Covid-19 terus berlarut-larut, maka akan memperparah kondisi ekonomi. Perusahaan dengan jumlah hutang yang besar saat resesi ini kemungkinan besar berada dalam risiko gagal bayar. Jika mereka kolaps, tentu akan memperparah keadaan.

Keenam, IMF menyatakan bahwa ekonomi dunia telah memasuki perlambatan akut. Pertumbuhan ekonomi Global mungkin sudah mencapai titik tertingginya pada 2017, setelah itu total output dari sektor industri dunia mulai menurun pada awal 2018. IMF menyebutkan bahwa ini kemungkinan disebabkan oleh tensi geopolitik antar negara seperti Brexit vs Uni Eropa, dan perang dagang Tiongkok-Amerika Serikat yang dimulai pada Maret 2018. Melambatnya ekonomi dunia ditambah merebaknya Pandemik Virus Corona yang mengganggu perekonomian dunia telah memperarah keadaan, ibarat sudah jatuh tertimpa tangga. IMF mungkin lupa bahwa ekonomi dunia melambat akibat kejatuhan Rasio Surplus Energi atau EROEI, yaitu semakin tingginya biaya untuk memperoleh energi karena prinsip low-hanging fruit yang telah kita bahas di artikel sebelumnya.

Ketujuh, Terjadinya fenomena  inverted yield curve obligasi pemerintah Amerika Serikat. Fenomena ini terjadi pada bulan Maret 2019, saat itu return jangka pendek obligasi pemerintah Amerika Serikat lebih besar dari pada return jangka panjangnya. Padahal, return jangka panjang seharusnya lebih besar dari pada return jangka pendek. Fenomena inverted yield curve ini dikenal dengan tingkat keakurasiannya yang tinggi. Saat fenomena ini terjadi, kemungkinan besar krisis ekonomi atau resesi akan terjadi beberapa waktu setelah fenomena ini terjadi. Menjelang Resesi Ekonomi 2008 tepatnya pada 2006-2007 fenomena ini juga terjadi. Oleh karena itu, banyak pihak yang memprediksi bahwa resesi akan terjadi antara 2019 atau 2020 hingga 2021. Terjadinya fenomena inverted yield curve ditambah merebaknya wabah virus corona dapat memperparah krisis ekonomi yang mungkin akan terjadi.

Terakhir, Tidak ada penjelasan pasti kapan Pandemik Covid-19 ini akan berakhir. Banyak ahli epidemiologi memperkirakan bahwa wabah Virus Corona akan berakhir pada bulan Juni, September, atau bahkan dapat berlarut-larut hingga akhir 2021. Jika kondisi membaik lebih cepatpun, Perekonomian dunia membutuhkan waktu paling tidak hingga satu tahun untuk sepenuhnya pulih balik ke keadaan normal. Selama vaksinnya belum ditemukan, Pandemik ini akan terus berlarut-larut. Sayangnya penciptaan vaksin membutuhkan waktu yang lama hingga bertahun-tahun. Saat vaksin sudah ditemukan pun, akan membutuhkan waktu yang lama untuk uji coba hingga produksi massal. Vaksin untuk HIV dan Demam Berdarah sendiri saja sampai saat ini belum berhasil ditemukan. Ahli dari WHO menyebut bahwa Covid-19 bisa saja tak akan ditemukan vaksinnya seperti HIV. Dunia harus bersiap akan menurunnya perekonomian yang berkepanjangan hingga menimbulkan krisis terparah sejak Depresi Besar tahun 1929-1939.

Itulah hal-hal yang menjadi pemicu terjadinya Depresi Besar 2020 yang terparah sejak 1930-an. Untungnya, Banyak negara di dunia yang mengeluarkan paket stimulus, termasuk Amerika Serikat yang memberikan stimulus sebanyak US$ 500 Miliar, diharapkan paket stimulus ini dapat merangsang kegiatan ekonomi atau meminimalisir anjloknya perekonomian. Namun, paket stimulus ini dapat menambah suplai uang ke perekonomian. Jika aktivitas perekonomian masih terhambat, kenaikan suplai uang dapat berakibat pada melonjaknya laju inflasi.

Oleh karena itu, kita harus mengikuti anjuran pemerintah untuk tetap tinggal di rumah, agar memutus mata rantai penyebaran virus, sehingga pandemik ini dapat berakhir lebih cepat, ekonomi dapat pulih dan dunia selamat dari Depresi Besar 2020.

Monday, 4 May 2020

Mengapa Biaya Hidup dan Harga Kebutuhan Selalu Meningkat?


Mungkin, jawabannya bisa bervariasi. Tetapi sebenarnya, Hal utama yang menggerakkan perekonomian dunia adalah energi, terutama minyak bumi. Hampir semuanya tergantung kepada minyak bumi sebagai bahan bakar. Tak terkecuali sektor manufaktur maupun pertanian. Pada pertengahan Abad 19 sampai Abad 20 an cadangan energi dunia masih melimpah ruah, kakek nenek kita terutama di negara barat hidupnya sangat makmur. Hari ini, sayangnya cadangan minyak dunia semakin menipis serta biaya hidup semakin meningkat. Apa ya hubungannya?

