Negara Kaya yang Jadi Miskin, Kok Bisa???
Sumber: content.time.com
Kita sering menduga bahwa negara kaya tidak akan mungkin jatuh miskin karena telah memiliki kekayaan atau modal yang melimpah. Namun, jangan salah bahwa ada beberapa negara kaya yang kembali jatuh miskin, Kira-kira kenapa ya?
Berikut ini kita akan membahas beberapa contoh negara yang dulunya termasuk negara kaya tetapi menjadi miskin serta tertinggal hingga mengakibatkan standar kehidupan rakyatnya menurun.
Spanyol
Selama abad 16, Spanyol telah mengalami Gold Boom Influx (Harta Rampasan Berupa Emas) dari tanah jajahannya di Amerika Latin. Negara ini telah memasuki era kemakmuran yang belum pernah terjadi sebelumnya. Sayangnya, selama masa ini mereka tidak mendiversifikasikan ekonomi negaranya karena merasa tidak ada insentif untuk mengembangkan industri baru di sektor lain, toh keruk aja emas dari tanah jajahan, beres kan. Akibatnya, sektor perekonomian lain mengalami penurunan dan mulai ditinggalkan karena dinilai kurang menguntungkan. Hal ini berakibat kepada sektor ekspor mereka yang menjadi tidak kompetitif. Akibatnya, ekspor mereka anjlok dan impor mengalir deras masuk ke negara itu. Saat cadangan emas di tanah koloni mulai menipis serta banyak negara jajahan mulai meraih kemerdekaannya, Ekonomi Spanyol mulai nyungsep karena pemasukan negara menurun drastis akibat terlalu mengandalkan pertambangan emas dari tanah jajahannya. Kondisi inilah yang menyebabkan tertinggalnya ekonomi Spanyol serta menurunnya standar hidup rakyat mereka dibandingkan dengan negara tetangga Eropa lainnya pada beberapa abad kemudian.
Nauru
Negara yang terletak di Oceania ini memiliki cadangan fosfat yang sangat melimpah. Saat meraih kemerdekaannya pada tahun 1968, Pertambangan fosfat mulai dilaksanakan dan hasil pertambangan dijual ke perusahaan asing. Negara ini menjadi sangat kaya dalam waktu yang singkat. Sialnya, warga Nauru malah menghabiskan uangnya untuk berfoya-foya. Mereka membeli barang-barang mewah dan liburan ke luar negeri. Seharusnya, mereka mulai mendiversifikasikan perekonomiannya dengan membangun bisnis baru agar tidak terlalu mengandalkan pemasukan dari pertambangan fosfat. Saat cadangan fosfat merosot, warga Nauru mulai kelabakan. Mereka mulai kehabisan uangnya akibat berfoya-foya. Ketika cadangan fosfat benar-benar habis, Warga Nauru jatuh miskin dan hanya mengandalkan hutang dan bantuan dari Australia untuk membiayai perekonomiannya. Mereka menjadi sangat ketergantungan dengan hutang. Jika Australia berhenti memberi hutang, negara ini bisa mati. Jika Warga Nauru tidak dapat lagi memproduksi barang atau jasa dan hanya mengandalkan hutang untuk menjalankan perekonomiannya, mereka akan jatuh ke dalam jurang kemiskinan yang lebih dalam lagi. Dengan apa dan bagaimana mereka akan melunasi hutangnya di kemudian hari? Sedangkan mereka tidak mampu lagi untuk memproduksi barang dan jasa, Standar hidup mereka sudah pasti akan terus menurun.
