Sumber: fortune.com
Wednesday, 23 September 2020
Teori Thomas Piketty: Kesenjangan Ekonomi
Saturday, 19 September 2020
Part VI (End): Is There Any Miracle After The Decline in the EROEI Ratio? Would Possibly Our Economy Survive Afterwards?
Part V: Impact of Decrease in Energy Surplus on Our Welfare: Real Income Under Pressure
Part IV: Causes of Decrease in Energy Surplus Ratio
Part III: Real Threat of Our Economy: A Decrease in the EROEI Ratio that Decreases the Energy Surplus
Part II: Understanding EROEI Ratio as The Determinant of Surplus of Energy
Part I: Surplus of Energy as The Key to The Development of Civilization
Thursday, 17 September 2020
Bagian VI (Akhir): Adakah Keajaiban Setelah Rasio EROEI Jatuh? Apakah Ekonomi Akan Tetap Bertahan Sesudahnya?
Para ilmuwan terus berdebat apakah sumber daya alam tersebut akan habis seluruhnya suatu hari nanti? dan apakah pertumbuhan ekonomi akan berakhir setelahnya?
Bagaimanapun juga, kita tidak perlu khawatir berlebihan pada jatunya rasio energi surplus ini. Faktanya, kemajuan teknologi telah membuat ekonomi berjalan semakin produktif dan optimal.
Kemajuan teknologi telah memungkinkan kita untuk menggunakan lebih sedikit energi dan bahan material untuk memproduksi barang dan jasa. Alhasil, ekonomi akan tetap terus berjalan menyesuaikan diri dengan penurunan Rasio EROEI secara otomatis.
Sebagai contoh, pada zaman orang tua kita dulu, mereka banyak mengkonsumsi energi dan bahan-bahan material untuk memproduksi telepon, kamera, televisi, kalkulator, walkman, kaset, radio, dan komputer. Namun, hari ini di zaman kita, semua fungsi benda tersebut dapat digabungkan ke dalam satu alat saja, yaitu smartphone.
Semua fungsi alat-alat tersebut berada dalam satu genggaman. Bayangkan jika smartphone tidak ada. Berapa banyak energi dan bahan baku yang akan dikonsumsi untuk terus memproduksi semua alat elektronik itu hingga hari ini dengan surplus energi yang semakin menyusut?
Selain itu, Mobil produksi tahun 2010-an tentu jauh lebih efisien dalam penggunaan bahan bakar dibanding mobil produksi tahun 1970-an. Pesawat Boeing seri 737 Max juga 20% lebih efisien dalam konsumsi bahan bakar dibanding seri 737 yang pertama kali diproduksi pada tahun 1967.
Kemajuan teknologi juga telah membuat bahan material tertentu yang dulu sangat dibutuhkan, menjadi tidak terlalu dibutuhkan lagi. Contohnya penggunaan tembaga untuk pembuatan kabel telepon. Mungkinkah minyak bumi akan menjadi tidak terlalu dibutuhkan lagi di masa depan?
Oleh karena itu, dampak penyusutan surplus energi tidak akan separah yang dibayangkan dan peradaban ekonomi kita akan tetap berjalan menyesuaikan kondisi yang terus berubah. Produktivitas kita pun juga akan terus meningkat menyesuaikan penurunan surplus energi.
Bagaimanapun juga para ilmuwan masih khawatir tentang menipisnya cadangan minyak dunia serta sumber daya mineral lainnya. Polusi yang dihasilkan dari kegiatan ekonomi kita juga membuat mereka khawatir akan kelestarian lingkungan.
Banyak ilmuwan dan institusi yang terus melakukan penelitian ilmiah untuk mencari energi alternatif lain. Ada juga yang menginginkan penggunaan tenaga angin ataupun sinar matahari karena dinilai lebih ramah lingkungan.
Terlepas dari itu semua, sebagai individu kita tetap bisa berperan penting. Kita harus mengencangkan ikat pinggang dan mengurangi pemborosan serta menggunakan barang dan jasa secara lebih bijak sesuai daya guna agar tidak mubazir.