Prinsip Low-Hanging fruit dari ilmu Ekonomi bisa menjelaskan. Misalnya: kita tinggal di sebuah rumah kayu di tengah kebun cheri. Pada awalnya buah cheri sangat melimpah, Kita cenderung memetik buah cheri dari pohon yang terdekat serta buah yang tergantung lebih rendah terlebih dahulu. Jika pada awalnya kita hanya butuh mengkonsumsi sarapan (Input) sepotong roti dan segelas susu sebagai tenaga untuk memetik satu kilogram buah cheri, (Sehingga rasionya katakan 1000:2). Namun lama kelamaan buah cheri yang tergantung lebih rendah dan lebih dekat semakin menipis jumlahnya, pada awalnya kita sanggup memetik cheri sebanyak satu kilogram, sekarang kita hanya bisa memetik cheri sebanyak 900 gram (Rasio 900:2), kita harus memetik cheri di tempat yang lebih jauh ataupun memanjat ke tempat yang lebih tinggi lagi, sehingga kita membutuhkan lebih banyak tenaga dan usaha untuk memetik cheri yang tergantung di tempat yang lebih tinggi atau lebih jauh. Kita pun harus mengkonsumsi sarapan lebih banyak lagi agar lebih bertenaga. Saat ini, kita harus sarapan 2 potong roti dan segelas susu supaya kita dapat memetik buah cheri sebanyak 1 kg kembali seperti biasanya, hasilnya nilai Rasio sekarang menjadi (1000:3). 

Bisa kita simpulkan bahwa untuk mempertahankan hasil buah cheri sebanyak 1 kg kita harus lebih banyak mengkonsumsi sarapan dari biasanya. Lama kelamaan jumlah buah cheri sekitar rumah kita semakin menurun karena telah kita petik secara terus menerus setiap hari. Lama kelamaan kita pun harus sarapan 3 potong roti dan 2 gelas susu, tetapi sekarang kita hanya dapat memetik sebanyak 700 gram cheri (Rasio menjadi 700:5) dikarenakan semakin menyusutnya jumlah buah cheri di kebun kita. Produktivitas kita pun semakin menurun karena buah cheri yang terdekat dan mudah dijangkau jumlahnya semakin menurun.

Itulah analogi yang sedang terjadi di dunia, rasio yang dijelaskan diatas disebut Rasio Surplus Energi (Rasio EROEI). Ketersediaan energi dunia saat ini sedang menurun, Energi atau bahan bakar yang berperan sebagai penggerak produksi semakin mahal dan menipis, alhasil biaya produksi semakin meningkat, Tak heran harga barang dan jasa semakin meningkat, biaya produksi yang meningkat tentunya menurunkan produktivitas, padahal produktivitas lah yang menentukan kualitas standar hidup suatu negara, semakin tinggi tentu semakin baik. Pada awalnya sumur minyak bumi memiliki cadangan yang melimpah, lama kelamaan cadangan minyaknya semakin menipis sehingga pilihannya antara menggali lebih dalam lagi atau eksplorasi sumber minyak baru di tempat lain. Kedua pilihan tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dibutuhkan biaya yang semakin meningkat untuk memperoleh minyak bumi (sumber energi). Pada awal abad ke 20, nilai Rasio EROEI sangatlah tinggi (Sekitar 100:1) sehingga selama abad ini pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dunia sangat menggeliat. Rasio EROEI dunia terus menurun dari 37:1 pada tahun 1990, menjadi hanya 15:1 pada tahun 2010, dan mungkin akan terus menurun menjadi 10:1 pada 2020-an.

Jadi, permasalahannya sebenarnya bukan terletak pada menurunnya cadangan minyak dunia, tetapi masalah sebenarnya adalah kejatuhan Rasio Surplus Energi yang disebabkan oleh semakin tingginya biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh minyak bumi atau energi, dikarenakan semakin menipisnya ketersediaan energi karena sumber energi terdekat telah dikuras habis. sedangkan barel minyak bumi yang dihasilkan semakin menurun.

Tentunya, banyak variable lain yang mempengaruhi kenaikan biaya hidup, antara lain inflasi, kebijakan pemerintah, keadaan politik regional ataupun peperangan. Apakah permasalahan kejatuhan Rasio Surplus Energi bisa dicegah atau diminimalisir dampaknya dengan mencari sumber energi alternatif yang murah, melimpah, dan ramah lingkungan atau teknologi baru yang bisa memproduksi bahan bakar, barang dan jasa secara lebih efisien dan ramah lingkungan serta menggunakan barang yang lebih ramah lingkungan atau yang mengonsumsi lebih sedikit energi?