Venezuela
Venezuela dianugerahi dengan cadangan minyak yang melimpah, pendapatan ekspor minyak berkontribusi sebesar 95% dari keseluruhan pemasukan negara. Saat Presiden Hugo Chavez mulai berkuasa dari tahun 1999 hingga 2013, harga minyak dunia sedang tinggi-tingginya. Beliau mengeluarkan berbagai kebijakan sosial yang bersifat konsumtif seperti subsidi kebutuhan pokok dan pembangunan rumah untuk warga miskin secara masif. Pemerintah Venezuela terlalu berfokus menjalani kebijakan sosial konsumtif yang memakan biaya yang cukup besar tanpa benefit masa depan yang jelas. Pemerintah Venezuela seharusnya mulai mendiversifikasikan ekonominya, atau berinvestasi ke sektor pendidikan untuk rakyatnya. Harga minyak dunia mulai anjlok pada 2014, saat itulah perekonomian Venezuela mulai kacau. Lantaran terlalu mengandalkan sektor perminyakan, pemasukan pemerintah juga anjlok drastis. Saat itu, pemerintah justru mencetak uang secara masif dan ceroboh agar kebijakan sosial tersebut tetap berjalan. Hiperinflasi pun tak terhindarkan, hingga 2018 inflasi diperkiran mencapai 1.000.000%. Kondisi ini telah menghancurkan ekonomi Venezuela. Jumlah rakyat miskin di negara itu melonjak dan kerusuhan pun terjadi. Banyak warga Venezuela yang melakukan eksodus ke negara tetangga demi kehidupan yang lebih baik.
Dari kasus-kasus yang terjadi pada ketiga negara diatas, negara-negara tersebut mengalami penyakit yang serupa yaitu Dutch Disease.
Dutch Disease adalah semacam jebakan maut dari sumber daya alam. Negara yang dianugerahi sumber daya alam yang melimpah cenderung mengandalkan sebagian besar pemasukannya dari penjualan hasil sumber daya alam. Mereka menjadi kurang tertarik untuk mendiversifikasikan perekonomiannya, hal ini terjadi karena kecilnya insentif untuk mengambil risiko untuk membangun sektor bisnis baru atau industri baru yang sangat penting untuk menopang perekonomian di masa depan. Akibat terlalu berfokus kepada sektor sumber daya alam, sektor lain mulai ditinggalkan karena dianggap tidak menguntungkan. Kondisi inilah yang mengakibatkan menurunnya produktivitas atau kualitas pada sektor lainnya. Saat cadangan sumber daya alam mulai menipis atau harga komoditas alam andalan mereka mengalami penurunan, pemasukan negara tentu akan menyusut drastis. Perekonomian mereka akhirnya mengalami pukulan yang hebat.
Oleh karena itu, sangat penting bagi suatu negara agar tidak mengandalkan sebagian besar pemasukannya hanya dari satu sektor saja. Setiap negara harus mendiversifikasikan perekonomiannya. Ketika suatu sektor mengalami penurunan, sektor yang lain masih dapat menopang perekonomiannya.
Saat mengalami income boomdari suatu sektor, setiap negara harus menyisihkan sebagian pemasukannya untuk membangun industri baru yang bertujuan untuk memproduksi barang dan jasa demi memenuhi konsumsi di masa depan agar perekonomian mereka tetap terjaga. Jika guyuran kekayaan itu hanya dipakai untuk berfoya-foya atau dihabiskan untuk sektor konsumtif yang tidak menghasilkan benefit di masa depan, maka bersiaplah bagi negara tersebut untuk mengalami kemiskinan yang panjang dan suram ketika cadangan sumber daya alam mereka habis.
Akibatnya, Mereka harus membangun kembali perekonomian negara mulai dari nol. Akan sangat sulit untuk membangun kembali perekonomian saat pemasukan negara anjlok drastis, sedangkan hutang atau pengeluaran tetap membengkak dan harus tetap dibayar. Mau tidak mau tentunya harus menambah hutang lagi. Jika tidak dikelola dengan baik, menambah jumlah hutang justru dapat memperburuk keadaan. Selain itu, untuk membangun kembali perekonomian tentu akan memakan waktu yang tidak sedikit dan potensi kegagalan juga akan terus mengintai. Oleh sebab itu, standar kehidupan mereka sudah pasti akan terus menurun.

No comments:
Post a Comment