Wednesday, 23 September 2020

Teori Thomas Piketty: Kesenjangan Ekonomi

 

Sumber: fortune.com



Latar Belakang
Kesenjangan ekonomi terjadi karena r>g, atau return investasi kapital selalu lebih besar dibandingkan pertumbuhan ekonomi. Kondisi inilah yang membuat orang kaya pemilik modal terus bertambah kaya, sementara masyarakat biasa, hidupnya akan semakin sulit. Melalui bukunya "Capital in the Twenty-First Century" sang ekonom ingin menjelaskan betapa berbahayanya kesenjangan ekonomi. 

Apakah kesenjangan akan terus ada?

Solusi apakah yang ditawarkan ekonom tersebut untuk mengatasi kesenjangan ekonomi?


Ekonom Muda yang Cemerlang
Seorang ekonom muda yang meraih gelar PhD pada usia 22 tahun sempat membuat heboh kalangan ekonom. Beliau membahas tentang kesenjangan ekonomi yang akan semakin parah jika negara-negara di dunia terus membiarkan kapitalisme turbo tumbuh secara liar tanpa ada intervensi politik pemerintahan.

Ekonom tersebut bukanlah Adam Smith ataupun Joseph Stiglitz ataupun Paul Krugman. Ekonom tersebut hanyalah seorang anak muda berasal dari Prancis yang bernama Thomas Piketty.

Pada tahun 2013, buku yang ia terbitkan berjudul "Capital in the Twenty-First Century" cukup menghebohkan kalangan ekonom dan cukup kontroversial. Beliau sempat dijuluki oleh komentator sayap kanan sebagai Neo-Marxist atau Marxisme gaya baru.

Buku setebal 685 halaman ini menjelaskan bagaimana kesenjangan ekonomi terjadi sepanjang sejarah dimulainya kapitalisme terutama pada saat revolusi industri di Inggris pada tahun 1760. Buku ini banyak memuat data-data historis hingga tahun 1800-an baik dari negara maju maupun negara berkembang. 

Dalam bukunya, Piketty juga mengenalkan formula baru dalam memahami hukum fundamental kapitalisme. Hukum fundamental kapitalisme I berfungsi untuk menghitung jumlah persentase pemasukan dari pengembalian  kapital atau capital return pada pendapatan nasional atau the percentage of income in national income from return. Rumusnya α = (r x β) x 100, dimana α adalah persentase total pengembalian dari kapital pada total pendapatan nasional, r adalah jumlah persentase pengembalian kapital atau return on capital, dan β adalah rasio modal per pendapatan tahunan nasional. 

Sedangkan Hukum kapitalisme kedua II menghitung rasio total kapital terhadap jumlah pendapatan nasional tahunan. Rumusnya yaitu β = s / a dimana s adalah adalah total tabungan atau total stok kapital, a adalah pertumbuhan pendapatan tahunan nasional atau annual income, atau bisa juga disebut sebagai pertumbuhan PDB atau ekonomi.

Sekarang kita hitung sebuah kasus yang umum terjadi di banyak negara, dengan pertumbuhan ekonomi rendah hanya sekitar 1% dan return investasi yang lebih tinggi berada di angka 5%. Contoh: jika ada suatu negara dengan total stok kapital berjumlah €1.500.000 dengan jumlah pendapatan tahunan €100.000 (tingkat pengembalian investasi kapital atau r: 5% dan pertumbuhan ekonomi tahunan atau g: 1,67%)
Berapakah nilai α dan β?

Pertama-tama kita cari dulu nilai β nya, berarti β = 1.500.000 / 100.000 = 15, ini berarti total stok kapital setara dengan total pendapatan tahunan nasional, atau dibutuhkan waktu selama 15 tahun untuk mengakumulasi jumlah kapital yang ada saat ini.

Kedua, baru kita cari α nya, α = (0,05 x 15) x 100% = 75%, ini berarti 75% dari total pendapatan tahunan negara tersebut (€75.000) berasal dari pengembalian kapital atau r. Sisanya 25% atau sebanyak €25.000  dari pendapatan tahunan negara tersebut berasal dari pertumbuhan pendapatan nasional atau pertumbuhan ekonomi, disingkat g. 

Dari sini masalah belum terdeteksi, sekarang kita hitung darimana nilai g yang berjumlah 1,67%. Pertama-tama kita cari dulu validitas nilai r apakah benar sebanyak 5%? 

Jawabannya, yaitu kita bagi pendapatan dari pengembalian kapital yang sebanyak 75.000 pada total kapital, 75.000 / 1.500.000 = 0.05 atau 5%, berarti tingkat persentase pengembalian kapital atau return adalah benar sebanyak 5%. Sekarang kita cari tingkat persentase g nya apakah benar 1,67%? Jawabannya, 25.000 / 1.500.000 = 0.167 atau 1,67%. Ini berarti r = 5% dan g = 1.67%. Kemudian, dimanakah letak masalahnya?

Inilah yang menjadi kekhawatiran oleh Pak Piketty, yaitu pengembalian kapital yang lebih besar dari pertumbuhan pendapatan nasional (r>g). Tingkat r yang melebihi g tentu hanya membuat pemilik kapital bertambah kaya. Sedangkan sang pekerja yang tidak memiliki kekayaan atau kapit akan semakin sulit atau miskin. 

Sayangnya, di sebagian besar negara kondisi  r > g ini terus terjadi dan hampir tidak pernah g melampaui tingkat r. Oleh karena itu jika kondisi ini terus terjadi tanpa intervensi yang signifikan dari pemerintah-pemerintah, maka dalam jangka panjang kesenjangan ekonomi akan semakin parah. Orang yang memiliki kekayaan akan semakin kaya, sedangkan yang tidak, akan semakin sulit.

Ibaratkan kondisi di indonesia yang kenaikan upah karyawannya sebanyak 8% per tahun, a = 8%, sedangkan kenaikan harga-harga saham di Indonesia atau aset investasi lainya bisa saja hingga lebih dari 25%. Yang manakah yang semakin kaya? pemilik aset investasi bernilai miliaran atau yang hanya mengandalkan kenaikan UMR sebanya 8% per tahun? Patut diingat bahwa, biaya hidup lainnya tentu juga bisa mengalami kenaikan hingga lebih dari 8%. 

