Kenapa yang Kaya Makin Kaya ???
Keterangan: Sejak 1990-an harga properti di Australia meningkat 167%, sedangkan upah hanya 19%, yang manakah yang makin kaya? Yang punya rumah atau yang tidak?
Kita mungkin menganggap bahwa Tuhan tidaklah adil, karena siapapun yang kaya akan semakin kaya tidak peduli orang itu baik ataupun jahat.
Kita heran mengapa hal yang tidak adil ini terus terjadi. Kita akan mencari-cari jawaban dengan melakukan riset, baik riset kecil-kecilan ataupun riset intensif. Kita tidak perlu melakukan itu semua, karena jawabannya sangat simpel.
Yaitu kepemilikan aset atau modal yang memadai (owning an amount of sufficient asset or capital). Yap betul, orang kaya semakin kaya karena mereka memiliki berbagai macam aset. Bisa berupa, saham, tanah, rumah kontrakan, ataupun obligasi, dll.
Patut diingat, peningkatan harga aset akan jauh melebihi kenaikan gaji karyawan dalam jangka panjang. Saat harga barang kebutuhan dan properti yang semakin mahal sementara upah tidak naik signifikan, maka bagi yang penghasilannya pas-pasan serta tidak memiliki aset yang memadai, akan sulit bagi mereka untuk hidup dibawah sistem ekonomi pasar bebas. Sehingga yang miskin semakin susah dan yang pemilik modal atau aset justru tambah kaya.
Disini saya akan membuat dua ilustrasi, yaitu keluarga yang hanya mengandalkan gaji bulanan dan keluarga yang memiliki berbagai macam aset. Angka dibawah ini tidak mencerminkan realitas yang sebenarnya dengan tepat, melainkan hanya asumsi secara rata-rata yang mewakili realitas sebenarnya. Yuk, kita hitung-hitung ya, sediakan kalkulator kalian. Agar simpel, asumsikan inflasi hanya 0 persen, karena perhitungan dibawah hanya untuk rentang satu tahun.
Keluarga A(Hanya memiliki sedikit aset)
Keluarga Bapak Andri adalah keluarga golongan menengah yang hanya memiliki sedikit aset. Beliau dan istrinya hanya mengandalkan gaji bulanan sebagai biaya hidup, keluarga beliau juga tidak memiliki rumah.
Aset yang dimiliki:
- Tanah seluas 100 m2 senilai Rp 500.000/m2 (Rp 50.000.000)
- Dua sepeda motor masing-masing senilai Rp 9.000.000 dan Rp 8.000.000 (Total Rp 17.000.000)
Total Aset Keluarga A di tahun pertama: Rp 67.000.000
Kenaikan atau penurunan nilai aset setelah tahun berikutnya:
- Kenaikan harga tanah (Asumsi 15% per tahun): Rp 57.500.000
- Penyusutan harga sepeda motor keduanya (Asumsi penyusutan 10% pertahun): Rp 15.300.000
Total Aset A Tahun Kedua: Rp 72.800.000 (Apresiasi Aset 8,6%)
Keluarga B(Memiliki Banyak Aset)
Bapak Roni bekerja sebagai manajer keuangan sedangkan istrinya hanya Ibu rumah tangga. Keluarga ini mempunyai aset yang cukup banyak.
Aset yang dimiliki:
- Rumah senilai Rp 2.000.000.000
- Portofolio saham senilai Rp 600.000.000 (Anggap beliau membeli saham sebuah bank Rp 5000 per lembar sebanyak 120.000 lembar)
- Portofolio reksa dana pendapatan tetap Rp 200.000.000
- Rumah kontrakan 4 pintu seharga Rp 1.500.000.000 dengan sewa Rp 800.000 per kamar.
- Mobil Honda HR-V senilai Rp 297.000.000
Total Aset Keluarga B di Tahun Pertama: Rp 4.597.000.000
Kenaikan dan penurunan nilai aset di tahun berikutnya:
- Kenaikan nilai rumah (Asumsi 15% per tahun) Rp 2.300.000.000
- Kenaikan harga saham (Asumsi 20% per tahun, plus dividen Rp 200 per lembar dikali saham yang dimiliki 120.000 lembar, Rp 24.000.000) Rp 720.000.000
- Return reksa dana pendapatan tetap (Return reksa dana pendapatan tetap rata-rata 8% per tahun) Rp 216.000.000
- Kenaikan harga rumah kontrakannya (Asumsi 15% per tahun) Rp 1.725.000.000 plus pemasukan dari sewanya Rp 38.400.000
- Penyusutan mobil Honda HR-V (Asumsi 10%) nilainya menjadi Rp 267.300.000
Total Aset Keluarga B di Tahun Kedua: Rp 5.266.700.000 (Apresiasi aset sebesar 14,5%)
Penjelasan:
Kekayaan keluarga A atau Bapak Andri yang memiliki sedikit aset hanya bertambah Rp 5.800.000 per tahun yang didukung kenaikan harga aset tanahnya. Jumlah ini tentunya sangatlah kurang memadai karena lebih kecil dari total biaya hidup tahunannya, Jika tidak membangun kekayaan atau aset, Bapak Andri akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya, jika Bapak Andri atau istrinya kehilangan pekerjaan maka akan sangat sulit buat mereka. Jika mereka ingin membangun kekayaan, mereka harus mengurangi hutang serta pengeluarannya atau menambah penghasilannya dan membeli lebih banyak aset dengan cara mencicil seperti menabung saham agar peningkatan kekayaannya semakin bertambah besar tanpa bekerja atau minimal mereka bisa pensiun dengan tenang tanpa harus bekerja lagi karena telah membangun asetnya secara bertahap. Tidak ada jalan lain selain itu.
Kekayaan Keluarga B atau Bapak Roni meningkat setidaknya Rp 669.700.000 atau Rp 55.808.300 per bulan tanpa bekerja. Patut diingat, kekayaan Bapak Roni akan terus bertambah jika hutang dan pengeluarannya jauh dibawah peningkatan kekayaannya yang sebanyak Rp 600 jutaan per tahun. Jika hutang dan pengeluaran mereka juga sebesar itu maka sama saja bohong. Oleh karena itu, financial planning harus dilakukan oleh kedua keluarga diatas, agar hidupnya semakin sejahtera dan melindungi hasil kerja kerasnya selama bertahun-tahun agar pensiun dengan nyaman.
Kesimpulan:
Setelah membandingkan kedua keluarga di atas, keluarga mana yang akan semakin kaya? Keluarga Bapak Roni yang memiliki beragam aset atau keluarga Bapak Andri yang hanya memiliki sedikit aset?

No comments:
Post a Comment