Sebagai respon penurunan rasio surplus energi, tren gaya hidup minimalis juga semakin berkembang karena dinilai lebih murah dan ramah lingkungan. Mungkinkah tren hidup minimalis akan semakin berkembang di masa depan?
Bagian V: Dampak Penurunan Surplus Energi Pada Kesejahteraan Masyarakat: Penghasilan Riil dibawah Tekanan
Kita ambil contoh di Inggris yang mempunyai data yang lebih lengkap dan dapat diandalkan. Berdasarkan fakta yang penulis baca dari laman berita diatas, dijelaskan bahwa selama tahun 2008-2013 rata-rata penghasilan tahunan di Inggris telah meningkat setara 6,25%, sedangkan biaya hidup bulanan telah meningkat rata-rata sebanyak 25%.
Ini berarti dalam kurun waktu 5 tahunan biaya hidup bulanan disana telah meningkat sebanyak 4 kali lipat daripada kenaikan penghasilan tahunan disana.
Oleh karena itu, kita mungkin saja sedang menuju kemunduran ekonomi. Kebutuhan pokok kita mungkin masih kita dapat beli tetapi sisa uang yang dapat kita tabung dan membangun aset akan semakin menyusut, belum lagi inflasi yang siap menggerogoti daya beli uang kita.
Akhir Dari Era Kemamuran?
Kita telah membahas bahwa Rasio EROEI semakin menurun dari waktu ke waktu. Pertumbuhan riil ekonomi mungkin saja telah berakhir beberapa tahun yang lalu. Ketika energi semakin mahal untuk diperoleh, maka potensi kemakmuran kita akan semakin berkurang, inilah poin dimana pertumbuhan ekonomi telah berakhir.
Hal ini tercermin dari naiknya biaya hidup kita. Semua sektor ekonomi tentu akan terkena dampak dari penurunan rasio surplus energi. Jika rasio ini terus menurun maka untuk liburan mewah ke Paris, membeli rumah mewah, mengendarai mobil mewah, makan-makan di restorah mewah ataupun menghabiskan waktu minggu sore di klub golf, jika surplus energi semakin menurun maka itu semua hanya akan menjadi impian dan berakhir.
Apa Dampak Penurunan Surplus Energi Kepada Kesejahteraan Masyarakat?
Penulis sendiri yang sangat tertarik pada topik kesenjangan ekonomi dan kemiskinan, tentu sangatlah khawatir tentang masalah ini.
Saat biaya hidup yang semakin meningkat maka akan semakin sedikit sisa penghasilan kita yang dapat ditabung untuk investasi masa depan kita agar kita bisa mengakumulasi kapital untuk membangun aset.
Untuk lari dari kemiskinan kita harus memiliki aset. Akumulasi kapital untuk membangun aset dapat terjadi jika kita memperbanyak tabungan dan investasi untuk masa depan.
Merosotnya surplus energi tentu menjadi tantangan untuk orang-orang yang hanya memiliki sedikit aset untuk membangun kekayaan. Kondisi ini tentu akan menyebabkan mereka selalu bergantung kepada gaji bulanan.
Gaji bulanan mereka tentu hanya akan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang semakin mahal. Oleh karena itu, mereka yang tidak memiliki aset maka kemungkinan besar akan terus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya.
Disinilah penulis selalu berharap agar setiap negara dapat menerapkan konsep negara kesejahteraan untuk pemerataan kemakmuran, agar kita semua dapat meminimalisir dampak negatif dari penurunan surplus energi.
Bagian IV: Penyebab Menurunnya Rasio Energi Surplus
Menurunya surplus energi dapat dijelaskan oleh prinsip low-hanging fruit dalam ilmu ekonomi. Prinsip ini menjelaskan bahwa kita cenderung memetik buah yang tergantung lebih rendah karena hanya diperlukan usaha yang lebih sedikit untuk meraih buah tersebut.
Namun, jika kita terus menerus memetik buah-buah yang tergantung lebih rendah, maka lama kelamaan jumlah buah yang tergantung lebih rendah tersebut akan semakin menipis, sehingga kita harus mengerahkan tenaga yang lebih besar lagi untuk memetik buah yang tergantung lebih tinggi lagi.
