Friday, 12 June 2020

Ekonomi Jepang yang Terus Mandek Akibat Gelembung Ekonomi 


Sumber: en.m.wikipedia.org
Keterangan: Bahkan hingga hari ini di tahun 2020, Indeks Nikkei 225 belum pernah lagi mencapai titik tertingginya pada tahun 1989. 



Penduduk Jepang dikenal sebagai pekerja keras, kualitas produk mereka juga tidak perlu diragukan lagi, bahkan sampai ada jargon “Japan Quality” sebagai strategi pemasaran mereka. Kualitas hidup di Jepang juga termasuk yang tertinggi di dunia. Tetapi, memasuki tahun 1990-an bahkan hingga hari ini Ekonomi Jepang mengalami stagnasi yang berkepanjangan. Deflasi terus terjadi dan suku bunga mereka bertahan di minus 0.1%.


Kenapa dan bagaimana negara sekelas Jepang yang penduduknya dikenal sangat pekerja keras serta berotak cerdas, dapat mengalami resesi dan stagnasi ekonomi yang berkepanjangan? 

Awal Kejadian
Ekonomi Jepang mengalami pertumbuhan yang amat spektakuler selama paruh kedua abad 20. Selama masa itu, banyak pihak yang sangat percaya diri bahwa perekonomian Jepang akan terus tumbuh. Spekulasi skala masifpun tak terhindarkan. Indeks pasar saham Jepang yaitu Nikkei 225, mengalami kenaikan yang sangat pesat dari dekade 1970-an hingga 1980-an. Selama periode ini ekspansi suplai uang dan kredit tidaklah dikontrol dengan baik. Perusahaan dan orang-orang mulai menyerbu pasar saham karena harganya terus menanjak. Banyak bank di Jepang yang memberi pinjaman secara agresif tanpa memperhatikan kualitas peminjamnya lantaran terbawa arus akibat terlalu optimis, disamping itu banyak perusahaan yang lebih mengandalkan pinjaman bank dari pada menerbitkan saham baru karena suku bunga pinjaman yang dinilai rendah, hal ini tentunya turut memicu naiknya harga-harga saham. 

Banyak bank yang menjaminkan aset properti sebagai jaminan pinjaman, sehingga harga properti  juga ikut menanjak. Masyarakat dan perusahaan pun mulai membeli properti sebagai investasi. 

Sayangnya, ekonomi Jepang justru dimotori oleh gelembung aset sehingga harga saham terus menanjak gila-gilaan. Menurut ekonom Fumio Hayashi dan Edward Prescott, gelembung harga aset tanpa peningkatan produktivitas agregat yang berarti, ekonomi Jepang menjadi sangat rentan. Gelembung Ekonomi Jepang terjadi antara tahun 1986 hingga 1992 dan mulai pecah pada akhir 1989.

Indeks Nikkei 225 mulai meningkat pesat pada tahun 1983 yang berada di level 8870, menjadi 38.958 pada 29 Desember 1989 (Apresiasi 340% hanya dalam waktu 6 tahun). Setelah periode kenaikan pesat, gelembung akhirnya meledak. Indeks Nikkei 225 anjlok drastis hingga mencapai level 15.952 pada 31 Maret 1992 (Pelemahan hingga minus 59%). Bahkan hingga hari ini di tahun 2020, Indeks Nikkei belum pernah lagi mencapai titik tertingginya di tahun 1989 saat gelembung meledak (Per Juni 2020, indeks Nikkei masih bergerak di level 22.300-an). Harga properti juga mengalami penurunan yang signifikan pada 1992, yaitu jatuh hingga minus 15,5%.


Penyebab Jatuhnya Ekonomi Jepang dan Meledaknya Gelembung Ekonomi 
Pertama, Peran dunia perbankan. Semasa periode pertumbuhan ekonomi yang spektakuler suku bunga bank-bank di Jepang terus menurun. Bank-bank juga mengindahkan kehati-hatian dalam memberikan pinjaman. Banyak pinjaman bank yang dikucurkan kepada pihak yang kurang layak untuk mendapatkan pinjaman, walaupun pada akhirnya mereka harus menyediakan aset properti sebagai jaminan. Peraturan untuk memperoleh pinjaman juga terus dipermudah. Saat suku bunga rendah, syarat pinjaman yang mudah, pertumbuhan ekonomi yang tinggi serta harga saham dan properti yang terus menanjak, Spekulasi dan gelembung ekonomi pun tak terelakkan. Pada 1989, Ekonomi Jepang mulai overheating, sehingga Bank sentral Jepang harus meredam Gelembung ekonomi dan inflasi dengan menaikkan tingkat suku bunga antar bank dan mengurangi suplai uang. Kebijakan ini akhirnya membuat gelembung pecah, dan harga-harga aset mulai anjlok. Banyak pihak yang investasinya merugi sehingga tidak dapat melunasi hutangnya. Akibatnya, banyak aset properti yang disita. Di samping itu, Bank of Japan terus menaikkan suku bunga, sehingga harga properti juga mulai mengalami penurunan pada 1991.  Banyak bank yang mengalami insolvensi dikarenakan aset properti nasabah mereka yang dijadikan jaminan mengalami penyusutan nilai. Akibatnya, Nilai aset bank pun terus menurun sehingga harus di bailout dan menjadi ketergantungan dengan suntikan hutang agar tetap beroperasi. Kepercayaan masyarakat kepada bank pun menurun, sehingga jumlah tabungan bank terus tergerus. 