Sebagai orang Prancis, Piketty memperingatkan bahwa meningkatnya kesenjangan ekonomi dapat menimbulkan rasa kecemburuan, permusuhan diantara masyarakat dan bahkan kemiskinan yang berkepanjangan. Kondisi inilah yang memicu terjadinya revolusi Prancis pada 1789, dimana banyak kaum bangsawan Prancis termasuk raja Louis XVI dan istrinya Ratu Marie Antoinette yang dipenggal oleh rakyatnya sendiri akibat kelaparan.

Selain itu, Piketty juga mengkritisi kembalinya Patrimonial Capitalism, dimana banyak anak-anak orang kaya yang tetap menjadi lebih kaya lagi dari warisan orang tua kaya nya. Mereka bisa lebih kaya lagi tanpa memberikan kontribusi yang berarti bagi masyarakat ataupun perekonomian. Warisan kekayaan mereka tentu akan tumbuh lebih cepat dari pada pertumbuhan ekonomi. Bandingkan dengan anak dari kalangan keluarga biasa yang harus kerja jadi pelayan restoran hingga lelah dengan hasil yang pas-pasan. Sulit bagi pekerja untuk memperoleh satu juta rupiah dan mudah bagi orang kaya untuk mendapatkan miliaran tanpa perlu kerja lelah.

Piketty juga mengkritisi teori Simon Kuznets dengan Kurva Kuznets nya. Kuznets menyatakan bahwa pada tahap awal pembangunan ekonomi, kesenjangan ekonomi akan meningkat, lalu pada tahap pembangunan ekonomi berikutnya kesenjangan akan mereda. Piketty dan tim penelitinya berargumen bahwa kesenjangan pada awalnya meningkat lalu mereda dan justru meningkat lagi selama abad 21 ini.

Disinilah Piketty menawarkan solusi, beliau mengajukan agar pajak progresif diterapkan pada orang-orang kaya. Pajak progresif ini meliputi pajak aset kekayaan, pajak harta warisan dan pajak pendapatan. Pajak yang dikenakan pada aset kekayaan sebesar 15% persen, sedangkan pajak pendapatan dikenakan pada pendapatan tertinggi sebesar 80%. Piketty tentunya berargumen bahwa yang jadi prioritas tentunya adalah pajak aset kekayaan dan pajak harta warisan. 

Pajak pendapatan atau income justru hanya memperberat kaum menengah untuk hidup lebih sejahtera. Pajak progresif pada aset kekayaan lah yang utama. Dengan diterapkannya ini diharapkan komposisi kekayaan dapat terdistribusi secara merata dan dapat mengurangi kesenjangan ekonomi yang parah seperti di negara-negara kapitalis turbo.

Bagaimanapun juga, jika Pak Piketty benar maka dampak buruk dari kapitalisme sangatlah mengancam kita semua. Mobilitas sosial akan sangat sulit terjadi. Jika kita mau nasibnya berubah, maka tidak ada jalan lain selain mewarisi harta kekayaan yang besar.

Lalu, apakah teori Piketty sama dengan teorinya Karl Marx? Tentunya berbeda. Yang menjadi kekhawatiran Marx bukanlah kesenjangan ekonomi, tetapi tidak adilnya jumlah keuntungan perusahaan yang lebih banyak jatuh ke pemilik kapital. Pemilik kapital dapat bertambah kaya jika membayar lebih kecil dari pada nilai surplus sebenarnya yang telah diciptakan oleh tenaga kerja. Marx melihat hubungan sosial yang terdiri dari tenaga kerja, petinggi perusahaan, pemilik kapital dan kaum bangsawan.

 Dalam bukunya Das Kapital, Marx menjelaskan apa itu kapital secara komprehensif dan lebih filosofis. Menurut Marx, kapital adalah sejumlah uang yang dibelikan komoditas tertentu untuk fijual kembali agar menghasilan uang, sehingga bersiklus Money-Commodity-Money. Piketty lebih menjelsakan bagaimana dan mengapa kesenjangan ekonomi terus terjadi disertai historis data-data kuantitatifnya, dan mensimplifikasi penjelasannya yang hanya terdiri dari income atau pemasukan dan kekayaan atau kapital.

Setelah itu semua, Piketty mengajak pembacanya untuk memahami apa sebenarnya ilmu ekonomi itu. Menurutnya ilmu ekonomi adalah ilmu sosial yang terdiri dari sosiologi, sejarah, antropologi, dan ilmu politik. Piketty berpendapat bahwa ekonomi bukanlah ilmu sains atau eksak yang meggunakan angka. Ilmu ekonomi selalu bergerak dinamis, tidak statis seperti matematika yang membekukan realitas. Realitas ekonomi terus bergerak tidak pernah diam. Sehingga matematika dan ekonomi seharusnya berbeda.

Sehingga, ilmu ekonomi harus dipahami secara filosofis dan komprehensif dengan menggunakan akal dan logika secara sistematis dan tetap praktis. Dengan itu, saat kita memahami cara kerja ilmu ekonomi, hal ini dapat membantu kita semua untuk mencapai kesejahteraan bersama untuk semuanya tanpa terkecuali.




Saturday, 19 September 2020

Part VI (End): Is There Any Miracle After The Decline in the EROEI Ratio? Would Possibly Our Economy Survive Afterwards?


Source: stuartmcmillen.com


The fall in the EROEI Ratio is also related to the depletion of natural resources such as oil, minerals, or natural gas.

Scientists have continued to debate, would these natural resources be completely depleted one day? and would our economic growth cease thereafter?

However, we need not worry too much about the decline in the surplus energy ratio. In fact, the development of technology have made  economy more productive and going on optimally.

Technological advancement has enabled us to use less energy and materials to produce goods and services. As a result, our economy is still being able to flourish and automatically adjusted to the continuing decline in the EROEI Ratio.

For instance, during our parents era, they had used vast amounts of energy and materials to produce telephones, cameras, televisions, calculators, walkmen, tapes, radios, and computers. However, today in our time, all the functions of those devices can be combined into one single device, it is a smartphone. 

All the functions of those devices are in our one hand. Imagine if there was no smartphone. How much energy and raw materials would have been needed to continue producing all those devices until this day with the decline in energy surplus?

In addition, cars which has been produced in the 2010s are certainly much more efficient in using fuel compared to the cars produced in the 1970s. The Boeing 737 Max series is also 20% more fuel efficient than the first 737 series produced in 1967.

Technological progress has made once crucial natural resources become less necessary. For instance, the use of copper to produce telephone cables. Is it possible that oil would become less needed in the future?

