Monday, 4 May 2020

Mengapa Biaya Hidup dan Harga Kebutuhan Selalu Meningkat?


Mungkin, jawabannya bisa bervariasi. Tetapi sebenarnya, Hal utama yang menggerakkan perekonomian dunia adalah energi, terutama minyak bumi. Hampir semuanya tergantung kepada minyak bumi sebagai bahan bakar. Tak terkecuali sektor manufaktur maupun pertanian. Pada pertengahan Abad 19 sampai Abad 20 an cadangan energi dunia masih melimpah ruah, kakek nenek kita terutama di negara barat hidupnya sangat makmur. Hari ini, sayangnya cadangan minyak dunia semakin menipis serta biaya hidup semakin meningkat. Apa ya hubungannya?

Prinsip Low-Hanging fruit dari ilmu Ekonomi bisa menjelaskan. Misalnya: kita tinggal di sebuah rumah kayu di tengah kebun cheri. Pada awalnya buah cheri sangat melimpah, Kita cenderung memetik buah cheri dari pohon yang terdekat serta buah yang tergantung lebih rendah terlebih dahulu. Jika pada awalnya kita hanya butuh mengkonsumsi sarapan (Input) sepotong roti dan segelas susu sebagai tenaga untuk memetik satu kilogram buah cheri, (Sehingga rasionya katakan 1000:2). Namun lama kelamaan buah cheri yang tergantung lebih rendah dan lebih dekat semakin menipis jumlahnya, pada awalnya kita sanggup memetik cheri sebanyak satu kilogram, sekarang kita hanya bisa memetik cheri sebanyak 900 gram (Rasio 900:2), kita harus memetik cheri di tempat yang lebih jauh ataupun memanjat ke tempat yang lebih tinggi lagi, sehingga kita membutuhkan lebih banyak tenaga dan usaha untuk memetik cheri yang tergantung di tempat yang lebih tinggi atau lebih jauh. Kita pun harus mengkonsumsi sarapan lebih banyak lagi agar lebih bertenaga. Saat ini, kita harus sarapan 2 potong roti dan segelas susu supaya kita dapat memetik buah cheri sebanyak 1 kg kembali seperti biasanya, hasilnya nilai Rasio sekarang menjadi (1000:3). 

Bisa kita simpulkan bahwa untuk mempertahankan hasil buah cheri sebanyak 1 kg kita harus lebih banyak mengkonsumsi sarapan dari biasanya. Lama kelamaan jumlah buah cheri sekitar rumah kita semakin menurun karena telah kita petik secara terus menerus setiap hari. Lama kelamaan kita pun harus sarapan 3 potong roti dan 2 gelas susu, tetapi sekarang kita hanya dapat memetik sebanyak 700 gram cheri (Rasio menjadi 700:5) dikarenakan semakin menyusutnya jumlah buah cheri di kebun kita. Produktivitas kita pun semakin menurun karena buah cheri yang terdekat dan mudah dijangkau jumlahnya semakin menurun.

Itulah analogi yang sedang terjadi di dunia, rasio yang dijelaskan diatas disebut Rasio Surplus Energi (Rasio EROEI). Ketersediaan energi dunia saat ini sedang menurun, Energi atau bahan bakar yang berperan sebagai penggerak produksi semakin mahal dan menipis, alhasil biaya produksi semakin meningkat, Tak heran harga barang dan jasa semakin meningkat, biaya produksi yang meningkat tentunya menurunkan produktivitas, padahal produktivitas lah yang menentukan kualitas standar hidup suatu negara, semakin tinggi tentu semakin baik. Pada awalnya sumur minyak bumi memiliki cadangan yang melimpah, lama kelamaan cadangan minyaknya semakin menipis sehingga pilihannya antara menggali lebih dalam lagi atau eksplorasi sumber minyak baru di tempat lain. Kedua pilihan tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dibutuhkan biaya yang semakin meningkat untuk memperoleh minyak bumi (sumber energi). Pada awal abad ke 20, nilai Rasio EROEI sangatlah tinggi (Sekitar 100:1) sehingga selama abad ini pertumbuhan dan pembangunan ekonomi dunia sangat menggeliat. Rasio EROEI dunia terus menurun dari 37:1 pada tahun 1990, menjadi hanya 15:1 pada tahun 2010, dan mungkin akan terus menurun menjadi 10:1 pada 2020-an.

Jadi, permasalahannya sebenarnya bukan terletak pada menurunnya cadangan minyak dunia, tetapi masalah sebenarnya adalah kejatuhan Rasio Surplus Energi yang disebabkan oleh semakin tingginya biaya yang dibutuhkan untuk memperoleh minyak bumi atau energi, dikarenakan semakin menipisnya ketersediaan energi karena sumber energi terdekat telah dikuras habis. sedangkan barel minyak bumi yang dihasilkan semakin menurun.

Tentunya, banyak variable lain yang mempengaruhi kenaikan biaya hidup, antara lain inflasi, kebijakan pemerintah, keadaan politik regional ataupun peperangan. Apakah permasalahan kejatuhan Rasio Surplus Energi bisa dicegah atau diminimalisir dampaknya dengan mencari sumber energi alternatif yang murah, melimpah, dan ramah lingkungan atau teknologi baru yang bisa memproduksi bahan bakar, barang dan jasa secara lebih efisien dan ramah lingkungan serta menggunakan barang yang lebih ramah lingkungan atau yang mengonsumsi lebih sedikit energi?

No comments:

Post a Comment