Kedua, Perjanjian Plaza Accord. Perekonomian Jepang sangat bergantung kepada surplus ekspornya. Oleh karena itu, neraca perdagangannya selalu surplus. Akibatnya, Yen Jepang terus terdepresiasi terhadap Dollar Amerika, produk Jepang pun semakin kompetitif. Pada 1985, perjanjian antara negara maju terutama Jepang dan Amerika Serikat yaitu Plaza Accord dibentuk. Perjanjian ini bertujuan untuk mengurangi ketidakseimbangan neraca perdagangan antar negara. Setelah perjanjian ini dibentuk, nilai Yen Jepang terapresiasi terhadap Dollar Amerika, dari JPY 238 per Dollar pada 1985, menjadi JPY 165 per Dollar pada 1986 (Apresiasi 42,24%). Akibat apresiasi Yen yang signifikan, produk-produk Jepang menjadi kurang kompetitif. Perusahaan Jepang pun mulai mengalami penurunan penjualan. Apresiasi Yen Jepang ternyata membawa dampak yang lebih buruk lagi. Banyak spekulan yang memborong yen Jepang, sehingga yen terus mengalami apresiasi. Perekonomian Jepang yang mengandalkan sektor ekspor tentu mengalami pukulan yang keras. 

Ketiga, Persaingan yang Semakin Ketat dari Negara Rival. Memasuki dekade 1990-an, pangsa pasar industri andalan Jepang yaitu industri semikonduktor, mulai digerogoti oleh saingan-saingan baru dari Korea Selatan, Taiwan, dan Amerika Serikat. Memasuki dekade 2000-an, bangkitnya Tiongkok sebagai raksasa manufaktur dunia turut memperberat ekonomi Jepang untuk bersaing. Pada dekade 2010-an, Tiongkok telah menggeser posisi Jepang sebagai negara dengan perekonomian kedua terbesar di dunia. PDB Jepang pun cenderung stagnan bahkan terus menurun hingga hari ini. Sedangkan PDB Tiongkok justru terus tumbuh pesat meninggalkan PDB Jepang jauh kebawah.

Keempat, Jepang memasuki masa Aging Population. Selama dekade 1950-an hingga 1980-an, komposisi penduduk produktif Jepang sedang tinggi-tingginya mereka juga memiliki sumber daya manusia yang berkualitas tinggi, tak heran jika pertumbuhan ekonomi mereka bertumbuh pesat pada masa itu. Memasuki dekade 1990-an, Jepang memasuki masa aging population. Jumlah penduduk manula mereka terus bertambah, sedangkan penduduk muda yang menggerakkan perekonomian justru terus menurun. Hal ini berakibat pada membengkaknya anggaran untuk membiayai benefit sosial penduduk lansia. Akibatnya, perekonomian Jepang pun sulit untuk bangkit kembali. Tingkat kelahiran mereka juga sangat rendah, hanya 1.42 kelahiran per perempuan (Data tahun 2018). Hingga 2018, komposisi penduduk diatas 65 tahun berada di angka 27,58%, dan diprediksi akan terus meningkat hingga mencapai sepertiga populasinya pada 2050. 

Efek-Efek Meledaknya Gelembung Pada Perekonomian
Setelah gelembung ekonomi meledak pada akhir 1980-an, Jepang memasuki masa resesi serta mengalami stagnasi ekonomi yang panjang dan suram hingga tahun 2001, sehingga disebut Lost Decade. Bahkan ada yang berpendapat bahwa resesi terjadi hingga 2010, sehingga dijuluki the Lost 20 Years. Meledaknya gelembung ekonomi mulai berdampak pada perekonomian pada 1995, PDB Jepang jatuh dari US$ 5,33 Triliun pada 1995, menjadi US$ 4,36 Triliun pada 2007.

Dari 1991 hingga 2003, PDB mereka juga hanya tumbuh sebesar 1,14% per tahun. Padahal, selama dasawarsa 1970-an pertumbuhan ekonomi mereka mencapai hingga dua digit per tahun. Negara ini juga mengalami deflasi yang berkepanjangan dan upah riil jatuh sekitar 5%. 