Therefore, the impact of the deterioration of energy surplus wouldn't be as severe as we had imagined and our economic civilization will still continue to work on and automatically adjusted to the changing conditions. Our productivity will also be continuing to increase and become adaptable to the decrease in the energy surplus.

However, scientists are still concerned about the upcoming-depletion of world oil reserves and other mineral resources. The pollution which caused by our economic activities also makes them worry about the environment condition.

Many scientists and institutions have been carrying out numerous scientific research to find another alternative energy who can still prosper our economy. A bunch of people and communities have also advocated the use of wind turbine and the solar panel which are claimed as being more environmentally friendly.

Nevertheless, as individuals we can still contribute properly. We should tighten our belts and don't be consumptive. We should consume goods and services more wisely based on the function or usability so as not to be redundant.

In response to the deteriorating energy surplus ratio, minimalist lifestyle trend is also growing on these modern days because it is claimed as being more affordable and environmentally friendly. Could the minimalist lifestyle trend become more popular in the future?

Part V: Impact of Decrease in Energy Surplus on Our Welfare: Real Income Under Pressure

Our monthly soaring bills exceed our monthly income? 
Source: dailymail.co.uk


Increase in the prices of various goods due to the decline in energy surplus has made our income less to save. Our income in Indonesia may increase by 8% per year. However, the fact is that some commodity prices may have risen even faster than our income growth.

We take an example in the UK which has more complete and reliable data. Based on the facts that I read from the news page above, it is explained that during 2008 to 2013 the average annual income in the UK has increased by an equivalent of 6.25%, meanwhile the monthly cost of living has increased by an average of 25%.

It means that within 5 years our monthly costs of living has relatively increased 4 times than the increase in our annual income.

Therefore, we might be heading to an economic downturn. We might still be able to afford our basic needs, but our disposable income would be diminished and our ability to save and build assets would be likely to cease, not to mention that inflation is ready to wane the purchasing power of our money.


The End of Prosperity Era?

So far, we have discussed that the EROEI Ratio has decreased gradually from time to time. Real economic growth may have ceased a few years ago. When energy has become increasingly expensive to obtain, then our potential for prosperity has diminished, to the point where our economic growth has ceased. 

This is reflected in our soaring cost of living. Of course, all economic sectors have been affected by the decrease in the energy surplus ratio. If this ratio continued to decline, craving for a luxury vacation in Paris, buying a luxury house, driving a luxury car, eating in a luxury restaurants or spending Sunday afternoon at a golf club, if the energy surplus decreases then it will all just be a dream and end.


The Impact of Decreasing Energy Surplus on Community Welfare

I myself who is really concerned about economic inequality and poverty, of course, is really worried about this problem.
When the cost of living is relentlessly increasing, we have less income that can be saved for our future or the accumulation of capital to build assets.

To escape poverty we must have assets. An accumulation of capital for the creation of wealth can come true if we increase our savings and investment for the future.

The decline in the energy surplus is certainly a big challenge for people who have had smaller amount of assets to the creation of wealth. This despair condition would cause them to always depend on monthly salary.

Therefore, their monthly salary is only sufficiently enough to afford their soaring living costs. Ultimately, those who do not have assets or wealth would be more likely to keep working whole life.

Henceforth, I always hopes that every country could someday apply the concept of a welfare state for a more equal distribution of wealth, so that we all can benefit from the economic growth and development and ultimately we also can tackle the negative impact of the decline in energy surplus.


 

Part IV: Causes of Decrease in Energy Surplus Ratio

Source: stuartmcmillen.com


After understanding the concept of surplus energy, we will now understand why this ratio has decreased. If you have read my article entitled "Why the Cost of Living Increases" then you will surely understand it. The decline in the energy surplus can be explained by the concept of cherry picking that we previously discussed in the article.

The decreasing energy surplus can be explained by the low-hanging fruit principle in economics. This principle explains that we tend to pick lower-hanging fruits because it is required less effort to reach the fruit.

However, if we keep picking the fruits that are  hanging lower, eventually the number of those lower hanging fruits will decrease in quantity, so that we have to exert more energy to pick the fruit that is hanging higher.

At this point, we have drilled oil from a source that is closest to our civilization (we have picked the lower hanging cherries in the tree closest to our house).

Compare between the Drake well in Pennsylvania, United States with a depth of 21 meters with oil reserves with a depth of 5.500 meters in the Gulf of Mexico, which source would require higher costs to obtain the oil?

Based on the concept of cherry garden, Drake's oil well is also known as the lower hanging cherry in the tree that is closest to our house. Meanwhile, the oil reserves in the Gulf of Mexico are the higher hanging cherries in the trees further away from our homes.

As time goes by, we would inevitably have to exert a greater amount of energy to pick higher hanging fruits in the trees that further away from our home of civilization.

Could it be possible that we would drill for oil to remote Antarctica in there?



Part III: Real Threat of Our Economy: A Decrease in the EROEI Ratio that Decreases the Energy Surplus

 

Today's EROEI Ratio only 3:1 ?
Source: commodityintelligence.com


Unfortunately, the EROEI ratio has inevitably been decreasing over time. The abundance of energy surpluses in the early 20th century seems to be just the past. Today, it will consume more amount of energy to produce the same amount of energy as it was used to be. 

Consequently, the investment costs to produce fuel would be likely to increase while the amount of output remains constant or unchanged.

This consequence would lead to decreasing economic productivity which results in a gradual decline in economic growth and development. It is unsurprisingly that our cost of living is relentlessly rising from year to year as well as the weakening purchasing power of our money.

Some research has showed us that the global EROEI ratio has been continuing to decline from 100:1 in the 1930s, then decreased again to 18:1 in 1990. Even today the ratio is only 3:10?

It explains comprehensively why the costs of gaining energy are getting more expensive from year to year. Furthermore, it means that it would probably lead to the rising costs we have to spend and exert to drive our economy. As a result, our economic productivity would be declining and economic stagnation is inevitable.

Consequently, with rising living costs, more percentage of our money will be only spent on essentials, we are left with less amount of money to save and invest. We wouldn't possibly enjoy higher standard of living anymore if this situation persisted. It seems possible that our modern civilization would return to the hunting age again due to the shrinking energy surplus.

Then, why has our energy surplus been decreasing from time to time?

Part II: Understanding EROEI Ratio as The Determinant of Surplus of Energy

 

Energy Surplus Value of Each Source of Energy (The More Right, The More Inefficient) 
Source: euanmearns.com


After understanding what energy surplus is, now we get to know profoundly about the EROEI Ratio, this ratio determines how high the energy surplus is. In order to have a broader perspective, we assume that the EROEI Ratio equals to Energy Surplus Ratio and also equals to Energy Surplus.