Saat ini, kita telah mengebor minyak dari sumber terdekat dari tempat kita (kita telah memetik buah cheri yang tergantung lebih rendah di pohon yang letaknya paling dekat dengan rumah kita).
Bandingkan antara sumur minyak Drake di Pennsylvania, Amerika Serikat dengan kedalam 21 meter dengan cadangan minyak yang berada pada kedalaman 5.500 meter di Teluk Mexico, sumber manakah yang akan memerlukan biaya yang tinggi untuk memperoleh minyaknya?
Berdasarkan konsep kebun cheri, sumur minyak Drake disebut juga sebagai buah cheri yang tergantung lebih rendah di pohon terdekat dari rumah kita. Sedangkan cadangan minyak di teluk Mexico adalah buah cheri yang tergantung lebih tinggi di pohon yang letaknya lebih jauh dari rumah kita.
Seiring berjalannya waktu, lama kelamaan mau tidak mau kita harus berusaha lebih keras lagi untuk memetik buah cheri yang tergantung lebih tinggi di pohon yang terletak lebih jauh dari rumah peradaban kita.
Mungkinkah kita akan mengebor minyak hingga ke Antartika yang terpencil disana?
Bagian III: Ancaman Ekonomi yang Sebenarnya: Penurunan Rasio EROEI yang Membuat Surplus Energi Menurun
Jadi, seiring berjalannya waktu biaya investasi untuk menghasilkan bahan bakar akan semakin meningkat dengan jumlah output yang tetap atau tidak berubah.
Hal ini tentu memicu terjadinya penurunan produktivitas perekonomian yang mengakibatkan melesunya ekonomi secara bertahap. Tidak heran jika biaya hidup kita semakin meningkat dari tahun ke tahun serta melemahnya daya beli uang kita.
Penelitian menunjukkan bahwa rasio EROEI global terus menurun dari angka 100:1 pada 1930-an, lalu menurun lagi menjadi 18:1 pada 1990. Bahkan hingga hari ini nilai rasionya menjadi hanya 3:10?
Inilah mengapa biaya energi semakin mahal dari tahun ke tahun. Ini berarti akan semakin mahal biaya yang kita harus keluarkan untuk menggerakkan perekonomian, tentunya ini akan berefek pada kenaikan berbagai macam harga kebutuhan pokok dan biaya hidup.
Akibatnya, produktivitas perekonomian semakin menurun dan stagnasi ekonomi pun tak terhindarkan. Ada kemungkinan peradaban modern akan balik lagi ke zaman berburu lagi karena surplus energi yang semakin menyusut.
Lalu, mengapa surplus energi kita semakin menurun dari waktu ke waktu?
Bagian II: Memahami Rasio EROEI Sebagai Determinan Surplus Energi
Nilai Surplus Energi Masing-masing Jenis Sumber Energi (Semakin ke Kanan Semakin Tidak Efisien)
Sumber: euanmearns.com
Setelah kita memahami apa itu surplus energi, Sekarang kita mengenal lebih dekat lagi tentang Rasio EROEI, rasio inilah yang menentukan seberapa besar surplus energi yang terjadi. Agar kita mempunyai perspektif yang lebih luas kita anggap saja bahwa Rasio EROEI = Rasio Surplus Energi = Surplus Energi.
Selama ini para ekonom hanya sibuk membicarakan pertumbuhan ekonomi, jumlah PDB, jumlah utang negara, defisit neraca perdagangan, inflasi, stimulus maupun sisa cadangan minyak bumi.
Padahal, yang menjadi akar masalah dari perekonomiam adalah perbedaan antara jumlah energi yang dihasilkan dengan energi yang dikonsumsi untuk menghasilkan energi.
Hal inilah yang dimaksud sebagai Rasio EROEI (Energy Return on Energy Invested) Rasio inilah yang menjadi kunci dari pembangunan ekonomi dan penciptaan kekayaan ekonomi kita.
Mari kita pahami lebih dalam cara kerja rasio ini. Rasio EROEI disebut juga sebagai net energy. Jika rasio ini bernilai 100:1, Ini berarti jika kita mengirim satu unit energi sebagai input maka kita akan mendapatkan seratus unit energi sebagai output. Seratus unit lah yang disebut sebagai surplus energi yang akan menggerakkan perekonomian.