Akibat resesi yang berlarut, Masalah capital flight pun terjadi, banyak perusahaan Jepang yang memilih berinvestasi ke luar negeri. Hal ini tentu menggerogoti produktivitas perekonomian dan menurunya lapangan kerja.

Konsumsi rumah tangga pun menurun karena berlarutnya resesi dan penurunan harga aset. Banyak rumah tangga dan perusahaan yang lebih memilih untuk menyimpan uang cash dalam jumlah yang besar serta mengurangi konsumsi dan investasi. Inilah yang disebut sebagai masalah liquidity trap. Akibatnya, masalah deflasi pun tak terhindarkan dan turut memperparah kondisi resesi.

Banyak perusahaan yang nilai asetnya menyusut sehingga kewajibannya meningkat. Hal ini disebut juga sebagai Balance Sheet Recession. Sebelumnya, Mereka sangat positif dengan outlook perekonomian, sehingga mereka berhutang secara agresif untuk berinvestasi. Saat gelembung meledak, mereka mengalami kerugian yang signifikan. Banyak perusahaan yang terjebak hutang terpaksa fokus untuk membayar hutangnya, serta mengurangi belanja dan investasi. Akibatnya, lapangan kerja semakin menurun dan ekonomi mandek.

Selama masa resesi yang berkepanjangan, Rasio kredit macet  juga terus meningkat secara signifikan, sehingga banyak bank yang mengalami kerugian yang cukup besar. Akibatnya, mereka harus di bailout oleh pinjaman pemerintah dan bank sentral, perusahaan-perusahaan zombie pun bermunculan. Mereka terus menerus ketergantungan dengan hutang agar tetap beroperasi, mereka terlalu besar untuk gagal. Yalman Onaran dari Bloomberg News mengatakan bahwa membailout perusahaan atau bank zombie terus menerus adalah salah satu penyebab stagnasi berkepanjangan pada ekonomi mereka. Hal ini berkibat pada hutang Jepang yang terus meningkat hingga lebih dari 200% dari jumlah PDB nya.

Masalah credit crunch juga tak terelakkan, Banyak bank yang mulai memperketat syarat-syarat pinjamannya. Padahal, pinjaman bank dan pengambilan risiko adalah darah kehidupan perekonomian.


Upaya-upaya Pemerintah Jepang untuk Memperbaiki Ekonomi 
Pada 1993, pemerintah Jepang mencoba untuk menggerakkan ekonomi dengan meningkatkan belanja. Hal ini bertujuan untuk merangsang permintaan dan mendorong konsumsi. Kebijakan tersebut mulai berhasil, namun pada 1998, konsumsi domestik justru menurun karena banyak pihak yang masih pesimis dengan ketidakpastian ekonomi, sehingga mereka lebih memilih untuk menabung. Akibatnya, defisit anggaran pemerintah justru tambah membengkak karena tidak berhasil merangsang ekonomi atau konsumsi.

Pemerintah juga terus menurunkan suku bunga dari 2% menjadi 0,05% pada 1998 agar ekonomi kembali bangkit. Pertumbuhan PDB mereka pun mulai bangkit setinggi 3% pada 2000. Bagaimanapun juga, terus menurunkan suku bunga justru tidaklah efektif, karena dapat menurunkan jumlah tabungan yang justru sangat berbahaya untuk  perekonomian. Menurunkan suku bunga sama saja dengan hanya mengobati akibat dan bukan penyebab.

Saat Shinzo Abe menjabat sebagai perdana menteri, beliau juga mengeluarkan beberapa paket kebijakan ekonomi yang biasa disebut sebagai Abenomics, seperti kebijakan quantitative easing, meningkatkan government spending, dan deregulasi bisnis. 

Penutup
Ada pelajaran yang dapat diambil dari krisis ekonomi Jepang. Yaitu, kita harus menyadari bahwa betapa dahsyatnya dampak dari spekulasi dan gelembung ekonomi yang ternyata sanggup menenggelamkan perekonomian Jepang lebih dari 20 tahun, padahal negara ini memiliki penduduk pekerja keras dan juga sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, penting bagi setiap negara untuk mencegah agar gelembung ekonomi tidak terjadi. Beberapa kebijakan yang tepat untuk mencegah gelembung ekonomi yaitu pemberian kredit yang moderat, regulasi yang moderat, dan kebijakan suku bunga yang juga moderat menyesuaikan keadaan ekonomi. Selain itu, sektor riil harus terus didukung agar lebih produktif. Produktivitas pada sektor riil lah yang justru menjadi penopang utama ekonomi, bukan gelembung harga aset keuangan.

No comments:

Post a Comment