So far, economists have only been busy discussing about economic growth, total GDP, total debt, balance of trade deficit, inflation, stimulus and the remaining oil reserves.

In fact, our big concern problem of the economy is the difference between the amount of energy produced and the energy consumed to produce energy.

This is what is meant by the EROEI (Energy Return on Energy Invested) Ratio. This ratio is  the main key to our economic development and the creation of economic wealth.

Let's see a more comprehensive explanation of how this ratio works. The EROEI ratio is also known as net energy. If the ratio value is 100: 1, it means that if we send one unit of energy as an input, we will get one hundred units of energy as output. One hundred units is called the energy surplus that is used to drive the economy. 

The higher the EROEI Ratio, the higher the energy surplus, and it means the more prosperous the economy will be.
In the early 20th century, the EROEI Ratio was relatively high, so that at that time the world economy was very rapidly flourishing, and also dubbed as Heyday in the first half of the 20th century.

Would probably the value of this ratio remain high into the next generation?

Part I: Surplus of Energy as The Key to The Development of Civilization

Development of Agricultural Method Has Enabled Energy Surplus Which Allowed Human Civilizations to Flourish 
Source : geneticliteracyproject.org



Introduction

In this article and the next five articles, I would like to explain you of what really drives our economy and would they be likely to continue to be able to drive our economy onwards? 
I divide this discussion separately into 6 articles so that it can be explained more comprehensively and sequentially. First, let's  understand what energy surplus is.


Energy Surplus as The Key 

So far, what we have known about the key to economic development and human civilization is capital investment or innovation. However, it turns out that economic development and human civilization began with an energy surplus come into reality.

According to Tim Morgan in his book "Life After Growth", he argues that the economy is an energy system not a monetary one. We tend to assume that energy only makes a smaller contribution to the economy. In fact, it is energy that is the real driving factor of the economy.

Energy surplus is a state in which the energy output is always greater than the input. This energy output is used to run the wheels of the economy which in turn plays a significant role in economic development. If the energy-surplus ratio is high then the economy will prosper and flourish.

During early days of human history, there is no energy surplus. At that time, humans were still hunting and gathering food and living nomadically. The energy they spent on hunting for food was equal to the energy they gained from the food they hunted.

Consequently, there was no surplus of energy because their time and energy were only spent hunting for food. As a result, there was no development of civilization, no time for holidays, no economic development, and no particular social group.

Surplus of energy first occurred when agriculture had been discovered and established. Agriculture makes humans can produce an abundant amount of crops, so that we no longer need to exert harsh physical exercises to expend large amounts of energy to produce food.

Human dependency on hunting decreased drastically, as a result humans have more time to produce other goods to support life.

When our civilization was becoming more advanced and the increased population, another breakthrough occurred. The invention of mechanical power and discovery of another new resources in the form of coal and oil, have brought humanity to an unprecedented level of economic prosperity. However, It is all about productivity. How we can do less with more results. 

Thursday, 17 September 2020

Bagian VI (Akhir): Adakah Keajaiban Setelah Rasio EROEI Jatuh? Apakah Ekonomi Akan Tetap Bertahan Sesudahnya?

Sumber: stuartmcmillen.com


Jatuhnya Rasio EROEI juga berhubungan dengan menipisnya sumber daya alam seperti minyak bumi, mineral-mineral, ataupun gas alam. 

Para ilmuwan terus berdebat apakah sumber daya alam tersebut akan habis seluruhnya suatu hari nanti? dan apakah pertumbuhan ekonomi akan berakhir setelahnya?

Bagaimanapun juga, kita tidak perlu khawatir berlebihan pada jatunya rasio energi surplus ini. Faktanya, kemajuan teknologi telah membuat ekonomi berjalan semakin produktif dan optimal.

Kemajuan teknologi telah memungkinkan kita untuk menggunakan lebih sedikit energi dan bahan material untuk memproduksi barang dan jasa. Alhasil, ekonomi akan tetap terus berjalan menyesuaikan diri dengan penurunan Rasio EROEI secara otomatis. 

Sebagai contoh, pada zaman orang tua kita dulu, mereka banyak mengkonsumsi energi dan bahan-bahan material untuk memproduksi telepon, kamera, televisi, kalkulator, walkman, kaset, radio, dan komputer. Namun, hari ini di zaman kita, semua fungsi benda tersebut dapat digabungkan ke dalam satu alat saja, yaitu smartphone.

Semua fungsi alat-alat tersebut berada dalam satu genggaman. Bayangkan jika smartphone tidak ada. Berapa banyak energi dan bahan baku yang akan dikonsumsi untuk terus memproduksi semua alat elektronik itu hingga hari ini dengan surplus energi yang semakin menyusut?

Selain itu, Mobil produksi tahun 2010-an tentu  jauh lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding mobil produksi tahun 1970-an. Pesawat Boeing seri 737 Max juga 20% lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar dibanding seri 737 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1967.

Kemajuan teknologi juga telah membuat bahan material tertentu yang dulu sangat dibutuhkan, menjadi tidak terlalu dibutuhkan lagi. Contohnya penggunaan tembaga untuk pembuatan kabel telepon. Mungkinkah minyak bumi akan menjadi tidak terlalu dibutuhkan lagi di masa depan?

Oleh karena itu, dampak penyusutan surplus energi tidak akan separah yang dibayangkan dan peradaban ekonomi kita akan tetap berjalan menyesuaikan kondisi yang terus berubah. Produktivitas kita pun juga akan terus meningkat menyesuaikan penurunan surplus energi. 

Bagaimanapun juga para ilmuwan masih khawatir tentang menipisnya cadangan minyak dunia serta sumber daya mineral lainnya. Polusi yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi kita juga membuat mereka khawatir akan kelestarian lingkungan.

Banyak ilmuwan dan institusi yang terus melakukan penelitian ilmiah untuk mencari energi alternatif lain. Ada juga yang menginginkan penggunaan tenaga angin ataupun sinar matahari karena dinilai lebih ramah lingkungan.

Terlepas dari itu semua, sebagai individu kita tetap bisa berperan penting. Kita harus mengencangkan ikat pinggang dan mengurangi pemborosan serta menggunakan barang dan jasa secara lebih bijak sesuai daya guna agar tidak mubazir.