Semakin tinggi nilai Rasio EROEI, maka semakin tinggi surplus energinya, maka semakin makmur perekonomian tersebut.
Pada awal abad 20-an, Rasio EROEI bernilai tinggi, sehingga pada masa itu perekonomian dunia sangatlah berkembang pesat, dan dijuluki sebagai Heyday in the first half of the 20th century.
Akankah nilai rasio ini tetap tinggi hingga ke generasi berikutnya?
Bagian I: Surplus Energi Sebagai Kunci Awal Perkembangan Peradaban Manusia
Pengantar
Pada artikel ini dan lima artikel berikutnya, penulis ingin menjelaskan apa yang sebenarnya menggerakkan perekonomian kita dan apakah penggerak itu akan terus mampu menggerakkan ekonomi kita? Penulis membagi pembahasan ini secara terpisah-pisah dalam 6 artikel agar bisa dijelaskan secara lebih komprehensif dan berurutan. Sebelumnya, mari kita pahami dulu apa itu surplus energi.
Surplus Energi Sebagai Kunci Awal
Selama ini yang kita ketahui bahwa yang menjadi kunci pembangunan ekonomi dan peradaban manusia adalah investasi modal ataupun inovasi. Namun ternyata, pembangunan ekonomi dan peradaban manusia dimulai dari adanya surplus energi.
Menurut Tim Morgan dalam bukunya Life After Growth bahwa Sistem Perekonomian secara fundamental yaitu sebuah sistem energi. Kita berasumsi bahwa energi hanya berkontribusi kecil dalam perekonomian. Padahal, energilah yang menjadi pusat penggerak ekonomi yang sesungguhnya.
Surplus energi adalah keadaan dimana output energi selalu lebih besar daripada hasil inputnya. Output energi inilah yang digunakan untuk menjalani roda perekonomian yang selanjutnya berperan untuk kesejahteraan manusia. Jika rasio energi surplus tinggi maka perekonomian akan makmur.
Pada awal sejarah umat manusia, surplus energi tidak ada. Pada masa itu, manusia masih berburu dan mengumpulkan makanan serta hidup secara nomaden. Energi yang mereka keluarkan keluarkan untuk berburu makanan sama dengan energi yang mereka dapatkan dari makanan hasil buruan.
Dikarenakan tidak ada surplus energi maka waktu dan tenaga mereka hanya habis untuk berburu makanan. Alhasil, tidak ada pembangunan peradaban, tidak ada waktu untuk liburan, tidak ada pembangunan ekonomi, dan tidak ada kelompok sosial tertentu.
Surplus energi pertama kali terjadi pada saat ditemukannya metode pertanian. Metode pertanian membuat hasil panen melimpah, sehingga manusia tidak perlu lagi mengerahkan energi dalam jumlah yang besar untuk menghasilkan makanan.
Ketergantungan pada berburu berkurang drastis, sehingga manusia mempunyai lebih banyak waktu untuk memproduksi barang-barang lain sebagai penunjang hidup.
Saat peradaban manusia yang semakin maju dan meningkatnya populasi, terjadi terobosan lagi yaitu penemuan mesin dan sumber energi baru berupa batu bara dan minyak bumi.
Penemuan tersebut telah menaikkan derajat umat manusia dan menghantarkan kita kepada tingkat kesejahteraan dan kekayaan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Semua intinya adalah produktivitas. Bagaimana kita dapat melakukan lebih sedikit dengan hasil yang lebih banyak.
Friday, 11 September 2020
Pentingnya Perencanaan Keuangan: Belajar dari Kasus Penyanyi Pinkan Mambo
Perencanaan keuangan mungkin terdengar sepele untuk sebagian besar orang. Mereka berpikir bahwa perencanaan keuangan tidak perlu diterapkan, karena mereka selalu berprinsip "nanti rezeki mah ada aja".
Dengan adanya perencanaan keuangan yang matang kita dapat mengantisipasi bencana keuangan yang akan datang kapan saja. Kita juga tidak perlu repot-repot mencari dana ketika kita membutuhkannya, karena kita telah merencanakan sebelumnya dari jauh-jauh hari.