Sebagai respon penurunan rasio surplus energi, tren gaya hidup minimalis juga semakin berkembang karena dinilai lebih murah dan ramah lingkungan. Mungkinkah tren hidup minimalis akan semakin berkembang di masa depan? 

Bagian V: Dampak Penurunan Surplus Energi Pada Kesejahteraan Masyarakat: Penghasilan Riil dibawah Tekanan

Sumber: dailymail.co.uk


Kenaikan berbagai harga barang dikarenakan merosotnya surplus energi membuat penghasilan kita semakin sedikit untuk ditabung. Penghasilan kita di Indonesia boleh saja naik sebanyak 8% per tahunnya. Namun faktanya beberapa harga barang komoditas bisa naik lebih tinggi lagi mendahului kenaikan penghasilan kita. 

Kita ambil contoh di Inggris yang mempunyai data yang lebih lengkap dan dapat diandalkan.  Berdasarkan fakta yang penulis baca dari laman berita diatas, dijelaskan bahwa selama tahun 2008-2013 rata-rata penghasilan tahunan di Inggris telah meningkat setara 6,25%, sedangkan biaya hidup bulanan telah meningkat rata-rata sebanyak 25%.

Ini berarti dalam kurun waktu 5 tahunan biaya hidup bulanan disana telah meningkat sebanyak 4 kali lipat daripada kenaikan penghasilan tahunan disana.

Oleh karena itu, kita mungkin saja sedang menuju kemunduran ekonomi. Kebutuhan pokok kita mungkin masih kita dapat beli tetapi sisa uang yang dapat kita tabung dan membangun aset akan semakin menyusut, belum lagi inflasi yang siap menggerogoti daya beli uang kita.


Akhir Dari Era Kemamuran?

Kita telah membahas bahwa Rasio EROEI semakin menurun dari waktu ke waktu. Pertumbuhan riil ekonomi mungkin saja telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Ketika energi semakin mahal untuk diperoleh, maka potensi kemakmuran kita akan semakin berkurang, inilah poin dimana pertumbuhan ekonomi telah berakhir. 

Hal ini tercermin dari naiknya biaya hidup kita. Semua sektor ekonomi tentu akan terkena dampak dari penurunan rasio surplus energi. Jika rasio ini terus menurun maka untuk liburan mewah ke Paris, membeli rumah mewah, mengendarai mobil mewah, makan-makan di restorah mewah ataupun menghabiskan waktu minggu sore di klub golf, jika surplus energi semakin menurun maka itu semua hanya akan menjadi impian dan berakhir.


Apa Dampak Penurunan Surplus Energi Kepada Kesejahteraan Masyarakat?

Penulis sendiri yang sangat tertarik pada topik kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, tentu sangatlah khawatir tentang masalah ini.

Saat biaya hidup yang semakin meningkat maka akan semakin sedikit sisa penghasilan kita yang dapat ditabung untuk investasi masa depan kita agar kita bisa mengakumulasi kapital untuk membangun aset.

Untuk lari dari kemiskinan kita harus memiliki aset. Akumulasi kapital untuk membangun aset dapat terjadi jika kita memperbanyak tabungan dan investasi untuk masa depan.

Merosotnya surplus energi tentu menjadi tantangan untuk orang-orang yang hanya memiliki sedikit aset untuk membangun kekayaan. Kondisi ini tentu akan menyebabkan mereka selalu bergantung kepada gaji bulanan. 

Gaji bulanan mereka tentu hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal. Oleh karena itu, mereka yang tidak memiliki aset maka kemungkinan besar akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya. 

Disinilah penulis selalu berharap agar setiap negara dapat menerapkan konsep negara kesejahteraan untuk pemerataan kemakmuran, agar kita semua dapat meminimalisir dampak negatif dari penurunan surplus energi.


Bagian IV: Penyebab Menurunnya Rasio Energi Surplus

Sumber: stuartmcmillen.com


Setelah kita memahami konsep energi surplus, sekarang kita akan pahami mengapa rasio ini semakin menurun. Jika teman-teman telah membaca artikel saya yang berjudul "Mengapa Biaya Hidup Semakin Naik" maka teman-teman pasti akan memahaminya. Merosotnya surplus energi dapat dijelaskan oleh konsep pemetik kebun cheri yang telah kita bahas di artikel tersebut. 

Menurunya surplus energi dapat dijelaskan oleh prinsip low-hanging fruit dalam ilmu ekonomi. Prinsip ini menjelaskan bahwa kita cenderung memetik buah yang tergantung lebih rendah karena hanya diperlukan usaha yang lebih sedikit untuk meraih buah tersebut. 

Namun, jika kita terus menerus memetik buah-buah yang tergantung lebih rendah, maka lama kelamaan jumlah buah yang tergantung lebih rendah tersebut akan semakin menipis, sehingga kita harus mengerahkan tenaga yang lebih besar lagi untuk memetik buah yang tergantung lebih tinggi lagi. 

Saat ini, kita telah mengebor minyak dari sumber terdekat dari tempat kita (kita telah memetik buah cheri yang tergantung lebih rendah di pohon yang letaknya paling dekat dengan rumah kita).

Bandingkan antara sumur minyak Drake di Pennsylvania, Amerika Serikat dengan kedalam 21 meter dengan cadangan minyak yang berada pada kedalaman 5.500 meter di Teluk Mexico, sumber manakah yang akan memerlukan biaya yang tinggi untuk memperoleh minyaknya?

Berdasarkan konsep kebun cheri, sumur minyak Drake disebut juga sebagai buah cheri yang tergantung lebih rendah di pohon terdekat dari rumah kita. Sedangkan cadangan minyak di teluk Mexico adalah buah cheri yang tergantung lebih tinggi di pohon yang letaknya lebih jauh dari rumah kita.

Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan mau tidak mau kita harus berusaha lebih keras lagi untuk memetik buah cheri yang tergantung lebih tinggi di pohon yang terletak lebih jauh dari rumah peradaban kita. 

Mungkinkah kita akan mengebor minyak hingga ke Antartika yang terpencil disana?



Bagian III: Ancaman Ekonomi yang Sebenarnya: Penurunan Rasio EROEI yang Membuat Surplus Energi Menurun

Hari Ini Rasio EROEI Hanya 3:1 ?
Sumber: commodityintelligence.com


Sayangnya, dari waktu ke waktu nilai rasio ini semakin menurun. Melimpahnya surplus energi pada awal abad ke 20-an sepertinya hanya tinggal sejarah. Hari ini, dibutuhkan energi yang lebih besar lagi untuk menghasilkan energi dalam jumlah yang sama. 