Kita bisa belajar dari kasus artis atau penyanyi Pinkan Mambo yang populer pada tahun 2000-an. Pada masa jayanya, beliau mendapat penghasilan puluhan juta sekali manggung dan dapat mengantongi ratusan juta setiap bulannya.
Mobil Toyota Alphard yang berharga miliaran pun sanggup dibeli, beliau juga cukup royal kepada teman-temannya. Pinkan sampai berkata bahwa belum puas mentraktir temannya serta berbelanja jika uangnya belum habis.
Saat belantika musik Indonesia yang meredup akhir-akhir ini dan terjadinya pandemi, telah membuat artis-artis dan selebriti sepi job, termasuk Pinkan Mambo yang tidak manggung lagi selama bertahun-tahun, padahal, menyanyi adalah pemasukan utamanya.
Pinkan harus memutar otak untuk tetap bertahan dengan berjualan gorengan, beliau juga dikejar-kejar debt collector yang menagih hutangnya lebih dari Rp 100 juta.
Pertanyaannya, kemana larinya uang-uang Pinkan yang telah didapat saat masa jayanya itu?
Padahal jika saja saat masa jayanya Pinkan telah menerapkan perencanaan keuangan, maka sekarang Pinkan akan tetap hidup sejahtera seperti masa jayanya dan tidak perlu banting setir menjadi penjual gorengan yang hanya untung sekitar Rp 10.000 per hari. Terdengar bahwa beliau harus mulai dari nol lagi, yang tentu saja akan sangat berat.
Jika kita berpikir uang untuk dihabisi, berapapun yang kita dapatkan tentu akan habis. Kita harus ingat bahwa sebagian uang kita harus tetap ditabung dan diinvestasikan untuk membangun aset untuk pemasukan di masa depan. Apakah kamu masih mau bekerja saat usia pensiun nanti?
Perlu diingat bahwa yang terpenting adalah bukan seberapa besar penghasilan kita. Yang paling penting justru berapa rasio uang yang dapat kita tabung dari penghasilan kita dan investasikan kembali untuk menghasilkan uang dan membangun aset. Kuantitas memang penting namun bukan yang utama.
Satu lagi, penulis heran kemana ya teman-teman Pinkan yang dulu sering ditraktir?
Kenapa tidak membantu Pinkan saat kesulitan ekonomi?
Tuesday, 8 September 2020
English: Economic Inequality: Struggle Between Two Economic Classes of Wealthy Bourgeoisie and Proletariat by Karl Marx
Labors and workers demonstrations for a decent wage still have continued until today. They feel that they have been paid inadequate amount of money. On the other hand, the owners of the company where they work are getting richer.
Overpopulation problem also makes the workforce become more abundant, this of course leads to the decreasing wage level and making the living costs rising.
The increasing number of the unemployment rate is also inevitable due to the limited absorption of labor. Even though a worker has qualified skills, good work experience, and higher education, it wouldn't help at all when they got laid off.
Some economists have contended that the condition of full-employment is almost impossible so that the unemployment will always take place. Consequently, there are vast swaths of workers who usually do not own the means of production, are always prone to falling below the poverty line.
Furthermore, the development of technology has also reduced the demand for labor, so that the unemployment rate have been expected to continue to rise. The rising number of unemployment would definitely lead to the rising economic inequality.
This condition had been predicted in the 19th century by Karl Marx. He strongly believed that history is always filled with struggles of economic classes between the owners of capital or the bourgeoisie and the workers or the proletariat.
Causes of the Creation of Communism
Karl Marx argued that capitalism would always be detrimental to the proletariat, he further argued that the bourgeoisie were always less willing to pay a decent wage to their workers, beside that they would always take more profits generated from the surplus-value that created by its workers. Consequently, the workers would always stay poor.
Therefore, Marx was intending to create a classless society in which the means of production or capital to have been owned communally by all groups of people so that there would be no more oppression to the proletariat. As a result, they all can live in prosperity.