Jadi, seiring berjalannya waktu biaya investasi untuk menghasilkan bahan bakar akan semakin meningkat dengan jumlah output yang tetap atau tidak berubah.

Hal ini tentu memicu terjadinya penurunan produktivitas perekonomian yang mengakibatkan melesunya ekonomi secara bertahap. Tidak heran jika biaya hidup kita semakin meningkat dari tahun ke tahun serta melemahnya daya beli uang kita.

Penelitian menunjukkan bahwa rasio EROEI global terus menurun dari angka 100:1 pada 1930-an, lalu menurun lagi menjadi 18:1 pada 1990. Bahkan hingga hari ini nilai rasionya menjadi hanya 3:10?

Inilah mengapa biaya energi semakin mahal dari tahun ke tahun. Ini berarti akan semakin mahal biaya yang kita harus keluarkan untuk menggerakkan perekonomian, tentunya ini akan berefek pada kenaikan berbagai macam harga kebutuhan pokok dan biaya hidup. 

Akibatnya, produktivitas perekonomian semakin menurun dan stagnasi ekonomi pun tak terhindarkan. Ada kemungkinan peradaban modern akan balik lagi ke zaman berburu lagi karena surplus energi yang semakin menyusut. 

Lalu, mengapa surplus energi kita semakin menurun dari waktu ke waktu?


Bagian II: Memahami Rasio EROEI Sebagai Determinan Surplus Energi

Nilai Surplus Energi Masing-masing Jenis Sumber Energi (Semakin ke Kanan Semakin Tidak Efisien) 

Sumber: euanmearns.com 


Setelah kita memahami apa itu surplus energi, Sekarang kita mengenal lebih dekat lagi tentang Rasio EROEI, rasio inilah yang menentukan seberapa besar surplus energi yang terjadi. Agar kita mempunyai perspektif yang lebih luas kita anggap saja bahwa Rasio EROEI = Rasio Surplus Energi = Surplus Energi.

Selama ini para ekonom hanya sibuk membicarakan pertumbuhan ekonomi, jumlah PDB, jumlah utang negara, defisit neraca perdagangan, inflasi, stimulus maupun sisa cadangan minyak bumi. 

Padahal, yang menjadi akar masalah dari perekonomiam adalah perbedaan antara jumlah energi yang dihasilkan dengan energi yang dikonsumsi untuk menghasilkan energi. 

Hal inilah yang dimaksud sebagai Rasio EROEI (Energy Return on Energy Invested) Rasio inilah yang menjadi kunci dari pembangunan ekonomi dan penciptaan kekayaan ekonomi kita.

Mari kita pahami lebih dalam cara kerja rasio ini. Rasio EROEI disebut juga sebagai net energy. Jika rasio ini bernilai 100:1, Ini berarti jika kita mengirim satu unit energi sebagai input maka kita akan mendapatkan seratus unit energi sebagai output. Seratus unit lah yang disebut sebagai surplus energi yang akan menggerakkan perekonomian. 

Semakin tinggi nilai Rasio EROEI, maka semakin tinggi surplus energinya, maka semakin makmur perekonomian tersebut. 

Pada awal abad 20-an, Rasio EROEI bernilai tinggi, sehingga pada masa itu perekonomian dunia sangatlah berkembang pesat, dan dijuluki sebagai Heyday in the first half of the 20th century. 

Akankah nilai rasio ini tetap tinggi hingga ke generasi berikutnya?










Bagian I: Surplus Energi Sebagai Kunci Awal Perkembangan Peradaban Manusia

Penemuan Metode Pertanian Telah Menciptakan Surplus Energi yang Membuat Peradaban Berkembang
Source: geneticliteracyproject.org


Pengantar

Pada artikel ini dan lima artikel berikutnya, penulis ingin menjelaskan apa yang sebenarnya menggerakkan perekonomian kita dan apakah penggerak itu akan terus mampu menggerakkan ekonomi kita? Penulis membagi pembahasan ini secara terpisah-pisah dalam 6 artikel agar bisa dijelaskan secara lebih komprehensif dan berurutan. Sebelumnya, mari kita pahami dulu apa itu surplus energi.


Surplus Energi Sebagai Kunci Awal

Selama ini yang kita ketahui bahwa yang menjadi kunci pembangunan ekonomi dan peradaban manusia adalah investasi modal ataupun inovasi. Namun ternyata, pembangunan ekonomi dan peradaban manusia dimulai dari adanya surplus energi.

Menurut Tim Morgan dalam bukunya Life After Growth bahwa Sistem Perekonomian secara fundamental yaitu sebuah sistem energi. Kita berasumsi bahwa energi hanya berkontribusi kecil dalam perekonomian. Padahal, energilah yang menjadi pusat penggerak ekonomi yang sesungguhnya. 

Surplus energi adalah keadaan dimana output energi selalu lebih besar daripada hasil inputnya. Output energi inilah yang digunakan untuk menjalani roda perekonomian yang selanjutnya berperan untuk kesejahteraan manusia. Jika rasio energi surplus tinggi maka perekonomian akan makmur.

Pada awal sejarah umat manusia, surplus energi tidak ada. Pada masa itu, manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan serta hidup secara nomaden. Energi yang mereka keluarkan keluarkan untuk berburu makanan sama dengan energi yang mereka dapatkan dari makanan hasil buruan. 

Dikarenakan tidak ada surplus energi maka waktu dan tenaga mereka hanya habis untuk berburu makanan. Alhasil, tidak ada pembangunan peradaban, tidak ada waktu untuk liburan, tidak ada pembangunan ekonomi, dan tidak ada kelompok sosial tertentu.

Surplus energi pertama kali terjadi pada saat ditemukannya metode pertanian. Metode pertanian membuat hasil panen melimpah, sehingga manusia tidak perlu lagi mengerahkan energi dalam jumlah yang besar untuk menghasilkan makanan. 

Ketergantungan pada berburu berkurang drastis, sehingga manusia mempunyai lebih banyak waktu untuk memproduksi barang-barang lain sebagai penunjang hidup.

Saat peradaban manusia yang semakin maju dan meningkatnya populasi, terjadi terobosan lagi yaitu penemuan mesin dan sumber energi baru berupa batu bara dan minyak bumi.

Penemuan tersebut telah menaikkan derajat umat manusia dan menghantarkan kita kepada tingkat kesejahteraan dan kekayaan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Semua intinya adalah produktivitas. Bagaimana kita dapat melakukan lebih sedikit dengan hasil yang lebih banyak.