Firstly, you need to understand that the means of production is also referred to as capital stock or assets. Factories, shops, stock portfolios and even a rented house are also the means of production. In essence, anything that generates passive income for the owner of the capital is often referred to as the means of production.
Capitalism was also born from an obsolete traditional economic system which only had benefited kings and aristocrats. Marx had argued that one day capitalism would have collapsed and evolving again because this ideology was also born to replace the previous obsolete ideology, so that one day capitalism would be likely to evolve again, probably towards communism or socialism.
In capitalism, almost every worker, even a skilled worker, is susceptible to fall below the poverty line. It is really difficult for them to accumulate capital to buy the means of production. Their low wages and rising cost of living have discouraged their hope. As a result, when they lost their jobs they also lost income.
Therefore, Marx was proposing that the transition of society from capitalist to communism should be occuring soon. In communism, the ownership of the factors of production is distributed equally among all levels of society, this is also widely known as from each according to his abilities to each according to his needs. In 1848, Marx and Engels eventually published the Communist Manifesto. The book's first sentence said: "Ghosts were looming over Europe." This terrifying phrase was intended to have frightened the bourgeoisie.
When the ownership of the factors of production is distributed equally, workers who lost their jobs could still enjoy the results of production, so they could still live adequately.
In fact, today's world population have been increasing drastically and majority of them are proletarians who have no factors of production. As a result, many of those who have only relied on monthly wages, will find it difficult to get out of poverty.
To fix the worsening economic inequality, several countries, especially in Western Europe and Scandinavia, have begun to implement socialist economies or also widely known as the welfare state. This modern concept is more appropriate to be applied today, because socialism also upholds democracy and freedom for its people. Compared to communism, which is usually run in authoritarianism.
In socialist countries, economic wealth is likely to be more equally distributed among all groups of people. Equal economic rights are also provided to all levels of society. Vast numbers of government programs are run to benefit low income workers. People in socialist countries have little incentive to accumulate large amount of wealth because their health and pensions are guaranteed by the state.
As a result, the country's total wealth is more equally distributed, especially in Scandinavia (10% of the rich owns 65% of the country's total wealth) compared to the more capitalist USA (1% of the rich owns 40% of the country's total wealth).
Henceforth, when would possibly majority of countries implement welfare state?
Sunday, 6 September 2020
Kesenjangan Ekonomi: Pertentangan Antara Kaum Borjuis dan Kaum Proletar oleh Marx
Demo buruh dan pekerja demi upah yang layak terus terjadi. Mereka merasa dibayar dengan upah yang kurang memadai. Di lain sisi sang pemilik perusahaan tempat mereka bekerja justru semakin kaya raya.
Kepadatan penduduk yang semakin meledak juga membuat tenaga kerja semakin melimpah, hal ini tentu menyebabkan tingkat upah semakin menurun dan membuat biaya hidup semakin naik.
Merebaknya angka pengangguran juga tak terelakkan karena terbatasnya penyerapan tenaga kerja. Walaupun seorang pekerja mempunyai skill yang mumpuni, pengalaman kerja yang bagus, serta pendidikan yang tinggi, rasanya tidak ampuh lagi saat mereka terkena PHK.
Beberapa ekonom berpendapat bahwa keadaan full-employment sangatlah mustahil sehingga pengangguran akan selalu ada. Oleh karena itu banyak sekali kaum pekerja yang biasanya tidak memiliki faktor produksi yang rentan jatuh miskin.
Disamping itu, berkembangnya teknologi juga membuat kebutuhan tenaga kerja semakin sedikit, sehingga angka pengangguran diperkirakan akan terus naik. Merebaknya angka pengangguran tentu membuat kesenjangan ekonomi semakin menggila.
Keadaan ini telah diramalkan jauh sebelumnya pada abad ke-19 oleh Karl Marx. Beliau percaya bahwa pada hakikatnya sejarah dipenuhi oleh berbagai macam pertentangan kelas antara pemilik modal atau kaum borjuis dengan kaum pekerja atau kaum proletar.
Latar Belakang
Karl Marx menganggap bahwa sistem ekonomi kapitalisme telah merugikan kaum proletar, beliau berargumen bahwa kaum borjuis selalu memberi upah dibawah standar dengan mengambil keuntungan yang dihasilkan dari nilai lebih yang diciptakan oleh pekerjanya. Akibatnya, para kaum proletar akan terus mengalami kesulitan ekonomi.
Oleh karena itu Marx berniat untuk mewujudkan masyarakat tanpa kelas dimana faktor produksi atau modal dimiliki secara komunal oleh semua kalangan supaya tidak ada lagi penindasan kepada kaum proletar. Alhasil, mereka semua akan hidup sejahtera.
Perlu dipahami bahwa faktor produksi juga bisa disebut sebagai modal, kapital atau aset. Faktor produksi bisa berupa pabrik, toko, portofolio saham dan bahkan rumah kontrakan. Intinya, segala hal yang dapat menghasilkan passive income bagi pemiliknya maka itu disebut sebagai faktor produksi.
Kapitalisme juga lahir dari sistem ekonomi tradisional yang sebelumnya hanya menguntungkan raja dan bangsawan. Marx berargumen bahwa kapitalisme suatu saat akan hancur atau berevolusi lagi karena ideologi ini juga lahir untuk memperbaiki ideologi sebelumnya, sehingga suatu hari kapitalisme juga akan berevolusi lagi, tepatnya ke arah komunisme atau sosialisme.
Dalam kapitalisme, hampir setiap pekerja bahkan yang berskill sekalipun rawan jatuh ke dalam kemiskinan. Sangat sulit bagi mereka untuk mengakumulasi kapital untuk memiliki faktor produksi. Upah mereka yang rendah serta biaya hidup yang semakin tinggi telah mengubur harapan mereka. Akibatnya, saat mereka kehilangan pekerjaan mereka juga kehilangan pemasukan.
Untuk itulah Marx mengajukan agar transisi masyarakat dari kapitalis ke komunisme dapat terjadi. Dalam komunisme, kepemilikan faktor produksi dibagi rata ke seluruh lapisan masyarakat, hal ini disebut juga sebagai sama rasa sama rata. Pada tahun 1848, Marx bersama Engels menerbitkan Communist Manifesto. Kalimat pertama buku ini berbunyi: "Hantu sedang membayangi Eropa". Kalimat menakutkan ini ditujukan untuk menakuti kaum borjuis.
Saat kepemilikan faktor produksi dibagi rata, pekerja yang kehilangan pekerjaan tetap dapat menikmati hasil produksi, sehingga mereka tetap bisa hidup layak.
Realitanya, pada hari ini jumlah penduduk dunia semakin meningkat dan mayoritas dari mereka adalah kaum proletar yang tidak memiliki faktor produksi. Alhasil, banyak dari mereka yang hanya mengandalkan upah bulanan akan mengalami kesulitan untuk keluar dari jeratan kemiskinan.
Untuk memperbaiki kesenjangan ekonomi yang semakin parah, beberapa negara terutama di Eropa Barat dan Skandinavia mulai menerapkan sistem ekonomi sosialisme atau lebih populer dengan istilah negara kesejahteraan. Ideologi ini lebih layak untuk diterapkan pada masa sekarang, karena sosialisme juga menjunjung demokrasi dan kebebasan untuk rakyatnya. Bandingkan dengan komunisme yang biasanya dijalankan secara otoritarianisme atau otoriter.
Di negara-negara sosialis kekayaan ekonomi lebih terdistribusi secara merata untuk seluruh kalangan. Persamaan hak ekonomi juga diberikan untuk semua lapisan masyarakat. Banyak program pemerintah dijalankan untuk kesejahteraan kaum pekerja. Masyarakat negara sosialis merasakan insentif yang kecil untuk mengakumulasi kekayaan karena kesehatan dan uang pensiun mereka telah dijamin negara.
Alhasil kesenjangan ekonomi di negara-negara tersebut lebih kecil, terutama di Skandinavia (10% orang kaya memegang 65% kekayaan) dibandingkan Amerika Serikat yang cenderung kapitalis (1% orang kaya memegang 40% kekayaan).
Lalu, kapankah mayoritas negara menerapkan sosialisme?