Friday, 11 September 2020

Pentingnya Perencanaan Keuangan: Belajar dari Kasus Penyanyi Pinkan Mambo

Source: idntimes.com


Perencanaan keuangan mungkin terdengar sepele untuk sebagian besar orang. Mereka berpikir bahwa perencanaan keuangan tidak perlu diterapkan, karena mereka selalu berprinsip "nanti rezeki mah ada aja".

Dengan adanya perencanaan keuangan yang matang kita dapat mengantisipasi bencana keuangan yang akan datang kapan saja. Kita juga tidak perlu repot-repot mencari dana ketika kita membutuhkannya, karena kita telah merencanakan sebelumnya dari jauh-jauh hari.

Kita bisa belajar dari kasus artis atau penyanyi Pinkan Mambo yang populer pada tahun 2000-an. Pada masa jayanya, beliau  mendapat penghasilan puluhan juta sekali manggung dan dapat mengantongi ratusan juta setiap bulannya.

Mobil Toyota Alphard yang berharga miliaran pun sanggup dibeli, beliau juga cukup royal kepada teman-temannya. Pinkan sampai berkata bahwa belum puas mentraktir temannya serta berbelanja jika uangnya belum habis.

Saat belantika musik Indonesia yang meredup akhir-akhir ini dan terjadinya pandemi, telah membuat artis-artis dan selebriti sepi job, termasuk Pinkan Mambo yang tidak manggung lagi selama bertahun-tahun, padahal, menyanyi adalah pemasukan utamanya.

Pinkan harus memutar otak untuk tetap bertahan dengan berjualan gorengan, beliau juga dikejar-kejar debt collector yang menagih hutangnya lebih dari Rp 100 juta.

Pertanyaannya, kemana larinya uang-uang Pinkan yang telah didapat saat masa jayanya itu?

Padahal jika saja saat masa jayanya Pinkan telah menerapkan perencanaan keuangan, maka sekarang Pinkan akan tetap hidup sejahtera seperti masa jayanya dan tidak perlu banting setir menjadi penjual gorengan yang hanya untung sekitar Rp 10.000 per hari. Terdengar bahwa beliau harus mulai dari nol lagi, yang tentu saja akan sangat berat.

Jika kita berpikir uang untuk dihabisi, berapapun yang kita dapatkan tentu akan habis. Kita harus ingat bahwa sebagian uang kita harus tetap ditabung dan diinvestasikan untuk membangun aset untuk pemasukan di masa depan. Apakah kamu masih mau bekerja saat usia pensiun nanti?

Perlu diingat bahwa yang terpenting adalah bukan seberapa besar penghasilan kita. Yang paling penting justru berapa rasio uang yang dapat kita tabung dari penghasilan kita dan investasikan kembali untuk menghasilkan uang dan membangun aset. Kuantitas memang penting namun bukan yang utama. 

Satu lagi, penulis heran kemana ya teman-teman Pinkan yang dulu sering ditraktir?

Kenapa tidak membantu Pinkan saat kesulitan ekonomi?


Tuesday, 8 September 2020

English: Economic Inequality: Struggle Between Two Economic Classes of Wealthy Bourgeoisie and Proletariat by Karl Marx

                      Source: givingcompass.org

Labors and workers demonstrations for a decent wage still have continued until today. They feel that they have been paid inadequate amount of money. On the other hand, the owners of the company where they work are getting richer.

Overpopulation problem also makes the workforce become more abundant, this of course leads to the decreasing wage level and making the living costs rising.

The increasing number of the unemployment rate is also inevitable due to the limited absorption of labor. Even though a worker has qualified skills, good work experience, and higher education, it wouldn't help at all when they got laid off.

Some economists have contended that the condition of full-employment is almost impossible so that the unemployment will always take place. Consequently, there are vast swaths of workers who usually do not own the means of production, are always prone to falling below the poverty line.

Furthermore, the development of technology has also reduced the demand for labor, so that the unemployment rate have been expected to continue to rise. The rising number of unemployment would definitely lead to the rising economic inequality.

This condition had been predicted in the 19th century by Karl Marx. He strongly believed that history is always filled with struggles of economic classes between the owners of capital or the bourgeoisie and the workers or the proletariat.


Causes of the Creation of Communism 

Karl Marx argued that capitalism would always be detrimental to the proletariat, he further argued that the bourgeoisie were always less willing to pay a decent wage to their workers, beside that they would always take more profits generated from the surplus-value that created by its workers. Consequently, the workers would always stay poor.

Therefore, Marx was intending to create a classless society in which the means of production or capital to have been owned communally by all groups of people so that there would be no more oppression to the proletariat. As a result, they all can live in prosperity.

Firstly, you need to understand that the means of production is also referred to as capital stock or assets. Factories, shops, stock portfolios and even a rented house are also the means of production. In essence, anything that generates passive income for the owner of the capital is often referred to as the means of production.

Capitalism was also born from an obsolete traditional economic system which only had benefited kings and aristocrats. Marx had argued that one day capitalism would have collapsed and evolving again because this ideology was also born to replace the previous obsolete ideology, so that one day capitalism would be likely to evolve again, probably towards communism or socialism.

In capitalism, almost every worker, even a skilled worker, is susceptible to fall below the poverty line. It is really difficult for them to accumulate capital to buy the means of production. Their low wages and rising cost of living have discouraged their hope. As a result, when they lost their jobs they also lost income. 

Therefore, Marx was proposing that the transition of society from capitalist to communism should be occuring soon. In communism, the ownership of the factors of production is distributed equally among all levels of society, this is also widely known as from each according to his abilities to each according to his needs. In 1848, Marx and Engels eventually published the Communist Manifesto. The book's first sentence said: "Ghosts were looming over Europe." This terrifying phrase was intended to have frightened the bourgeoisie.

When the ownership of the factors of production is distributed equally, workers who  lost their jobs could still enjoy the results of production, so they could still live adequately.

In fact, today's world population have been increasing drastically and majority of them are proletarians who have no factors of production. As a result, many of those who have only relied on monthly wages, will find it difficult to get out of poverty.

To fix the worsening economic inequality, several countries, especially in Western Europe and Scandinavia, have begun to implement socialist economies or also widely known as the welfare state. This modern concept is more appropriate to be applied today, because socialism also upholds democracy and freedom for its people. Compared to communism, which is usually run in authoritarianism.

In socialist countries, economic wealth is likely to be more equally distributed among all groups of people. Equal economic rights are also provided to all levels of society. Vast numbers of government programs are run to benefit low income workers. People in socialist countries have little incentive to accumulate large amount of wealth because their health and pensions are guaranteed by the state. 

As a result, the country's total wealth is more equally distributed, especially in Scandinavia (10% of the rich owns 65% of the country's total wealth) compared to the more capitalist USA (1% of the rich owns 40% of the country's total wealth).

Henceforth, when would possibly majority of countries implement welfare state?

Sunday, 6 September 2020

Kesenjangan Ekonomi: Pertentangan Antara Kaum Borjuis dan Kaum Proletar oleh Marx

                  Sumber:  www.thoughtco.com


Demo buruh dan pekerja demi upah yang layak terus terjadi. Mereka merasa dibayar dengan upah yang kurang memadai. Di lain sisi sang pemilik perusahaan tempat mereka bekerja justru semakin kaya raya.

Kepadatan penduduk yang semakin meledak juga membuat tenaga kerja semakin melimpah, hal ini tentu menyebabkan tingkat upah semakin menurun dan membuat biaya hidup semakin naik.

Merebaknya angka pengangguran juga tak terelakkan karena terbatasnya penyerapan tenaga kerja. Walaupun seorang pekerja mempunyai skill yang mumpuni, pengalaman kerja yang bagus, serta pendidikan yang tinggi, rasanya tidak ampuh lagi saat mereka terkena PHK.

Beberapa ekonom berpendapat bahwa keadaan full-employment sangatlah mustahil sehingga pengangguran akan selalu ada. Oleh karena itu banyak sekali kaum pekerja yang biasanya tidak memiliki faktor produksi yang rentan jatuh miskin.

Disamping itu, berkembangnya teknologi juga membuat kebutuhan tenaga kerja semakin sedikit, sehingga angka pengangguran diperkirakan akan terus naik. Merebaknya angka pengangguran tentu membuat kesenjangan ekonomi semakin menggila.

Keadaan ini telah diramalkan jauh sebelumnya pada abad ke-19 oleh Karl Marx. Beliau percaya bahwa pada hakikatnya sejarah dipenuhi oleh berbagai macam pertentangan kelas antara pemilik modal atau kaum borjuis dengan kaum pekerja atau kaum proletar. 


Latar Belakang 

Karl Marx menganggap bahwa sistem ekonomi kapitalisme telah merugikan kaum proletar, beliau berargumen bahwa kaum borjuis selalu memberi upah dibawah standar dengan mengambil keuntungan yang dihasilkan dari nilai lebih yang diciptakan oleh pekerjanya. Akibatnya, para kaum proletar akan terus mengalami kesulitan ekonomi.

Oleh karena itu Marx berniat untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas dimana faktor produksi atau modal dimiliki secara komunal oleh semua kalangan supaya tidak ada lagi penindasan kepada kaum proletar. Alhasil, mereka semua akan hidup sejahtera.

Perlu dipahami bahwa faktor produksi juga bisa disebut sebagai modal, kapital atau aset. Faktor produksi bisa berupa pabrik, toko, portofolio saham dan bahkan rumah kontrakan. Intinya, segala hal yang dapat menghasilkan passive income bagi pemiliknya maka itu disebut sebagai faktor produksi.

Kapitalisme juga lahir dari sistem ekonomi tradisional yang sebelumnya hanya menguntungkan raja dan bangsawan. Marx berargumen bahwa kapitalisme suatu saat akan hancur atau berevolusi lagi karena ideologi ini juga lahir untuk memperbaiki ideologi sebelumnya, sehingga suatu hari kapitalisme juga akan berevolusi lagi, tepatnya ke arah komunisme atau sosialisme.

Dalam kapitalisme, hampir setiap pekerja bahkan yang berskill sekalipun rawan jatuh ke dalam kemiskinan. Sangat sulit bagi mereka untuk mengakumulasi kapital untuk memiliki faktor produksi. Upah mereka yang rendah serta biaya hidup yang semakin tinggi telah mengubur harapan mereka. Akibatnya, saat mereka kehilangan pekerjaan mereka juga kehilangan pemasukan.

Untuk itulah Marx mengajukan agar transisi masyarakat dari kapitalis ke komunisme dapat terjadi. Dalam komunisme, kepemilikan faktor produksi dibagi rata ke seluruh lapisan masyarakat, hal ini disebut juga sebagai sama rasa sama rata. Pada tahun 1848, Marx bersama Engels menerbitkan Communist Manifesto. Kalimat pertama buku ini berbunyi: "Hantu sedang membayangi Eropa". Kalimat menakutkan ini ditujukan untuk menakuti kaum borjuis.

Saat kepemilikan faktor produksi dibagi rata, pekerja yang kehilangan pekerjaan tetap dapat menikmati hasil produksi, sehingga mereka tetap bisa hidup layak.

Realitanya, pada hari ini jumlah penduduk dunia semakin meningkat dan mayoritas dari mereka adalah kaum proletar yang tidak memiliki faktor produksi. Alhasil, banyak dari mereka yang hanya mengandalkan upah bulanan akan mengalami kesulitan untuk keluar dari jeratan kemiskinan.

Untuk memperbaiki kesenjangan ekonomi yang semakin parah, beberapa negara terutama di Eropa Barat dan Skandinavia mulai menerapkan sistem ekonomi sosialisme atau lebih populer dengan istilah negara kesejahteraan. Ideologi ini lebih layak untuk diterapkan pada masa sekarang, karena sosialisme juga menjunjung demokrasi dan kebebasan untuk rakyatnya. Bandingkan dengan komunisme yang biasanya dijalankan secara otoritarianisme atau otoriter.

Di negara-negara sosialis kekayaan ekonomi lebih terdistribusi secara merata untuk seluruh kalangan. Persamaan hak ekonomi juga diberikan untuk semua lapisan masyarakat. Banyak program pemerintah dijalankan untuk kesejahteraan kaum pekerja. Masyarakat negara sosialis merasakan insentif yang kecil untuk mengakumulasi kekayaan karena kesehatan dan uang pensiun mereka telah dijamin negara.

Alhasil kesenjangan ekonomi di negara-negara tersebut lebih kecil, terutama di Skandinavia (10% orang kaya memegang 65% kekayaan) dibandingkan Amerika Serikat yang cenderung kapitalis (1% orang kaya memegang 40% kekayaan).

Lalu, kapankah mayoritas negara menerapkan sosialisme?